

TANGERANG,| AnalisasiberNews.com — Upaya menciptakan lingkungan pendidikan yang aman dan kondusif terus dilakukan jajaran Kepolisian Sektor (Polsek) Mauk, Polresta Tangerang. Salah satunya melalui kegiatan “Polisi Saba Sekolah” yang dilaksanakan di SMP Negeri 1 Kemiri, Kecamatan Kemiri, Kabupaten Tangerang, Rabu (26/8/2026).

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari langkah preventif kepolisian dalam mengantisipasi berbagai potensi gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas), khususnya yang berkaitan dengan kenakalan remaja, aksi tawuran antarpelajar, geng motor, penyalahgunaan narkoba, serta pengaruh negatif lingkungan dan media sosial.
Kegiatan dipimpin langsung oleh Kapolsek Mauk AKP I Nyoman Nariana bersama sejumlah personel Polsek Mauk. Kehadiran polisi di lingkungan sekolah tidak hanya ditujukan untuk menyampaikan imbauan keamanan, tetapi juga membangun komunikasi yang lebih dekat dengan para pelajar dan tenaga pendidik.

Pendekatan tersebut diharapkan mampu menumbuhkan kesadaran sejak dini bahwa menjaga keamanan dan ketertiban merupakan tanggung jawab bersama.
Lingkungan sekolah merupakan salah satu tempat penting dalam membentuk karakter generasi muda. Selain memperoleh pendidikan akademik, para siswa juga mendapatkan pembelajaran mengenai kedisiplinan, tanggung jawab, etika, dan kehidupan sosial.
Karena itu, potensi masuknya pengaruh negatif ke lingkungan pelajar perlu mendapatkan perhatian bersama.
Polsek Mauk melalui program “Polisi Saba Sekolah” berupaya melakukan pencegahan sejak dini dengan menghadirkan personel kepolisian secara langsung di lingkungan pendidikan.
Dalam kegiatan tersebut, jajaran kepolisian memberikan edukasi kepada para siswa agar mampu menjaga diri dan tidak terlibat dalam berbagai tindakan yang dapat merugikan masa depan mereka.
Kepolisian mengingatkan bahwa usia pelajar merupakan masa penting untuk menuntut ilmu dan mengembangkan potensi diri. Karena itu, para siswa diminta tidak mudah terpengaruh ajakan negatif yang dapat membawa mereka pada persoalan hukum maupun konflik antarkelompok.
Kapolsek Mauk AKP I Nyoman Nariana juga memberikan pesan agar para siswa lebih fokus terhadap pendidikan dan menjaga kedisiplinan.

Pesan tersebut menjadi penting di tengah perkembangan teknologi komunikasi dan media sosial yang membuat informasi dapat tersebar dengan sangat cepat.
Salah satu perhatian utama dalam kegiatan tersebut adalah potensi tawuran pelajar.
Fenomena tawuran bukan hanya dapat menimbulkan luka atau kerugian materi, tetapi juga berpotensi membawa konsekuensi hukum bagi pihak-pihak yang terlibat.
Karena itu, para siswa diingatkan untuk tidak mudah percaya terhadap ajakan atau provokasi yang beredar melalui media sosial.
Ajakan berkumpul, tantangan antarkelompok, saling mengejek, maupun penyebaran konten yang memancing emosi dapat menjadi awal munculnya konflik.
Dalam situasi seperti itu, kemampuan siswa untuk menahan diri menjadi sangat penting.
Polisi mengimbau agar setiap pelajar tidak langsung merespons informasi yang belum diketahui kebenarannya. Apabila menemukan konten atau pesan yang berpotensi memicu konflik, siswa diharapkan dapat menyampaikannya kepada guru, orang tua, atau pihak berwenang.
Langkah sederhana tersebut dapat menjadi bagian dari pencegahan sebelum sebuah persoalan berkembang menjadi gangguan keamanan.
Dalam arahannya, Kapolsek Mauk juga mengingatkan para siswa agar setelah kegiatan belajar mengajar selesai dapat segera pulang ke rumah.
Imbauan tersebut merupakan bagian dari upaya mencegah siswa terlibat dalam kegiatan yang tidak bermanfaat setelah jam sekolah.
Waktu setelah sekolah sebaiknya dimanfaatkan untuk beristirahat, belajar, membantu orang tua, mengikuti kegiatan positif, atau mengembangkan bakat dan minat.
Kepolisian juga mengajak para siswa untuk memilih lingkungan pergaulan secara bijak.
Pergaulan memiliki pengaruh besar terhadap pembentukan karakter remaja. Lingkungan yang positif dapat mendorong siswa berkembang menjadi pribadi yang disiplin dan bertanggung jawab.
