

INDRAMAYU| AnalisaSiberNews.com –Di tengah perkembangan teknologi informasi yang berlangsung begitu cepat, media sosial telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat. Hampir setiap hari, berbagai informasi muncul melalui beragam platform digital dan dapat diteruskan dari satu pengguna kepada pengguna lainnya hanya dalam hitungan detik.
Kemudahan tersebut tentu memberikan banyak manfaat. Masyarakat dapat memperoleh informasi dengan cepat, berkomunikasi tanpa mengenal jarak, mengikuti perkembangan peristiwa, hingga membangun jaringan sosial dan ekonomi melalui ruang digital.
Namun, kemajuan teknologi juga menghadirkan tantangan yang tidak boleh diabaikan. Salah satunya adalah penyebaran informasi palsu atau hoaks.
Hoaks dapat menimbulkan dampak serius ketika informasi yang belum terbukti kebenarannya dipercaya dan disebarkan secara luas. Informasi semacam itu dapat memunculkan kesalahpahaman, keresahan, konflik antarindividu, bahkan merusak hubungan sosial yang telah terbangun dalam masyarakat.

Karena itu, kemampuan untuk bersikap kritis dalam menerima dan membagikan informasi menjadi semakin penting.
Menyikapi fenomena tersebut, C. Whita, Kabiro Indramayu Media AnalisaSibernews.com, menyampaikan pesan kepada masyarakat agar semakin berhati-hati dalam menggunakan media sosial.
Menurutnya, perkembangan teknologi seharusnya diikuti dengan peningkatan kesadaran dan tanggung jawab pengguna.
“Marilah kita semua bijak dalam bermedia sosial. Ingatlah selalu, berita bohong atau hoax itu ibarat virus. Ia menyebar dengan sangat cepat, tanpa kita sadari, menimbulkan keresahan di tengah masyarakat, memicu pertikaian, memecah belah persatuan, dan merugikan banyak pihak, baik secara pribadi maupun kelompok,” tegas C. Whita dalam pernyataannya, Senin (31/08/2026).
Menurut C. Whita, masyarakat perlu memahami bahwa setiap informasi yang dibagikan memiliki konsekuensi.
Tombol “bagikan” mungkin hanya membutuhkan waktu beberapa detik untuk ditekan. Namun, informasi yang telah tersebar dapat diteruskan kembali oleh banyak orang dan sulit dikendalikan.
Karena itu, pengguna media sosial perlu membiasakan diri berhenti sejenak sebelum meneruskan sebuah informasi.
Salah satu karakter utama media sosial adalah kecepatannya.
Informasi mengenai suatu kejadian dapat muncul ketika sebuah peristiwa baru saja terjadi. Dalam kondisi tertentu, kecepatan tersebut sangat membantu masyarakat mendapatkan informasi awal.
Namun, kecepatan juga dapat menjadi persoalan apabila tidak disertai proses pemeriksaan fakta.
Informasi yang masih berupa dugaan dapat dianggap sebagai fakta. Judul yang dibuat secara provokatif dapat dipercaya tanpa membaca isi secara keseluruhan. Bahkan, foto atau video lama dapat digunakan kembali dan diberi keterangan yang tidak sesuai dengan kejadian sebenarnya.
Karena itu, pengguna media sosial tidak cukup hanya bertanya, “Apakah informasi ini menarik?”
Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah:
Apakah informasi ini benar?
Dari mana sumbernya?
Apakah sumber tersebut dapat dipercaya?
Apakah ada sumber lain yang mengonfirmasi informasi tersebut?
Dan apakah membagikannya akan memberikan manfaat atau justru menimbulkan kerugian?
Pertanyaan sederhana semacam itu dapat membantu masyarakat menjadi pengguna media sosial yang lebih bertanggung jawab.
C. Whita mengingatkan bahwa kebiasaan membagikan informasi secara spontan perlu dihindari, terutama ketika informasi tersebut mengandung unsur kontroversial atau berpotensi memancing emosi.
