

ANALISASIBERNEWS.COM I BANDUNG,jabar 23 Agustus 2026 — Ketika sebagian anak muda sibuk mengejar tren yang datang dan pergi, Piar Pratama, S.H., memilih jalur yang berbeda: merawat tradisi yang telah hidup jauh sebelum dirinya lahir.
Tokoh muda Kabupaten Bandung yang juga dikenal dengan gelar adat Raden Anom Pager Kancana Ke-V itu menerima penghargaan dari International Forum for Appreciation of Traditional Arts and Culture (IFATAC) atas dedikasinya dalam pelestarian seni dan budaya tradisional pencak silat.
Penghargaan tersebut diberikan dalam kategori “Young Figure Preserving the Traditional Art and Culture of Pencak Silat”. Piagam penghargaan ditandatangani pada 20 Agustus 2026 oleh Presiden Direktur IFATAC, Mr. Jumsung Nademood.
Pengakuan itu datang dari forum internasional, tetapi akarnya tetap berada di tanah sendiri—Kabupaten Bandung, Jawa Barat, tempat pencak silat tumbuh sebagai bagian dari kehidupan masyarakat.

Piar mengatakan penghargaan tersebut tidak semata-mata ditujukan kepada dirinya.
«“Penghargaan ini bukan hanya milik pribadi, tetapi juga bentuk apresiasi bagi seluruh pegiat, pelatih, dan pendekar pencak silat yang terus berjuang menjaga marwah budaya bangsa.”»
Pernyataan itu menyiratkan satu hal sederhana: penghargaan boleh datang dari luar negeri, tetapi pekerjaan melestarikan budaya tetap harus dilakukan di rumah sendiri.
Pencak silat sendiri bukan sekadar rangkaian gerak bela diri. Ia membawa nilai disiplin, keberanian, penghormatan, persaudaraan, serta filosofi kehidupan yang diwariskan lintas generasi.
Di tengah derasnya budaya populer yang bergerak cepat, tradisi sering kali menghadapi tantangan yang lebih sunyi: dilupakan.
Di titik itulah keberadaan generasi muda seperti Piar menjadi penting. Bukan karena penghargaan internasional semata, melainkan karena pelestarian budaya membutuhkan orang-orang yang bersedia berdiri di antara masa lalu dan masa depan.
Ironisnya, sebuah warisan yang lahir dari tanah sendiri terkadang baru benar-benar diperhatikan ketika dunia luar ikut memberikan apresiasi.
Penghargaan IFATAC terhadap Piar Pratama setidaknya menjadi pengingat bahwa pencak silat tidak hanya memiliki tempat dalam sejarah Indonesia. Ia juga memiliki ruang untuk berbicara kepada dunia.
Dan dari Kabupaten Bandung, pesan itu kembali dikirimkan: tradisi tidak harus ditinggalkan agar terlihat modern. Kadang, justru dengan merawat akar, sebuah bangsa dapat berdiri lebih percaya diri di hadapan dunia.

Sumber I forwaci group
Reporter — ForwaciNews
Editor I Asn


Tidak ada komentar