

JAKARTA | AnalisasiberNews.com — Indonesia kembali menghadapi pertanyaan besar mengenai arah pembangunan sepak bola nasional setelah harus berada di luar persaingan sejumlah negara Asia Tenggara yang tengah mempersiapkan diri menghadapi rangkaian pertandingan penting pada Agustus 2026.
Di saat Singapura, Thailand, Malaysia, dan Vietnam bersiap membawa nama negara masing-masing ke lapangan, Indonesia justru kembali berada dalam posisi sebagai penonton. Kondisi tersebut dinilai perlu menjadi momentum evaluasi menyeluruh terhadap sistem pembinaan dan tata kelola sepak bola nasional.
Sorotan itu disampaikan Prof. Sutan Nasomal, S.H., M.H., komentator bidang hukum, ekonomi, budaya dan olahraga. Ia mendorong Presiden Republik Indonesia agar dapat merangkul para tokoh sepak bola, mantan pemain, pelatih, akademisi, pengurus kompetisi, serta berbagai pemangku kepentingan olahraga untuk menyusun roadmap atau peta jalan sepak bola nasional yang jelas, terukur dan berkelanjutan.
Menurut Sutan Nasomal, persoalan sepak bola Indonesia tidak semestinya hanya dilihat dari hasil satu pertandingan, pergantian pelatih, atau performa sejumlah pemain. Lebih jauh dari itu, Indonesia membutuhkan sistem pembinaan yang mampu menghasilkan pemain berkualitas secara konsisten dari satu generasi ke generasi berikutnya.

“Dunia persepakbolaan selama ini Indonesia hanya jadi penonton. Kita harapkan Presiden merangkul tokoh olahraga untuk ke depannya Indonesia bisa mengambil bagian dalam dunia persepakbolaan dunia,” ujar Sutan Nasomal saat menjawab pertanyaan sejumlah pimpinan redaksi media cetak dan online dalam dan luar negeri melalui sambungan telepon seluler dari Jakarta, Minggu (9/8/2026).
Indonesia dikenal memiliki basis masyarakat dan penggemar sepak bola yang sangat besar. Antusiasme terhadap olahraga tersebut terlihat hampir di berbagai daerah, mulai dari kompetisi tingkat desa, sekolah, akademi, klub lokal, hingga pertandingan profesional.
Namun, menurut Sutan Nasomal, besarnya jumlah penggemar belum otomatis menjadi jaminan bahwa sebuah negara mampu menghasilkan prestasi sepak bola secara berkelanjutan.
Justru besarnya potensi tersebut harus diikuti dengan pembangunan ekosistem sepak bola yang kuat.
Ekosistem tersebut mencakup pembinaan usia dini, kompetisi berjenjang, peningkatan kualitas pelatih, fasilitas latihan, kualitas lapangan, sport science, kesehatan dan kebugaran atlet, pendidikan pemain, tata kelola klub, hingga sistem kompetisi yang mampu memberikan ruang bagi pemain muda untuk berkembang.
“Memang sangat disayangkan. Tahun 2026 ini Indonesia dalam persaingan sepak bola kawasan Asia Tenggara hanya menjadi penonton ketika empat negara, Singapura, Thailand, Malaysia dan Vietnam, bertarung membawa nama bangsanya,” kata pakar hukum internasional tersebut.
Ia menilai kondisi itu seharusnya tidak dijadikan alasan untuk menyalahkan pihak tertentu secara sepihak.
Sebaliknya, posisi Indonesia tersebut harus menjadi bahan refleksi bersama untuk mencari akar persoalan.
Pertanyaan yang perlu dijawab, kata dia, bukan hanya mengapa Indonesia kalah atau tidak lolos dalam suatu kompetisi, tetapi mengapa sistem sepak bola nasional belum mampu menjaga kesinambungan prestasi dalam jangka panjang.
Sorotan tersebut muncul di tengah rangkaian pertandingan yang mempertemukan sejumlah negara Asia Tenggara pada 15 hingga 19 Agustus 2026.
Rangkaian pertandingan dijadwalkan dimulai dengan pertemuan Singapura melawan Thailand pada 15 Agustus dalam leg pertama.
Kemudian pada 16 Agustus, Malaysia dijadwalkan menghadapi Vietnam.
Persaingan berlanjut pada leg kedua. Thailand dijadwalkan kembali menghadapi Singapura pada 18 Agustus, sedangkan Vietnam bertemu Malaysia pada 19 Agustus.
