

Analisasibernews.com, SANGGAU – Menanggapi eskalasi dampak kemarau panjang yang mulai mengancam ketahanan air domestik, Kepolisian Resor (Polres) Sanggau mengambil langkah taktis humaniter. Sebagai wujud nyata dari manifestasi Polri Presisi, Polres Sanggau beserta seluruh jajaran Kepolisian Sektor (Polsek) menginisiasi pembangunan infrastruktur sumur bor guna mengamankan pasokan air bersih bagi masyarakat terdampak.
Kapolres Sanggau, AKBP Kadek Ary Mahardika, S.I.K., M.H., menginstruksikan seluruh jajaran struktural untuk mengesampingkan pendekatan birokratis dan beralih ke aksi responsif di lapangan. Langkah intervensi ini diambil menyusul penurunan debit air permukaan yang berpotensi melumpuhkan aktivitas sosial-ekonomi warga.
“Polri harus hadir sebagai problem solver yang inklusif saat masyarakat menghadapi fase krusial. Konteks kemarau panjang ini bukan sekadar fenomena iklim, melainkan tantangan nyata terhadap pemenuhan hak dasar hidup masyarakat. Pembangunan sumur bor ini adalah solusi konkret yang dampaknya dapat diakselerasi secara langsung,” ujar AKBP Kadek Ary pada Minggu (6/9/2026).
Pria dengan melati dua di pundak tersebut menegaskan bahwa orientasi dari program ini tidak berhenti pada pembangunan fisik semata (output), melainkan pada keberlanjutan fungsi fasilitas tersebut bagi hajat hidup orang banyak (outcome).

Oleh sebab itu, personel di lapangan juga mengemban misi edukasi guna menggalang kesadaran kolektif (collective awareness) dalam merawat infrastruktur publik. Warga diajak untuk mempraktikkan manajemen air yang bijaksana dan menerapkan prinsip gotong royong dalam pemeliharaannya.
“Kami tidak sekadar membangun fasilitas fisik. Ini adalah investasi sosial untuk mempererat kohesi antara kepolisian dan warga. Melalui interaksi sosiologis yang intensif di lapangan, kami menyerap aspirasi sekaligus mengedukasi masyarakat agar sarana ini dapat digunakan secara berkelanjutan,” tambahnya.
Melalui sinergi pembangunan sumur bor ini, Polres Sanggau tidak hanya memosisikan diri sebagai penjaga keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas), melainkan bertransformasi menjadi katalisator kesejahteraan. Pendekatan humanis dan solutif ini diharapkan mampu memitigasi dampak ekologis kemarau, sekaligus menjadi parameter keberhasilan implementasi pelayanan publik yang prediktif dan responsif. ( Wid )


Tidak ada komentar