

Analisasibernews.com, SINTANG — Upaya preventif guna mengantisipasi bencana kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) terus diakselerasi melalui tindakan konkret di garis depan. Tim Penyuluh Karhutla Markas Besar (Mabes) TNI secara intensif melaksanakan patroli strategis yang diintegrasikan dengan Komunikasi Sosial (Komsos) di kawasan rawan perperangan api, tepatnya di Dusun Nanga Merakai, Desa Wirayuda, Kecamatan Ketungau Tengah, Kabupaten Sintang, Minggu (6/9/2026), pukul 11.00 WIB.
Aksi simultan ini diproyeksikan sebagai instrumen mitigasi dalam mengeskalasi kewaspadaan publik. Sekaligus, menstimulasi kesadaran kolektif masyarakat agar proaktif mengeliminasi potensi Karhutla, terlebih di tengah anomali cuaca panas yang ekstrem.
Edukasi Humanis di Akar Rumput
Bertempat di kediaman Ketua RT 02, Kaprawi, dialog interaktif ini menjembatani Tim Satgas TNI dengan konstituen lokal secara langsung. Dalam forum komsos tersebut, tim mengartikulasikan edukasi komprehensif mengenai urgensi penghentian praktik pembakaran dalam pembukaan lahan (land clearing), serta pelarangan pembuangan maupun pembakaran sampah secara sembarangan yang berisiko memicu rambatan api.
Manifestasi komitmen ini dikomandoi langsung oleh jajaran perwira tinggi dan menengah TNI. Berada di bawah kepemimpinan Ketua Tim Satgas Karhutla, Brigjen TNI Parlindungan Hutagalung bersama Wakil Ketua Brigjen TNI Zamroni, agenda lapangan ini diakomodasi oleh Kolonel Tum Firganzah, S.T. (Staf Ahli Koopsau) dan Kapten Arh Murianto, S.T., M.M. (Danramil Kodim Probolinggo Rem 083 Dam V/Brawijaya).

Turut hadir dalam kegiatan kegiatan ini:
Kaprawi (Ketua RT 02 Desa Wirayuda)
Tri Lesmana (Staf Desa Wirayuda)
Reza, S.Kep., Ners. (Perwakilan Puskesmas Merakai)
Agus Ruis (Tokoh Masyarakat)
15 elemen peladang Desa Wirayuda.
Sinergi dan Mitigasi Dini :
Dalam pemaparannya, Kolonel Tum Firganzah, S.T., menggarisbawahi bahwa tata kelola pencegahan Karhutla tidak boleh bersifat reaktif saat polutan asap telah membubung. Fondasi paling krusial terletak pada rekonstruksi kesadaran warga dan optimalisasi deteksi dini terhadap setiap indikasi kerawanan.
“Kehadiran kami dilapangan ini bertujuan ganda: memetakan kondisi topografi wilayah sekaligus mengonstruksi paradigma masyarakat bahwa penanggulangan Karhutla adalah tanggung jawab kolegial. Kita tidak boleh terjebak dalam kelalaian dengan menunggu api membesar baru melakukan penetrasi,” tegas Kolonel Firganzah.
Ia mengonfirmasi bahwa metode patroli dan pendekatan komsos humanis akan terus diakomodasi guna mempererat koordinasi horizontal antara institusi TNI, instansi sektoral, dan masyarakat sipil.
“Kami mengimbau akselerasi peran serta warga. Apabila mengidentifikasi anomali berupa kepulan asap, titik api (hotspot), atau aktivitas berisiko memicu kebakaran, segera lakukan eskalasi laporan ke aparat terdekat. Kecepatan diseminasi informasi dan tingginya kepedulian adalah kunci memitigasi bencana sejak fase awal,” tambahnya.
Respon Positif Kedekatan Teritorial :
Merespons asistensi tersebut, Ketua RT 02, Kaprawi, menyampaikan apresiasi mendalam atas atensi dan edukasi mutakhir yang diinisiasi oleh Tim Penyuluh Mabes TNI. Pihaknya berkomitmen untuk memperketat supervisi teritorial dan memelihara jaringan komunikasi berkala bersama warganya. Kaprawi optimistis, kehadiran representasi militer di klaster domestik ini mampu melipatgandakan insting kewaspadaan publik guna menjamin stabilitas lingkungan yang steril dari ancaman Karhutla.
Melalui pergelaran patroli taktis dan komsos ini, TNI kembali mereposisi komitmennya untuk berdiri tegak di episentrum masyarakat; menggalang soliditas sosial, serta menggerakkan partisipasi aktif swadaya warga dalam memproteksi ekosistem kelestarian hutan dan lahan nasional. ( Wid )


Tidak ada komentar