
Oleh: Pengamat Kebijakan Publik dan Politik Kota Bandung

Bandung, 25 Mei 2026 — Kota Bandung tidak kekurangan potensi. Yang selama ini menjadi persoalan adalah belum hadirnya sistem tata kelola yang mampu memastikan kekuasaan, anggaran, dan pelayanan publik benar-benar bekerja untuk kepentingan masyarakat, bukan hanya untuk kelompok tertentu.
Rilis akademik ini menawarkan lima gagasan strategis berbasis evidence, reformasi birokrasi, dan prinsip good governance guna mewujudkan Kota Bandung yang bebas dari kebocoran anggaran, korupsi pengadaan, kemacetan struktural, serta pelayanan publik yang lamban dan tidak terintegrasi.
Sebagian besar kebocoran APBD diduga terjadi pada tahap perencanaan dan pengadaan proyek. Publik sering kali baru mengetahui sebuah proyek setelah selesai atau ketika muncul persoalan hukum dan kualitas pekerjaan.

Transparansi dan tekanan publik diyakini dapat menekan praktik penyimpangan proyek. Data internasional menunjukkan penerapan open contracting mampu memangkas biaya pengadaan hingga 9–15 persen.
Sistem pengawasan internal dinilai masih lemah akibat potensi konflik kepentingan struktural, sementara audit reguler sering kali bersifat sampling.
Efek jera terhadap penyimpangan anggaran meningkat. Setiap paket proyek bernilai di atas Rp1 miliar dapat diuji secara forensik sehingga memutus rantai praktik “main proyek” lintas birokrasi.
Sebagian besar anggaran infrastruktur masih terserap untuk pembangunan jalan dan fasilitas kendaraan pribadi, sementara transportasi publik dan fasilitas pejalan kaki belum menjadi prioritas utama.
Kota menjadi lebih manusiawi, kualitas udara membaik, serta produktivitas warga meningkat. Konsep serupa telah diterapkan di berbagai kota dunia seperti Medellín dan Paris.
Masyarakat masih harus berpindah-pindah dinas untuk mengurus berbagai layanan seperti IMB, PBB, SIUP, sampah, hingga layanan air bersih karena belum adanya integrasi data antarlembaga.
Biaya ekonomi akibat birokrasi berbelit diproyeksikan turun hingga 30 persen. Kepuasan publik meningkat dan ruang praktik pungutan liar semakin sempit.
Forum Musrenbang dinilai sering bersifat formalitas, sementara masyarakat belum sepenuhnya mengetahui arah penggunaan anggaran daerah.
APBD menjadi lebih responsif terhadap kebutuhan masyarakat. Politik anggaran tidak lagi didominasi elite semata. Model serupa di Porto Alegre, Brasil, disebut berhasil menekan korupsi lokal secara signifikan.
Wali Kota tidak cukup hanya bekerja keras secara administratif. Yang dibutuhkan Bandung saat ini adalah keberanian melakukan redesign sistem tata kelola pemerintahan.
Pemimpin besar diukur dari keberaniannya membongkar kebiasaan buruk di dalam sistem yang dipimpinnya sendiri.
Sekda harus menjadi Chief Operating Officer kota yang memastikan:
Tanpa langkah konkret dari kedua posisi strategis tersebut, Bandung dikhawatirkan akan terus berada dalam siklus persoalan yang sama: proyek mangkrak, kemacetan kronis, dan menurunnya kepercayaan publik.
Bandung memiliki modal besar:
Yang dibutuhkan hanyalah keberanian politik untuk mengubah aturan main.
Program ini dapat menjadi target teknokratis yang realistis apabila lima gagasan di atas dijalankan secara konsisten, terukur, dan diawasi publik.
Pertanyaannya bukan lagi:
“Apakah bisa?”
Melainkan:
R. WEMPY SYAMKARYA, S.H., M.H.
DEWAN PENASEHAT : AnalisasiberNews.com


Tidak ada komentar