“Jangan sampai kecepatan jari kita menekan tombol bagikan melampaui kecepatan akal kita dalam berpikir dan memeriksa kebenaran. Sering kali, satu berita yang belum jelas kebenarannya telah mampu memicu keributan, merusak nama baik orang lain, hingga memicu perpecahan di lingkungan kita sendiri,” ujarnya.
Pesan tersebut menjadi penting karena media sosial memungkinkan seseorang menyampaikan informasi kepada khalayak luas tanpa harus melalui proses editorial seperti yang umumnya terdapat dalam organisasi media profesional.
Oleh sebab itu, pengguna media sosial memiliki tanggung jawab pribadi terhadap informasi yang mereka sebarkan.
Tidak semua informasi yang muncul di layar ponsel harus diteruskan.
Tidak semua pesan yang masuk ke grup percakapan harus dipercaya.
Dan tidak semua informasi yang dibagikan oleh orang yang dikenal otomatis benar.
Masyarakat juga perlu mengenali beberapa tanda yang membuat sebuah informasi patut diperiksa lebih lanjut.
Informasi yang menggunakan judul sangat provokatif, misalnya, perlu dibaca dengan lebih teliti.
Begitu pula informasi yang menggunakan kalimat seperti “sebarkan sekarang juga”, “jangan sampai orang lain tidak tahu”, atau berbagai bentuk ajakan untuk menyebarkan pesan secara masif.
Kondisi tersebut bukan otomatis membuktikan bahwa sebuah informasi adalah hoaks. Namun, pola semacam itu merupakan alasan yang cukup untuk membuat seseorang lebih berhati-hati.
Pengguna juga perlu melihat tanggal publikasi.
Sebuah foto atau video yang benar-benar pernah terjadi belum tentu menggambarkan peristiwa yang sedang dibicarakan. Konten lama dapat kembali viral dan kemudian disalahartikan sebagai kejadian baru.
Oleh karena itu, konteks menjadi bagian penting dalam pemeriksaan informasi.
Salah satu langkah sederhana untuk mengurangi penyebaran hoaks adalah memeriksa sumber informasi.
Jika sebuah informasi mengklaim terjadi sebuah peristiwa penting, masyarakat dapat membandingkannya dengan pemberitaan dari media yang kredibel atau informasi dari lembaga resmi yang berkaitan dengan peristiwa tersebut.
Perbandingan beberapa sumber juga membantu masyarakat melihat apakah informasi yang beredar memiliki dasar fakta yang kuat.
Jika hanya satu akun yang menyampaikan klaim besar sementara tidak ada sumber lain yang mendukungnya, informasi tersebut sebaiknya tidak langsung dipercaya.
Sikap menunggu dan mencari informasi tambahan bukan berarti seseorang tidak peduli terhadap suatu persoalan.
Sebaliknya, kehati-hatian merupakan bentuk tanggung jawab.
Hoaks tidak hanya berkaitan dengan dunia digital.
Dampaknya dapat dirasakan dalam kehidupan nyata.
Informasi palsu mengenai seseorang dapat merusak reputasi dan hubungan sosial. Informasi yang berkaitan dengan kelompok tertentu dapat menimbulkan prasangka. Sementara informasi yang bersifat provokatif dapat meningkatkan ketegangan di tengah masyarakat.
Dalam konteks daerah seperti Kabupaten Indramayu, menjaga komunikasi publik yang sehat menjadi tanggung jawab seluruh elemen masyarakat.
Masyarakat hidup berdampingan dalam lingkungan yang sama. Karena itu, sebuah informasi yang tidak benar dapat dengan mudah memengaruhi hubungan antarwarga apabila diterima tanpa pemeriksaan.
Persaudaraan dan kerukunan harus ditempatkan di atas kepentingan untuk menjadi orang pertama yang menyebarkan sebuah kabar.
