

Analisasibernews.com, SINTANG — Upaya preventif guna mengantisipasi Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) terus diakselerasi oleh jajaran TNI dengan mengedepankan pendekatan edukatif serta stimulasi kesadaran kolektif masyarakat. Upaya pencegahan sejak dini dinilai sebagai instrumen paling efektif dalam memproteksi ekosistem, menjaga kesehatan publik, serta menjamin keberlanjutan kelestarian hutan dan lahan.
Komitmen nyata tersebut diimplementasikan melalui sosialisasi intensif yang diinisiasi oleh Tim Penyuluh Karhutla Mabes TNI, yang dipimpin oleh Danpok 9 Kolonel Tum Firganzah, S.T. (Staf Ahli Koops AU) bersama Kapten Arh Murianto, S.T., M.M. (Danramil Kodim Probolinggo Rem 083 Dam V/Brawijaya). Kegiatan penyuluhan yang berlangsung pada Kamis (10/09/2026) pukul 10:00 WIB ini menyasar sepuluh representatif dari kelompok tani dan peladang di desa Swadaya, Kecamatan Ketungau Tengah, Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat.
Agenda strategis ini dirancang sebagai media diseminasi informasi untuk menyamakan persepsi mengenai eskalasi bahaya dan dampak destruktif Karhutla. Di saat yang sama, kegiatan ini bertujuan mendorong peran aktif aparatur dan tokoh masyarakat dalam mengedukasi warga agar menghentikan praktik pembakaran hutan maupun lahan secara konvensional yang tidak terkendali.
Dalam pemaparannya, Kolonel Tum Firganzah, S.T., mengonstruksikan ajakan kepada seluruh elemen yang hadir untuk bersinergi membangun kesadaran fundamental mengenai urgensi proteksi lingkungan. Menurutnya, reduksi risiko Karhutla menuntut konsistensi serta keterlibatan lintas sektor, mengingat dampak kebakaran bersifat transnasional dan multiplikatif terhadap sendi kehidupan masyarakat.

“Pencegahan Karhutla determinan utamanya adalah kesadaran. Kita tidak boleh membiarkan api berkembang menjadi bencana sistemik yang baru direspons setelah meluas. Mengonservasi hutan dan lahan adalah tanggung jawab bersama, karena menjaga stabilitas lingkungan hidup berarti mengamankan keberlangsungan peradaban,” tegas Kolonel Tum Firganzah, S.T.
Selain mentransfer pemahaman substantif terkait bahaya Karhutla, forum ini juga mengondisikan masyarakat pedesaan untuk mengoptimalkan sistem deteksi dini terhadap potensi munculnya titik panas (firespot) di wilayah mereka. Warga diimbau untuk segera mengaktivasi jalur pelaporan formal jika mengidentifikasi indikasi kebakaran, guna memicu respons penanggulangan yang cepat, terukur, dan tepat sasaran.
Melalui edukasi yang terstruktur ini, masyarakat Desa Swadaya diproyeksikan mampu bertransformasi menjadi agen perubahan (agent of change) yang melipatgandakan pesan-pesan preventif kepada komunitas yang lebih luas. Berlandaskan kepedulian linier dan spirit gotong royong, probabilitas terjadinya Karhutla diharapkan dapat ditekan secara signifikan, sehingga kelestarian lingkungan tetap terjaga dan produktivitas sosial-ekonomi masyarakat dapat berjalan tanpa hambatan teoretis maupun praktis. ( Wid )


Tidak ada komentar