Sebaliknya, pergaulan yang mengarah pada kekerasan, penyalahgunaan narkoba, atau aktivitas yang melanggar hukum dapat menimbulkan persoalan panjang.
Karena itu, siswa diminta berani mengatakan tidak terhadap ajakan yang berpotensi merugikan dirinya sendiri maupun orang lain.
Selain tawuran, personel Polsek Mauk juga memberikan perhatian terhadap fenomena geng motor dan berbagai bentuk kenakalan remaja.
Kegiatan berkendara secara berkelompok sebenarnya tidak selalu identik dengan pelanggaran hukum. Namun, ketika aktivitas tersebut disertai tindakan kekerasan, balap liar, membawa senjata atau benda berbahaya, merusak fasilitas umum, maupun melakukan tindakan yang meresahkan masyarakat, persoalannya dapat masuk ke ranah hukum.
Pelajar perlu memahami batas antara kegiatan sosial yang positif dengan perilaku yang dapat membahayakan diri sendiri dan masyarakat.
Kepolisian mengajak siswa untuk mengisi waktu luang dengan aktivitas positif, seperti olahraga, kegiatan keagamaan, organisasi sekolah, seni, maupun kegiatan sosial.
Dengan tersedianya ruang untuk menyalurkan energi dan kreativitas secara positif, diharapkan pelajar tidak mencari kegiatan yang berisiko.
Pencegahan penyalahgunaan narkoba juga menjadi bagian penting dalam kegiatan “Polisi Saba Sekolah”.
Para siswa diingatkan agar tidak pernah mencoba maupun menerima barang atau zat yang tidak diketahui secara jelas asal dan kandungannya.
Masa remaja merupakan periode yang sangat penting bagi perkembangan fisik, mental, dan sosial. Penyalahgunaan narkoba dapat menimbulkan dampak serius terhadap kehidupan seseorang, termasuk pendidikan, hubungan keluarga, kesehatan, dan masa depan.
Kepolisian mengajak para pelajar untuk berani menolak apabila mendapatkan tawaran dari siapa pun.
Selain itu, siswa juga diminta tidak menyimpan, membawa, atau membantu menyebarkan barang yang berkaitan dengan penyalahgunaan narkoba.
Apabila menemukan adanya indikasi penyalahgunaan narkoba di lingkungan sekitar, masyarakat dapat melaporkannya melalui saluran resmi agar dapat ditindaklanjuti sesuai ketentuan hukum.
Program “Polisi Saba Sekolah” tidak semata-mata berupa penyampaian imbauan. Kehadiran polisi di sekolah juga menjadi sarana membangun komunikasi dengan pihak sekolah.
Guru dan tenaga pendidik memiliki peran penting dalam mengawasi perkembangan siswa. Mereka merupakan pihak yang setiap hari berinteraksi dengan para pelajar.
Karena itu, kerja sama antara kepolisian, sekolah, dan orang tua menjadi salah satu faktor penting dalam mencegah kenakalan remaja.
Persoalan yang muncul di lingkungan pelajar dapat lebih cepat diketahui apabila komunikasi antara ketiga unsur tersebut berjalan baik.
Guru dapat memberikan informasi mengenai perubahan perilaku siswa yang perlu mendapatkan perhatian. Orang tua dapat mengawasi aktivitas anak ketika berada di luar sekolah. Sementara kepolisian dapat memberikan pendampingan dan langkah pencegahan dari sisi keamanan.
Kolaborasi tersebut diharapkan mampu menciptakan sistem perlindungan yang lebih kuat bagi para pelajar.
Lingkungan sekolah yang aman merupakan salah satu faktor pendukung terciptanya proses pembelajaran yang baik.
Siswa membutuhkan rasa aman agar dapat berkonsentrasi mengikuti pelajaran. Guru juga membutuhkan lingkungan yang kondusif agar proses pendidikan dapat berlangsung secara maksimal.
Karena itu, pencegahan tawuran dan kenakalan remaja tidak boleh hanya menjadi tanggung jawab kepolisian.
Semua pihak perlu mengambil peran.
Sekolah dapat memperkuat pendidikan karakter dan kedisiplinan. Orang tua dapat meningkatkan pengawasan dan komunikasi dengan anak. Sementara masyarakat dapat menciptakan lingkungan yang mendukung perkembangan anak secara positif.
Kepolisian hadir sebagai bagian dari sinergi tersebut melalui kegiatan preventif, edukatif, dan pembinaan masyarakat.
Kehadiran polisi di sekolah juga menunjukkan pentingnya pendekatan humanis dalam pembinaan generasi muda.
Pelajar tidak semata-mata harus melihat polisi sebagai aparat penegak hukum, tetapi juga sebagai pihak yang dapat menjadi mitra dalam menjaga keamanan dan memberikan edukasi.
