

ANALISASIBERNEWS.COM
Pemkab Bandung Teguhkan Komitmen Pengembangan Energi Bersih di IGCE 2026
JAKARTA – Komitmen Pemerintah Kabupaten Bandung dalam mendukung pengembangan energi bersih dan berkelanjutan kembali ditegaskan melalui kehadiran Bupati Bandung, Dadang Supriatna, pada peresmian pembukaan Konvensi dan Pameran Internasional ke-12 Panas Bumi Indonesia atau Indonesia Geothermal Convention and Exhibition (IGCE) 2026 di Plenary Hall Jakarta Convention Centre, Rabu (19/8/2026).
Forum internasional tersebut mempertemukan pemerintah, pelaku usaha, akademisi, investor, serta berbagai pemangku kepentingan sektor panas bumi. Kehadiran Bupati Bandung menjadi bagian dari komitmen daerah untuk terus mengambil peran dalam pengembangan energi baru dan terbarukan, khususnya energi panas bumi yang menjadi salah satu kekuatan strategis Kabupaten Bandung.

Kabupaten Bandung memiliki potensi panas bumi yang besar, mencapai sekitar 2.711 megawatt (MW). Potensi tersebut tersebar di sejumlah kawasan, antara lain Kamojang, Wayang Windu, Darajat, Patuha, dan Cibuni.
Sebagian potensi tersebut telah dimanfaatkan untuk mendukung sistem kelistrikan nasional, sementara sejumlah wilayah lainnya masih memiliki peluang untuk dikembangkan secara berkelanjutan.
Kamojang, Jejak Sejarah Geothermal Indonesia
Kawasan Kamojang memiliki posisi istimewa dalam sejarah pengembangan panas bumi Indonesia. Pada 1926, pengeboran sumur panas bumi pertama di Indonesia dimulai di kawasan tersebut.
Hampir satu abad kemudian, jejak sejarah itu tetap menjadi bagian penting dari perjalanan energi panas bumi Indonesia. Pemanfaatan geothermal di Kamojang hingga kini terus berlangsung dan menjadi salah satu contoh pengembangan energi terbarukan yang memiliki nilai strategis bagi ketahanan energi nasional.
Selain Kamojang, Kabupaten Bandung juga memiliki kawasan panas bumi Wayang Windu di Pangalengan, Darajat, serta Patuha di kawasan Ciwidey dan Pasirjambu.
PLTP Patuha, misalnya, telah beroperasi sejak 2014 dengan memanfaatkan panas bumi sebagai sumber energi listrik yang relatif bersih dan berkelanjutan.
Besarnya potensi tersebut menempatkan Kabupaten Bandung pada posisi strategis untuk terus berkontribusi dalam agenda transisi energi nasional.
Namun demikian, pengembangan geothermal diharapkan tidak hanya berorientasi pada peningkatan kapasitas energi, tetapi juga memperhatikan keberlanjutan lingkungan, keterlibatan masyarakat, serta manfaat ekonomi bagi daerah.
Bahlil: Transisi Energi Bukan Sekadar Net Zero
Dalam kesempatan tersebut, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) RI, Bahlil Lahadalia, menegaskan pentingnya percepatan transformasi dari energi fosil menuju energi bersih sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan dan kedaulatan energi nasional.
Menurut Bahlil, dinamika geopolitik global menunjukkan bahwa ketergantungan terhadap energi fosil dapat menjadi tantangan bagi ketahanan energi suatu negara. Karena itu, pemerintah terus mendorong berbagai terobosan untuk memperbesar pemanfaatan energi baru dan terbarukan.
“Perubahan atau konversi energi fosil ke energi bersih bukan hanya menuju net zero emission, tetapi untuk meninggalkan warisan bumi yang lebih baik kepada anak cucu kita,” ujar Bahlil.
Ia mengatakan pemerintah terus mendorong peningkatan bauran energi baru dan terbarukan melalui berbagai sumber, mulai dari gas, tenaga surya, panas bumi hingga tenaga air.
Pemerintah juga terus mendorong pengembangan pembangkit listrik tenaga surya secara masif sebagai bagian dari transformasi energi nasional.
Geothermal Perlu Kolaborasi dan Percepatan
Khusus sektor panas bumi, Bahlil menegaskan bahwa Indonesia memiliki sumber daya geothermal yang sangat besar dan menjadi salah satu negara dengan potensi panas bumi terbesar di dunia.
Namun, besarnya potensi tersebut masih membutuhkan percepatan pengembangan melalui penyederhanaan regulasi, pemberian insentif, penguatan investasi, serta kolaborasi antara pemerintah dan pelaku usaha.
“Tidak ada cara lain untuk melakukan percepatan implementasi geothermal supaya bisa menjadi listrik ataupun menjadi energi lain selain dengan kolaborasi antara pengusaha dan regulator (pemerintah),” tegasnya.
Bahlil juga mendorong agar pemanfaatan panas bumi tidak hanya diarahkan untuk pembangkit listrik.
Menurutnya, energi panas bumi dapat dikembangkan untuk memberikan efek berganda terhadap perekonomian, termasuk mendukung sektor industri, pertanian, pengeringan hasil perkebunan, hingga berbagai kegiatan produktif lainnya.
Panas Bumi dan Peluang Ekonomi Baru
Sementara itu, Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi, menyampaikan bahwa momentum 100 tahun pengeboran panas bumi di Kamojang menjadi pengingat penting mengenai besarnya potensi geothermal Indonesia.
“Panas bumi ini nantinya sangat bisa bersaing dengan diesel, sangat bisa bersaing dengan bahan bakar fosil, karena 24 jam bisa menghasilkan listrik,” katanya.
Menurut Eniya, panas bumi merupakan salah satu sumber energi terbarukan yang dapat diandalkan karena mampu menghasilkan listrik secara kontinu.
Pemerintah juga terus membuka peluang pemanfaatan langsung panas bumi untuk berbagai kebutuhan, mulai dari sumber air panas, pengeringan kopi, hingga pemanfaatan mineral ikutan yang terkandung di dalamnya.
Bagi Kabupaten Bandung, besarnya potensi tersebut bukan hanya menjadi modal dalam mendukung transisi energi nasional, tetapi juga membuka ruang bagi lahirnya aktivitas ekonomi baru yang berbasis energi bersih.
Dengan kekayaan panas bumi yang dimiliki, Kabupaten Bandung memiliki peluang untuk memperkuat posisinya sebagai salah satu daerah penting dalam perjalanan Indonesia menuju sistem energi yang lebih bersih, mandiri, dan berkelanjutan.



SUMBER I forwaci group
Editor I Red ASN.com


Tidak ada komentar