Pertandingan dua leg tersebut menjadi bagian dari persaingan antarnegera yang membawa gengsi dan kepentingan prestasi masing-masing.
Keempat negara akan berusaha memanfaatkan setiap pertandingan untuk mendapatkan hasil terbaik dan melangkah lebih jauh.
Sementara Indonesia, dalam konteks persaingan tersebut, kembali tidak berada di dalam arena.
Bagi Sutan Nasomal, kondisi seperti itu semestinya menjadi alarm bagi seluruh pemangku kepentingan sepak bola nasional.
Sutan Nasomal berpandangan bahwa pembangunan sepak bola tidak dapat dilakukan dengan pendekatan jangka pendek.
Pergantian pelatih maupun pemain memang merupakan bagian dari dinamika olahraga. Namun, pergantian tersebut tidak akan menyelesaikan persoalan secara menyeluruh apabila tidak dibarengi evaluasi terhadap sistem.
Menurutnya, sepak bola membutuhkan kesinambungan program.
Ketika sebuah program pembinaan berubah setiap kali terjadi pergantian kepengurusan, pelatih, atau kebijakan, maka proses pembangunan pemain juga dapat terganggu.
Karena itu, Indonesia membutuhkan roadmap yang dapat menjadi pedoman jangka panjang.
Roadmap tersebut, menurut Sutan Nasomal, harus memiliki target yang jelas, mulai dari pembinaan usia dini sampai pencapaian prestasi di level internasional.
Salah satu aspek penting dalam pembangunan sepak bola adalah pembinaan usia dini.
Pemain berkualitas tidak lahir secara instan. Mereka membutuhkan proses panjang untuk mengembangkan kemampuan teknis, fisik, mental, disiplin, serta pemahaman terhadap permainan.
Pembinaan usia dini juga membutuhkan pelatih yang memiliki kompetensi memadai.
Karena itu, peningkatan kualitas pelatih usia muda seharusnya menjadi bagian penting dalam strategi sepak bola nasional.
Akademi sepak bola, sekolah sepak bola dan pusat pembinaan pemain muda juga perlu memiliki standar pembinaan yang jelas.
Tidak cukup hanya mengajarkan anak bermain bola. Pembinaan harus diarahkan agar pemain memahami teknik dasar, taktik, sportivitas, kedisiplinan, kebugaran, serta pentingnya pendidikan.
Dengan sistem seperti itu, Indonesia diharapkan dapat memiliki basis pemain muda yang terus berkembang.
Selain pembinaan, kompetisi juga memiliki peran besar dalam membentuk pemain.
Pemain muda membutuhkan kesempatan bertanding secara rutin agar kemampuan mereka berkembang.
Kompetisi yang sehat akan memberikan ruang bagi pemain untuk menghadapi tekanan, belajar mengambil keputusan, meningkatkan mental bertanding, sekaligus mengukur kemampuan mereka terhadap pemain lain.
Karena itu, roadmap sepak bola nasional seharusnya tidak hanya berbicara mengenai tim nasional.
Pembangunan sepak bola harus dimulai dari struktur paling bawah.
Kompetisi tingkat sekolah, daerah, akademi, amatir, hingga profesional harus memiliki hubungan yang jelas dan berjenjang.
Dengan demikian, pemain yang memiliki potensi dapat terus naik ke tingkat kompetisi yang lebih tinggi.
Faktor lain yang tidak kalah penting adalah infrastruktur.
Lapangan latihan yang layak, fasilitas olahraga, pusat kebugaran, fasilitas medis, serta sarana pendukung lainnya menjadi bagian penting dalam pembentukan atlet profesional.
Pembangunan infrastruktur sepak bola juga perlu memperhatikan pemerataan.
Jangan sampai pembinaan berkualitas hanya terkonsentrasi di kota-kota besar, sementara daerah-daerah yang memiliki banyak talenta muda tidak memperoleh fasilitas yang memadai.
Indonesia memiliki wilayah yang sangat luas.
Karena itu, pembangunan sepak bola harus membuka kesempatan bagi anak-anak dari berbagai daerah untuk mendapatkan akses pembinaan yang sama.
Sutan Nasomal juga menyoroti pentingnya tata kelola.
Menurutnya, prestasi olahraga tidak hanya ditentukan oleh kemampuan pemain di lapangan, tetapi juga bagaimana organisasi dan kompetisi dikelola.