Pendekatan dialogis diharapkan membuat para siswa lebih terbuka untuk menyampaikan persoalan yang mereka hadapi.
Jika seorang siswa mengalami intimidasi, ancaman, perundungan, atau mendapatkan ajakan melakukan tindakan berbahaya, diharapkan mereka memiliki keberanian untuk meminta bantuan kepada orang dewasa yang dipercaya.
Dalam konteks tersebut, komunikasi menjadi sangat penting.
Polisi yang hadir secara langsung di lingkungan sekolah dapat memberikan pemahaman bahwa menjaga keamanan bukan hanya soal penindakan setelah kejadian, melainkan juga pencegahan sebelum masalah terjadi.
Pencegahan kenakalan remaja tidak akan optimal tanpa keterlibatan orang tua.
Setelah siswa meninggalkan lingkungan sekolah, pengawasan terhadap aktivitas mereka menjadi tanggung jawab keluarga.
Orang tua diharapkan membangun komunikasi yang terbuka dengan anak. Bukan hanya bertanya mengenai nilai pelajaran, tetapi juga mengetahui pergaulan, aktivitas, serta kondisi psikososial anak dalam kehidupan sehari-hari.
Komunikasi yang baik memungkinkan orang tua mengetahui lebih awal apabila anak menghadapi persoalan.
Anak yang merasa didengar cenderung memiliki ruang untuk menyampaikan masalah yang dihadapinya.
Karena itu, kepolisian mendorong terciptanya hubungan yang harmonis antara orang tua dan anak sebagai bagian dari pencegahan kenakalan remaja.
Guru juga memiliki peran strategis dalam membentuk karakter siswa.
Selain menyampaikan materi pelajaran, guru dapat menjadi figur yang memberikan teladan mengenai kedisiplinan, tanggung jawab, dan penyelesaian masalah secara damai.
Sekolah juga dapat memberikan ruang bagi siswa untuk mengembangkan minat dan bakat mereka.
Kegiatan ekstrakurikuler, olahraga, seni, organisasi siswa, maupun aktivitas sosial dapat menjadi sarana positif bagi pelajar untuk menyalurkan kreativitas.
Semakin banyak ruang positif yang tersedia, semakin besar peluang siswa mengembangkan kemampuan tanpa harus mencari pengakuan melalui perilaku negatif.
Pesan utama dari kegiatan “Polisi Saba Sekolah” adalah mengajak pelajar menjaga masa depan mereka.
Masa sekolah merupakan periode untuk belajar, membangun pertemanan yang sehat, mengembangkan kemampuan, serta mempersiapkan diri menghadapi masa depan.
Satu tindakan impulsif dapat membawa konsekuensi panjang.
Karena itu, para siswa perlu belajar mengambil keputusan dengan mempertimbangkan akibat dari setiap tindakan.
Tidak mudah terprovokasi merupakan salah satu bentuk kedewasaan.
Begitu pula keberanian untuk menolak ajakan tawuran, narkoba, geng motor yang berpotensi melakukan pelanggaran, maupun aktivitas negatif lainnya.
Menjadi pelajar berprestasi tidak selalu berarti harus mendapatkan peringkat pertama di kelas. Prestasi juga dapat diwujudkan melalui sikap disiplin, aktif dalam kegiatan positif, mampu bekerja sama, menghormati guru dan orang tua, serta memiliki kepedulian terhadap lingkungan.
Kegiatan di SMPN 1 Kemiri merupakan salah satu bentuk langkah preventif yang dilakukan jajaran Polsek Mauk dalam menjaga situasi kamtibmas.
Melalui kegiatan tersebut, polisi berupaya mencegah potensi gangguan keamanan sejak dari lingkungan pendidikan.
Program seperti ini memiliki nilai strategis karena menyasar kelompok usia yang sedang berada dalam proses pembentukan karakter.
Edukasi yang dilakukan secara berulang dan konsisten diharapkan dapat memberikan pemahaman kepada para pelajar mengenai pentingnya menjauhi kekerasan dan perilaku melanggar hukum.
Kepolisian juga dapat terus membangun komunikasi dengan sekolah untuk mengetahui perkembangan situasi dan potensi persoalan yang muncul.
Pencegahan tawuran membutuhkan kerja bersama.
Polisi tidak mungkin bekerja sendiri tanpa dukungan sekolah, keluarga, dan masyarakat.
Sekolah memiliki data dan pengetahuan mengenai kondisi siswa. Orang tua mengetahui kehidupan anak di rumah. Masyarakat mengetahui dinamika lingkungan sekitar. Kepolisian memiliki fungsi pembinaan dan penegakan hukum.
