Analisasibernews.com, SINTANG – Dalam upaya memitigasi risiko bencana kabut asap dan kerusakan lingkungan, Tim Satgas Penyuluhan dari Markas Besar (Mabes) TNI menggelar sosialisasi intensif terkait pencegahan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di wilayah perbatasan, tepatnya bagi masyarakat Desa Sungai Areh dan Desa Begalang Jaya, Kecamatan Ketungau Tengah, Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat, pada Rabu (2/9/2026).
Kegiatan yang berlangsung pukul 09.00 WIB ini dipimpin langsung oleh Ketua Tim Satgas Karhutla Mabes TNI, Brigjen TNI Parlindungan Hutagalung, didampingi Wakil Ketua, Brigjen TNI Zamroni. Program ini berfokus pada pendekatan edukatif, penguatan deteksi dini, teknik pembasahan lahan, serta orkestrasi operasi terpadu lintas sektor.
Dalam arahannya, pimpinan Satgas menegaskan bahwa strategi penanganan karhutla harus mengalami pergeseran paradigma. TNI berkomitmen untuk tidak lagi sekadar mengandalkan respons pemadaman reaktif saat api telah membesar, melainkan memprioritaskan intervensi preventif sejak dini secara menyeluruh.
Aksentuasi Strategi Preventif dan Deteksi Dini :
Materi penyuluhan taktis disampaikan secara komprehensif oleh dua narasumber utama, yakni Kolonel Inf Firganzah, S.T. (Staf Ahli Koops Udara Nasional) dan Kapten Arh Murianto, S.T., M.M. (Komandan Koramil di bawah jajaran Kodim 0820/Probolinggo, Korem 083/Baladhika Jaya, Kodam V/Brawijaya).
Kolonel Firganzah menggarisbawahi pentingnya optimalisasi pengawasan dan deteksi dini melalui sinergi patroli darat maupun udara secara berkala. Langkah ini diintegrasikan bersama Pemerintah Daerah, Polri, dan elemen masyarakat adat setempat.
“Akselerasi pengawasan ini bertujuan agar setiap kemunculan titik panas (hotspot), sekecil apa pun skalanya, dapat segera diidentifikasi, diisolasi, dan dilokalisasi sebelum meluas menjadi ancaman destruktif,” ujar Kolonel Firganzah.
Transformasi Agrikultur Berkelanjutan :
Lebih lanjut, tim penyuluh mengedukasi masyarakat secara persuasif melalui pendekatan door-to-door dengan memberdayakan peran aktif Bintara Pembina Desa (Babinsa). Salah satu substansi krusial yang ditanamkan adalah perubahan perilaku agrikultur dalam pembukaan lahan.
Masyarakat dibekali pemahaman sosiologis dan teknis untuk meninggalkan metode pembakaran tradisional (slash-and-burn). Sebagai gantinya, mereka diarahkan untuk mengadopsi metode konversi ekologis, yakni mengumpulkan sisa material vegetasi untuk diolah menjadi pupuk kompos organik yang bernilai guna tinggi bagi pertanian setempat.
Komando Terintegrasi dan Pemberdayaan Garda Terdepan :
Tim Penyuluh Mabes TNI juga mengaksentuasi pentingnya sistem komando yang terintegrasi. Selain memperkokoh koordinasi struktural bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Kepolisian, Satgas TNI aktif mendorong pembentukan serta pembekalan kapasitas Kelompok Masyarakat Peduli Api (MPA). MPA diposisikan sebagai struktur penentu (garda terdepan) dalam deteksi dan penanganan awal di level domestik perdesaan.
Agenda strategis ini dihadiri oleh sekitar 35 peserta yang merepresentasikan struktur formil dan informil kedua desa, di antaranya:
Aparatur Pemerintah Desa (Sekretaris Desa, Bendahara Desa, Kepala Seksi Pemerintahan, Kepala Seksi Kesejahteraan Rakyat, serta Kepala Urusan Wilayah) dari Desa Sungai Areh dan Desa Begalang Jaya.
Ketua beserta anggota Badan Permusyawaratan Desa (BPD) dari kedua wilayah.
Perwakilan jajaran UPTD, Ketua RT, tokoh masyarakat, serta personel Babinsa Koramil Ketungau Tengah.
Melalui edukasi berbasis kemitraan ini, Mabes TNI berharap dapat membangun ketahanan lingkungan yang kokoh dan berkelanjutan di wilayah Kalimantan Barat. ( Wid )
Tidak ada komentar