Manajemen yang profesional, transparan, akuntabel dan berorientasi pada pengembangan olahraga harus menjadi bagian dari pembangunan sepak bola nasional.
Pengelolaan klub juga harus diarahkan agar memiliki perencanaan jangka panjang.
Klub tidak hanya dituntut mengejar kemenangan dalam satu musim, tetapi juga membangun akademi, mengembangkan pemain muda, meningkatkan kualitas pelatih dan menciptakan sistem yang sehat.
Dengan demikian, klub dapat menjadi sumber pemain bagi tim nasional.
Perkembangan sepak bola dunia juga semakin erat dengan penggunaan teknologi dan sport science.
Analisis pertandingan, pemantauan kondisi fisik pemain, nutrisi, pemulihan cedera, data performa dan analisis taktik telah menjadi bagian dari sepak bola modern.
Indonesia, menurut Sutan Nasomal, juga harus mengikuti perkembangan tersebut.
Pemain tidak cukup hanya mengandalkan bakat.
Bakat harus dikembangkan dengan metode latihan yang tepat dan dukungan ilmu pengetahuan.
Karena itu, kolaborasi antara olahraga, perguruan tinggi, ahli kesehatan, ahli gizi, psikologi olahraga dan teknologi menjadi salah satu bagian penting yang dapat dimasukkan ke dalam roadmap sepak bola nasional.
Sutan Nasomal menegaskan bahwa target sepak bola Indonesia tidak seharusnya berhenti pada keberhasilan memenangkan satu pertandingan atau satu turnamen.
Prestasi yang sebenarnya adalah ketika sistem mampu melahirkan pemain berkualitas secara terus-menerus.
Jika sebuah negara hanya sukses pada satu generasi, kemudian mengalami penurunan ketika generasi tersebut berakhir, berarti masih terdapat persoalan dalam sistem pembinaannya.
Sebaliknya, apabila sistem berjalan baik, regenerasi pemain dapat dilakukan secara berkelanjutan.
“Memang sangat disayangkan. Tahun 2026 ini Indonesia dalam persaingan sepak bola kawasan Asia Tenggara hanya menjadi penonton ketika empat negara, Singapura, Thailand, Malaysia dan Vietnam, bertarung membawa nama bangsanya,” ujarnya.
Menurutnya, Indonesia harus berani membuat evaluasi berdasarkan data dan fakta.
Evaluasi tidak boleh hanya dilakukan setelah kegagalan.
Evaluasi juga harus dilakukan ketika prestasi sedang baik agar keberhasilan dapat dipertahankan dan dikembangkan.
Dalam pandangan Sutan Nasomal, pemerintah dapat mengambil peran strategis dengan mempertemukan berbagai elemen sepak bola nasional.
Mulai dari mantan pemain nasional, pelatih, akademisi, pengurus klub, pengelola kompetisi, pemerhati olahraga, tokoh masyarakat, hingga generasi muda.
Pertemuan tersebut diharapkan tidak berhenti pada diskusi.
Hasilnya harus dapat dituangkan dalam sebuah peta jalan yang memiliki target jangka pendek, menengah dan panjang.
Misalnya, target pembinaan pemain usia dini, peningkatan jumlah pelatih berkualitas, pemerataan fasilitas, penguatan kompetisi nasional, peningkatan kualitas klub, sampai target prestasi tim nasional.
Roadmap juga harus memiliki indikator keberhasilan sehingga masyarakat dapat melihat sejauh mana program telah berjalan.
Sepak bola memiliki posisi khusus dalam kehidupan masyarakat Indonesia.
Olahraga ini bukan sekadar pertandingan selama 90 menit. Sepak bola juga menjadi ruang bagi masyarakat untuk berkumpul, membangun kebanggaan daerah dan nasional, serta memberikan inspirasi kepada generasi muda.
Karena itu, pembangunan sepak bola memiliki dampak sosial yang luas.
Ketika sepak bola nasional memiliki sistem pembinaan yang baik, maka anak-anak di berbagai daerah mendapatkan ruang positif untuk mengembangkan bakat dan prestasi.
Sebaliknya, apabila pembinaan tidak berjalan secara sistematis, banyak talenta berpotensi kehilangan kesempatan untuk berkembang.
