x
Hotline News

Dari Ambon ke Cirebon: Ketika Keraton Kasepuhan Membuat Wisatawan Jatuh Hati pada Sejarah

waktu baca 3 menit
Jumat, 15 Mei 2026 19:26 38 Aziz Redaksi Jabar

CIREBON ,AnalisaSiberNews.Com l– Di tengah zaman ketika banyak orang lebih sibuk memburu sudut foto daripada makna, Keraton Kasepuhan Cirebon justru membuktikan bahwa sejarah masih punya daya pikat yang tak lekang oleh waktu.

Bangunan tua itu tidak sekadar berdiri sebagai saksi bisu masa lalu. Ia tetap bernapas, menyimpan jejak kejayaan Kesultanan Cirebon, dan mengundang siapa pun untuk menelusuri lorong-lorong sejarah yang tak pernah kehilangan pesonanya.

Pesona itulah yang dirasakan Nona Nisahole, wisatawan asal Batu Merah, Kota Ambon, Maluku. Bersama keluarganya, ia datang ke Cirebon setelah menempuh perjalanan panjang melewati Purwakarta dan Indramayu.

Dan begitu melangkah ke halaman Keraton Kasepuhan, ia seperti menemukan sesuatu yang tak bisa dibeli oleh tiket perjalanan: kekaguman.

“Alhamdulillah senang hati sudah lihat semua peninggalan yang ada di museum. Suasananya bagus sekali dan indah sekali. Hati senang kalau kita ke sini,” ujarnya.

Ucapan sederhana itu menyimpan makna mendalam. Sebab di tengah hiruk-pikuk wisata modern, Keraton Kasepuhan masih mampu membuat seorang pengunjung dari timur Indonesia merasa dekat dengan denyut sejarah Nusantara.

Keraton Kasepuhan bukan sekadar destinasi wisata. Ia adalah ruang perjumpaan antara masa lalu dan masa kini. Dinding-dindingnya menyimpan cerita tentang kebesaran budaya Cirebon, sementara koleksi museum di dalamnya menjadi pengingat bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jejak perjalanannya.

Nona mengaku terkesan dengan penataan museum yang rapi dan lengkap. Menurutnya, setiap koleksi terasa hidup berkat penjelasan para pemandu wisata yang ramah dan komunikatif.

“Spot museum dan peninggalan sejarahnya bagus sekali. Pemandunya juga bagus dan ramah menjelaskan kepada kami,” katanya.

Di luar bangunan utama, suasana keraton tampak semarak. Wisatawan datang silih berganti, sementara aktivitas masyarakat menambah warna tersendiri. Saat itu, area belakang keraton juga dipadati peserta kegiatan pesantren, menciptakan perpaduan harmonis antara tradisi, spiritualitas, dan pariwisata.

Pemandangan tersebut menjadi ironi yang indah: di tempat yang menyimpan cerita ratusan tahun silam, kehidupan justru terus bergerak, menegaskan bahwa sejarah bukan barang mati, melainkan warisan yang tetap hidup.

Tak lengkap rasanya berkunjung ke Cirebon tanpa mencicipi kuliner khasnya. Nona pun berencana menikmati ragam sajian legendaris kota udang sebelum kembali ke Ambon.

Ia berharap suatu hari dapat kembali lagi.

Dan mungkin, seperti banyak wisatawan lainnya, ia akan pulang membawa lebih dari sekadar foto. Ia akan membawa cerita—bahwa di Cirebon, ada sebuah keraton yang tak hanya memamerkan masa lalu, tetapi juga mengajarkan bahwa sejarah selalu punya cara untuk menyentuh hati.

Keraton Kasepuhan membuktikan, waktu boleh berlalu, tetapi pesona warisan budaya tak pernah benar-benar menua. Ia hanya menunggu untuk kembali dikagumi.

Tim investigasi
Aziz

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA
x
x