

ANALISASIBERNEWS.COM I KABUPATEN BANDUNG — Bukan sekadar adu keberanian. Di balik riuhnya Majalaya Open Fight Vol. 3, terselip mimpi besar anak-anak muda Jawa Barat: menunjukkan kemampuan, mengasah mental, sekaligus membuka jalan menuju panggung olahraga tingkat nasional.

Sekitar 130 peserta mengikuti ajang pencarian bakat olahraga tersebut yang digelar di The Metic Mall, Majalaya, Kabupaten Bandung, Sabtu (8/8/2026).
Peserta berasal dari kategori usia remaja, baik laki-laki maupun perempuan. Mereka berkompetisi sekaligus menjadikan arena tersebut sebagai ruang untuk menguji kemampuan dan menunjukkan potensi masing-masing.

Ajang Majalaya Open Fight Vol. 3 disebut menjadi bagian dari pencarian talenta olahraga tingkat Jawa Barat yang diharapkan dapat melahirkan atlet-atlet muda untuk dibina menuju level nasional.
Ketua panitia pelaksana, Pajar Wirayuda, mengatakan kegiatan tersebut menjadi salah satu wadah bagi generasi muda untuk menyalurkan energi dan bakatnya melalui kegiatan olahraga yang terarah.
Kegiatan itu turut dihadiri tamu undangan dari Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam) Majalaya. Sementara itu, penilaian pertandingan melibatkan tiga juri tingkat nasional, salah satunya disebut bernama Dr. Muangtay.
DHAVA DEVRIZA, DARI MAJASETRA MEMIMPIKAN PANGGUNG NASIONAL
Salah satu peserta yang mencuri perhatian adalah Dhava Devriza, remaja yang masih duduk di bangku SMAJA Panyadap.
Dhava diketahui berdomisili di Kampung Manirancan RT 02/RW 14, Desa Majasetra, Kecamatan Majalaya, Kabupaten Bandung. Ia merupakan putra dari Riyan.
Di usia yang masih muda, Dhava mulai menekuni olahraga tersebut dengan harapan suatu hari mampu berkembang menjadi atlet yang dapat membawa nama daerah ke tingkat nasional.
Perjalanan Dhava menjadi gambaran bahwa prestasi tidak selalu lahir dari tempat yang besar. Kadang, mimpi besar justru tumbuh dari kampung, dari lapangan latihan, dan dari keberanian seorang anak muda untuk mencoba.
BUKAN SEKADAR “FIGHT”, TAPI SOAL MASA DEPAN
Di tengah kekhawatiran terhadap berbagai aktivitas negatif yang dapat menyeret generasi muda, kegiatan olahraga seperti Majalaya Open Fight menghadirkan ruang alternatif bagi remaja untuk menyalurkan energi secara positif.
Arena pertandingan menjadi tempat mereka belajar tentang disiplin, keberanian, sportivitas, kekalahan, kemenangan, dan bagaimana menghormati lawan.
Namun, pencarian bakat tidak boleh berhenti di arena pertandingan.
Talenta muda membutuhkan pembinaan berkelanjutan, pelatih berkualitas, fasilitas latihan, kompetisi yang sehat, serta dukungan pemerintah dan dunia usaha agar potensi mereka tidak berhenti sebagai sekadar peserta sebuah event.
Sebab, jika 130 anak muda hanya bertanding lalu pulang tanpa jalur pembinaan yang jelas, maka yang hilang bukan hanya kesempatan meraih prestasi, tetapi juga kemungkinan lahirnya atlet masa depan Jawa Barat.
Sebaliknya, jika talenta-talenta tersebut dipetakan, dibina dan diberikan kesempatan bertanding secara berjenjang, bukan tidak mungkin dari arena Majalaya Open Fight akan lahir nama-nama baru yang suatu hari berdiri di podium tingkat nasional.
Majalaya hari ini bukan sekadar menjadi tempat pertandingan. Ia sedang menjadi saksi bagaimana anak-anak muda Jawa Barat mencoba mengetuk pintu masa depan.
Dan pertanyaannya kini sederhana:
Apakah mimpi mereka akan berhenti di arena, atau akan benar-benar diantar menuju panggung nasional?
Itulah pekerjaan rumah setelah gemuruh pertandingan berakhir.
Jurnalis/reporter
Asep saepulloh


Tidak ada komentar