

ANALISASIBERNEWS.COM I DEMAK – Sebuah rumah burung hantu (rubuha) berdiri kokoh di atas tiang setinggi sekitar tiga meter di tengah hamparan sawah Desa Mulyorejo, Kecamatan Demak, Kabupaten Demak, Kamis (6/8/2026). Keberadaan bangunan kecil berbahan kayu tersebut menjadi salah satu upaya pengendalian hama tikus secara alami di lahan pertanian.
Dari pantauan di lokasi, rubuha tampak berada di tengah area persawahan yang masih aktif digarap petani. Sebagian lahan terlihat dipenuhi jerami bekas panen, sedangkan petak lainnya telah ditanami padi muda yang mulai menghijau sebagai tanda dimulainya musim tanam baru.
Rumah burung hantu berfungsi sebagai tempat bersarang bagi burung hantu jenis Tyto alba atau serak jawa. Satwa ini dikenal sebagai predator alami tikus sawah yang selama ini menjadi salah satu hama utama tanaman padi dan kerap menyebabkan kerusakan sejak masa tanam hingga menjelang panen.
Serangan tikus yang tidak terkendali dapat mengakibatkan penurunan hasil produksi, bahkan memicu gagal panen di sejumlah lahan. Karena itu, pemanfaatan burung hantu menjadi alternatif pengendalian hama yang lebih ramah lingkungan dibandingkan penggunaan racun tikus berbahan kimia.

Seekor burung hantu dewasa mampu memangsa belasan ekor tikus dalam satu malam. Kemampuan tersebut dinilai efektif membantu menekan populasi hama secara alami sekaligus menjaga keseimbangan ekosistem di kawasan persawahan.
Selain memberikan manfaat ekologis, penggunaan rubuha juga dinilai lebih efisien dalam jangka panjang. Petani tidak perlu bergantung pada rodentisida maupun perangkap tikus secara terus-menerus apabila populasi burung hantu tetap terjaga.
Pemasangan rumah burung hantu kini mulai diterapkan di berbagai sentra pertanian sebagai bagian dari konsep Pengendalian Hama Terpadu (PHT). Program tersebut umumnya melibatkan kelompok tani, penyuluh pertanian, serta pemerintah daerah dalam mendorong praktik budidaya pertanian yang berkelanjutan.
Dengan semakin banyaknya rubuha yang dibangun di area persawahan, diharapkan populasi tikus dapat ditekan secara alami sehingga produktivitas pertanian tetap terjaga. Upaya ini juga menjadi salah satu bentuk penerapan pertanian ramah lingkungan yang mendukung ketahanan pangan di Kabupaten Demak.
Penulis: Hmd
Wartawan Jateng


Tidak ada komentar