Kelompok pemuda dan pelajar juga memiliki peran penting dalam menciptakan lingkungan digital yang sehat.
Generasi muda merupakan salah satu kelompok yang sangat aktif menggunakan teknologi digital.
Karena itu, kemampuan literasi digital perlu terus dikembangkan.
Literasi digital bukan hanya kemampuan menggunakan perangkat teknologi. Lebih dari itu, literasi digital mencakup kemampuan memahami, menilai, memeriksa, dan menggunakan informasi secara bertanggung jawab.
Pemuda dapat menjadi contoh bagi lingkungan sekitarnya dengan tidak mudah meneruskan informasi yang belum jelas.
Mereka juga dapat mengingatkan teman atau anggota keluarga apabila menemukan informasi yang patut dipertanyakan.
Dengan cara sederhana tersebut, budaya kritis dapat berkembang di masyarakat.
Tokoh masyarakat, tokoh pemuda, pengurus lingkungan, serta berbagai elemen masyarakat lainnya juga memiliki posisi strategis dalam menjaga ketenangan informasi di lingkungan masing-masing.
Ketika sebuah informasi kontroversial beredar, masyarakat sering kali mencari pendapat dari orang yang mereka percaya.
Karena itu, tokoh masyarakat perlu memberikan contoh dalam menggunakan media sosial secara bijak.
Tidak terburu-buru menyimpulkan sesuatu, tidak ikut menyebarkan informasi yang belum terverifikasi, dan mengarahkan masyarakat kepada sumber informasi yang dapat dipertanggungjawabkan merupakan langkah sederhana yang dapat memberikan dampak positif.
Perkembangan media sosial membuat popularitas sebuah konten sering diukur berdasarkan jumlah tayangan, komentar, tanda suka, dan jumlah orang yang membagikannya.
Namun, jumlah interaksi tidak selalu menunjukkan bahwa sebuah informasi benar.
Informasi yang salah juga dapat menjadi viral.
Karena itu, masyarakat perlu mengubah cara pandang bahwa menjadi orang pertama yang membagikan informasi bukanlah sebuah prestasi apabila informasi tersebut ternyata tidak benar.
Kebenaran harus ditempatkan di atas kecepatan.
Manfaat harus ditempatkan di atas sensasi.
Dan kepentingan bersama harus ditempatkan di atas keinginan mendapatkan perhatian.
Prinsip sederhana yang dapat diterapkan oleh setiap pengguna media sosial adalah:
Saring sebelum sharing.
Sebelum menekan tombol bagikan, luangkan waktu untuk membaca informasi secara lengkap.
Periksa siapa sumbernya.
Perhatikan tanggal dan konteksnya.
Bandingkan dengan sumber lain.
Jika masih meragukan, jangan menyebarkannya.
Kebiasaan sederhana tersebut dapat menjadi langkah nyata untuk mengurangi peredaran informasi palsu.
Tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi bukan berarti kehilangan kesempatan untuk mengikuti perkembangan zaman.
Justru sebaliknya, hal tersebut menunjukkan bahwa seseorang memiliki tanggung jawab dalam menggunakan teknologi.
Masyarakat tidak harus menunggu orang lain berubah terlebih dahulu.
Perubahan dapat dimulai dari diri sendiri.
Mulai dari tidak mudah percaya.
Tidak mudah terpancing.
Tidak langsung menyebarkan informasi.
Dan tidak menjadikan media sosial sebagai tempat untuk melampiaskan emosi.
C. Whita mengajak masyarakat Kabupaten Indramayu untuk bersama-sama menjaga suasana yang aman, damai, dan kondusif.
“Kita semua berharap Indramayu tetap aman, damai, dan kondusif. Maka dari itu, mari kita mulai dari diri sendiri: bijaklah dalam bermedia sosial, saring sebelum membagikan, dan utamakan kebenaran di atas segalanya. Karena kebenaran adalah fondasi persaudaraan kita, dan ketenangan masyarakat adalah tanggung jawab kita bersama,” demikian pesannya.