Karena itu, kondisi Indonesia yang hanya menjadi penonton dalam persaingan tertentu di kawasan Asia Tenggara harus dijadikan momentum untuk melakukan pembenahan.
Indonesia memiliki jumlah penduduk besar, penggemar sepak bola yang sangat banyak dan potensi pemain yang tersebar di berbagai daerah.
Yang diperlukan adalah sistem untuk menemukan, membina dan mengembangkan potensi tersebut.
Menurut Sutan Nasomal, pembangunan sepak bola tidak boleh hanya mengandalkan harapan.
Prestasi harus direncanakan.
Perencanaan tersebut harus didukung dengan kebijakan yang konsisten, anggaran yang tepat sasaran, sumber daya manusia berkualitas, kompetisi yang sehat, serta evaluasi berkala.
“Indonesia tidak boleh terus-menerus puas hanya menjadi penonton ketika negara tetangga bertanding,” tegasnya.
Ia berharap semua pihak dapat melihat persoalan sepak bola secara lebih luas.
Pemain dan pelatih memang memiliki peran penting, tetapi mereka tidak dapat bekerja sendiri.
Diperlukan sistem yang mendukung dari tingkat paling dasar hingga tingkat internasional.
Rangkaian pertandingan Singapura, Thailand, Malaysia dan Vietnam pada Agustus 2026 dapat menjadi momentum refleksi bagi Indonesia.
Bukan untuk iri terhadap negara lain, tetapi untuk melihat bagaimana negara-negara di kawasan mengembangkan sepak bola mereka dan apa yang dapat dipelajari Indonesia.
Setiap negara memiliki tantangan dan karakteristik berbeda.
Indonesia tidak harus meniru seluruh sistem negara lain.
Namun, Indonesia dapat mempelajari praktik yang berhasil dan menyesuaikannya dengan kondisi nasional.
Yang paling penting adalah keberanian untuk membangun sistem sendiri yang konsisten dan berkelanjutan.
Pertanyaan besar yang kini perlu dijawab adalah bukan sekadar kapan Indonesia memenangkan pertandingan.
Lebih dari itu, kapan Indonesia memiliki sistem sepak bola yang mampu membuat prestasi menjadi sesuatu yang direncanakan dan dibangun secara berkelanjutan?
Jika negara-negara lain terus bergerak, Indonesia tidak boleh hanya berdiri di pinggir lapangan.
Indonesia harus mulai menyusun langkah yang lebih terarah agar suatu saat bukan lagi menjadi penonton, melainkan menjadi salah satu kekuatan sepak bola yang diperhitungkan di Asia dan dunia.
Prof. Sutan Nasomal, S.H., M.H. dikenal sebagai komentator dan narasumber yang membahas berbagai isu hukum, ekonomi, budaya dan olahraga.
Dalam keterangannya, ia juga mencantumkan sejumlah posisi dan latar belakang organisasi, antara lain sebagai Pakar Hukum Internasional, Ekonom, Presiden Partai Oposisi Merdeka, Jenderal Kompii, Ketua Umum Perkumpulan Advokat Muda Indonesia (PAMID), Ketua YPLBH Profesor Dr. Sutan Nasomal, S.H., M.H., serta Rektor Universitas Pronass.
Pernyataan mengenai pembangunan roadmap sepak bola nasional tersebut disampaikan dalam konteks dorongan agar pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan olahraga melakukan pembenahan secara lebih sistematis.
Pada akhirnya, sepak bola Indonesia membutuhkan lebih dari sekadar semangat dan dukungan suporter.
Indonesia membutuhkan sistem.
Sistem yang mampu menemukan talenta, membina pemain, meningkatkan kualitas pelatih, menyediakan kompetisi, membangun infrastruktur, menggunakan teknologi, memperkuat tata kelola dan memastikan regenerasi berjalan.
Sebab, menjadi negara dengan jutaan penggemar sepak bola saja belum cukup.
Indonesia harus memiliki keberanian untuk membangun fondasi agar suatu hari nanti nama Indonesia tidak hanya terdengar dari tribun penonton, tetapi juga berkibar di tengah persaingan sepak bola Asia dan dunia.
Pertanyaannya kini bukan lagi sekadar kapan Indonesia menang?
Tetapi kapan Indonesia benar-benar membangun sistem sepak bola yang membuat prestasi menjadi sesuatu yang direncanakan, bukan sekadar diharapkan?
Redaksi


Tidak ada komentar