Apabila seluruh unsur tersebut bekerja secara terintegrasi, potensi tawuran dapat ditekan sejak awal.
Masyarakat juga diharapkan tidak melakukan tindakan main hakim sendiri apabila menemukan adanya persoalan yang melibatkan pelajar.
Setiap persoalan hendaknya diselesaikan melalui mekanisme yang tepat dan mengedepankan keselamatan anak.
Kapolsek Mauk AKP I Nyoman Nariana bersama jajaran menunjukkan komitmen untuk terus melakukan kegiatan pembinaan dan pencegahan gangguan kamtibmas di wilayah hukum Polsek Mauk.
Program “Polisi Saba Sekolah” diharapkan dapat terus menjadi ruang interaksi antara polisi dengan generasi muda.
Melalui pendekatan edukatif dan humanis, kepolisian ingin menanamkan kesadaran bahwa pelajar memiliki peran penting dalam menciptakan lingkungan yang aman.
Generasi muda bukan hanya objek dalam upaya menjaga kamtibmas, tetapi juga dapat menjadi bagian dari solusi.
Para siswa dapat membantu menciptakan lingkungan sekolah yang positif dengan tidak melakukan kekerasan, menghormati sesama, menjaga fasilitas sekolah, serta berani melaporkan apabila menemukan potensi gangguan keamanan.
Kegiatan “Polisi Saba Sekolah” di SMPN 1 Kemiri pada akhirnya bukan hanya berbicara mengenai pencegahan tawuran.
Lebih jauh, kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya menjaga masa depan generasi muda.
Pelajar yang terbebas dari tawuran, narkoba, kekerasan, dan pengaruh negatif lainnya memiliki kesempatan lebih besar untuk berkembang menjadi generasi yang produktif.
Karena itu, pesan yang disampaikan jajaran Polsek Mauk patut dipandang sebagai ajakan bersama untuk menciptakan lingkungan pendidikan yang sehat.
Sekolah harus menjadi tempat yang aman untuk belajar, bertumbuh, dan mengembangkan potensi.
Keluarga harus menjadi tempat pertama bagi anak untuk mendapatkan perlindungan dan pendidikan karakter.
Masyarakat harus menjadi lingkungan yang memberikan contoh positif.
Sementara kepolisian hadir untuk memberikan perlindungan, pembinaan, edukasi, serta penegakan hukum sesuai kewenangan.
Kegiatan “Polisi Saba Sekolah” yang dilaksanakan personel Polsek Mauk di SMPN 1 Kemiri menjadi salah satu langkah preventif dalam menjaga keamanan lingkungan pendidikan.
Melalui edukasi mengenai bahaya tawuran, geng motor, narkoba, provokasi media sosial, serta pentingnya kedisiplinan, para pelajar diharapkan semakin memahami bahwa masa depan mereka harus dijaga sejak sekarang.
Kapolsek Mauk AKP I Nyoman Nariana bersama jajaran juga mengajak seluruh pihak untuk memperkuat komunikasi dan sinergi.
Tidak ada satu pihak pun yang dapat bekerja sendirian dalam mencegah kenakalan remaja.
Dengan kolaborasi antara kepolisian, sekolah, orang tua, dan masyarakat, diharapkan tercipta lingkungan pendidikan yang aman, tertib, nyaman, dan mendukung lahirnya generasi muda yang berprestasi.
Pesan sederhananya jelas: jangan mudah terprovokasi, jauhi tawuran dan narkoba, bijak menggunakan media sosial, patuhi aturan, dan fokus meraih cita-cita.
Sebab, menjaga keamanan hari ini berarti ikut menjaga masa depan generasi muda untuk hari esok.
Sumber: Dokumentasi/Keterangan Polsek Mauk
Editor: Yudi Sayuti S.T.
Redaksi : AnalisasiberNews.com
Berita ini disusun berdasarkan informasi kegiatan “Polisi Saba Sekolah” di SMP Negeri 1 Kemiri, Kecamatan Kemiri, Kabupaten Tangerang, pada 26 Agustus 2026. Redaksi berpedoman pada prinsip jurnalistik, termasuk akurasi, keberimbangan, independensi, dan kepentingan publik, dengan mengacu pada Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers serta Kode Etik Jurnalistik.
Redaksi tidak bermaksud menghakimi pihak mana pun. Setiap informasi mengenai dugaan pelanggaran atau tindak pidana harus dipahami berdasarkan fakta, hasil pemeriksaan, dan ketentuan hukum yang berlaku. Redaksi terbuka terhadap koreksi, klarifikasi, maupun hak jawab dari pihak terkait sesuai mekanisme jurnalistik.


Tidak ada komentar