Ruang digital pada dasarnya merupakan bagian dari kehidupan masyarakat modern.
Apa yang terjadi di dunia maya dapat memengaruhi kehidupan nyata.
Karena itu, menciptakan ruang digital yang sehat bukan hanya tugas pemerintah, aparat penegak hukum, perusahaan teknologi, maupun organisasi media.
Setiap pengguna memiliki peran.
Satu orang yang memilih tidak menyebarkan hoaks telah menghentikan satu jalur penyebaran informasi yang belum tentu benar.
Satu orang yang memilih memeriksa fakta sebelum membagikan informasi telah membantu melindungi orang lain dari kemungkinan menerima informasi yang menyesatkan.
Dan satu orang yang memilih berdiskusi dengan kepala dingin telah ikut menjaga hubungan sosial di lingkungannya.
Media sosial memiliki banyak manfaat apabila digunakan secara bertanggung jawab.
Platform digital dapat digunakan untuk mendapatkan pengetahuan, mempromosikan usaha, membangun jaringan, menyampaikan informasi publik, mengembangkan kreativitas, dan mempererat hubungan sosial.
Karena itu, tantangannya bukan bagaimana menjauhi teknologi.
Tantangannya adalah bagaimana menggunakan teknologi dengan lebih cerdas.
Masyarakat perlu membangun kebiasaan digital yang sehat.
Ketika mendapatkan informasi, jangan langsung percaya.
Ketika menemukan informasi menarik, jangan langsung membagikan.
Ketika membaca sesuatu yang membuat marah, jangan langsung bereaksi.
Berhenti sejenak.
Periksa.
Pikirkan dampaknya.
Barulah mengambil keputusan.
Pesan yang disampaikan C. Whita menjadi pengingat bahwa ketentraman masyarakat merupakan sesuatu yang harus dijaga bersama.
Indramayu memiliki masyarakat dengan latar belakang dan pandangan yang beragam. Perbedaan tersebut merupakan bagian dari kehidupan sosial.
Karena itu, komunikasi yang sehat menjadi sangat penting.
Jangan sampai informasi yang belum terbukti kebenarannya menjadi penyebab rusaknya hubungan antarsesama.
Jangan sampai satu unggahan membuat seseorang kehilangan kepercayaan.
Jangan sampai satu pesan berantai menimbulkan keresahan.
Dan jangan sampai keinginan untuk menjadi viral membuat kita mengabaikan kebenaran.
Setiap pengguna media sosial memiliki pilihan.
Memilih menjadi bagian dari masalah atau menjadi bagian dari solusi.
Memilih ikut menyebarkan keresahan atau ikut menjaga ketenangan.
Memilih memperbesar perpecahan atau memperkuat persaudaraan.
Pilihan tersebut dimulai dari hal yang sangat sederhana: apa yang kita lakukan sebelum menekan tombol “bagikan”.
Hoaks memang dapat menyebar cepat seperti virus informasi. Namun, penyebarannya dapat dihentikan apabila masyarakat memiliki kesadaran untuk tidak meneruskan informasi yang belum terverifikasi.
Karena itu, mari bersama-sama membangun budaya bermedia sosial yang sehat.
Baca sebelum percaya.
Periksa sebelum berbagi.
Saring sebelum sharing.
Dan utamakan kebenaran di atas sensasi.
Sebab ketenangan masyarakat jauh lebih berharga daripada sebuah informasi yang viral sesaat.
Menjaga ruang digital bukan hanya tanggung jawab pemerintah atau media.
Menjaga ruang digital adalah tanggung jawab kita semua.
Laporan:
Kabiro Indramayu Media AnalisaSibernews.com
C. Whita
Indramayu, 31 Agustus 2026


Tidak ada komentar