

LUBUK PAKAM, ANALISASIBERNEWS.COM – Layanan Bus Rapid Transit (BRT) Mebidang resmi diluncurkan dan mulai menjalani masa uji coba di Terminal Lubuk Pakam, Deli Serdang, Sumatera Utara, Rabu (20/8/2026). Kehadiran transportasi publik berbasis bus listrik ini menjadi bagian penting dalam upaya memperkuat konektivitas masyarakat di kawasan Medan, Binjai, dan Deli Serdang.

Peluncuran BRT Mebidang menjadi salah satu langkah strategis pemerintah dalam mendorong masyarakat untuk menggunakan transportasi umum yang lebih teratur, nyaman, aman, dan terintegrasi. Program tersebut juga diharapkan dapat menjadi alternatif bagi masyarakat yang selama ini bergantung pada kendaraan pribadi untuk melakukan aktivitas sehari-hari.
Acara peluncuran di Terminal Lubuk Pakam dihadiri sejumlah pejabat pemerintah pusat dan daerah. Bupati Deli Serdang Asri Ludin Tambunan bersama Wakil Bupati Deli Serdang Lom Lom Suwondo hadir langsung dalam kegiatan tersebut. Turut hadir Gubernur Sumatera Utara Muhammad Bobby Afif Nasution serta Direktur Angkutan Jalan Direktorat Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan Muiz Thohir.

Peluncuran ini sekaligus menandai dimulainya tahapan pengenalan dan pengujian operasional BRT Mebidang sebelum layanan tersebut diterapkan secara penuh.
Pada tahap awal uji coba, sebanyak dua unit bus listrik dioperasikan untuk melayani lintasan BRT Mebidang. Jumlah armada tersebut masih terbatas karena pemerintah dan operator perlu melakukan evaluasi terhadap berbagai aspek pelayanan sebelum seluruh armada diterjunkan.
Uji coba menjadi tahapan penting untuk mengetahui kondisi operasional di lapangan. Beberapa hal yang menjadi perhatian antara lain waktu tempuh, kondisi rute, pola pergerakan penumpang, titik pemberhentian, kesiapan pengemudi, serta efektivitas pelayanan kepada masyarakat.
Selain itu, masa uji coba juga menjadi kesempatan bagi masyarakat untuk mengenal sistem transportasi baru tersebut. Dengan demikian, ketika seluruh armada mulai beroperasi, masyarakat diharapkan sudah mengetahui rute, halte atau titik pemberhentian, serta cara menggunakan layanan BRT.
Pemerintah menargetkan BRT Mebidang dapat beroperasi secara penuh pada 8 Desember 2026. Dalam operasional penuh tersebut, total armada yang disiapkan mencapai 30 bus listrik.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 13 unit bus akan melayani Koridor 11 dengan rute Teladan–Lubuk Pakam. Sementara itu, 14 unit lainnya disiapkan untuk melayani Koridor 12 dengan rute Simpang Barat–Binjai.
Adapun tiga unit bus lainnya akan disiapkan sebagai armada cadangan untuk mendukung kelancaran operasional apabila terdapat kendaraan yang membutuhkan perawatan atau terjadi kebutuhan tambahan di lapangan.
Untuk menunjang operasional BRT Mebidang, pemerintah juga menyiapkan titik-titik pemberhentian baru yang tersebar di sejumlah wilayah yang dilalui koridor.
Secara keseluruhan terdapat 121 titik pemberhentian yang disiapkan. Sebanyak 68 titik berada pada rute Teladan–Terminal Lubuk Pakam, sedangkan 53 titik lainnya berada pada rute Simpang Barat–Binjai.
Penambahan titik pemberhentian tersebut diharapkan dapat memberikan kemudahan kepada masyarakat untuk mengakses transportasi publik. Masyarakat tidak harus menempuh jarak yang terlalu jauh untuk mendapatkan layanan bus.
Keberadaan titik pemberhentian juga menjadi bagian penting dari sistem BRT karena pelayanan transportasi publik tidak hanya bergantung pada jumlah armada, tetapi juga keterjangkauan akses dari permukiman, pusat kegiatan ekonomi, kawasan pendidikan, fasilitas pemerintahan, hingga pusat pelayanan masyarakat.
Dengan semakin banyaknya titik pemberhentian yang mudah dijangkau, pemerintah berharap masyarakat semakin tertarik menggunakan BRT untuk perjalanan harian.
Salah satu daya tarik utama dalam masa uji coba BRT Mebidang adalah masyarakat dapat menggunakan layanan tersebut secara gratis.
Kebijakan ini memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk mencoba langsung fasilitas transportasi publik baru tanpa harus mengeluarkan biaya perjalanan. Selain sebagai bentuk pengenalan layanan, masa gratis juga dapat dimanfaatkan pemerintah untuk mendapatkan masukan langsung dari pengguna.
Masyarakat dapat memberikan pengalaman dan masukan terkait kenyamanan bus, waktu kedatangan, kepadatan penumpang, akses menuju titik pemberhentian, serta berbagai aspek pelayanan lainnya.
Masa uji coba gratis juga diharapkan dapat meningkatkan minat masyarakat untuk meninggalkan kendaraan pribadi dan beralih menggunakan transportasi umum.
Setelah BRT Mebidang beroperasi secara penuh, tarif layanan akan diberlakukan. Tarif untuk penumpang umum ditetapkan sebesar Rp4.300.
Sementara itu, tarif khusus sebesar Rp3.000 diberikan kepada pelajar, penyandang disabilitas, dan lanjut usia atau lansia.
Perbedaan tarif tersebut merupakan bentuk perhatian pemerintah terhadap kelompok masyarakat yang membutuhkan dukungan akses transportasi dengan biaya lebih terjangkau.
Untuk mendukung kemudahan pengguna, masyarakat juga dapat memanfaatkan aplikasi TransumUt. Aplikasi tersebut dapat digunakan untuk memperoleh informasi mengenai rute perjalanan dan memantau posisi bus secara real time.
Kehadiran teknologi digital menjadi bagian penting dalam pengembangan transportasi publik modern. Dengan informasi posisi bus secara langsung, calon penumpang dapat memperkirakan waktu kedatangan kendaraan sehingga tidak perlu terlalu lama menunggu di titik pemberhentian.
Aplikasi tersebut juga dapat digunakan untuk mendaftar atau mengakses informasi mengenai tarif khusus bagi kelompok penumpang tertentu.
Digitalisasi layanan transportasi diharapkan mampu meningkatkan transparansi dan memberikan pengalaman perjalanan yang lebih baik bagi masyarakat.
Ke depan, integrasi teknologi juga dapat dikembangkan bersama sistem pembayaran dan layanan transportasi umum lainnya di kawasan Mebidang.
Gubernur Sumatera Utara Muhammad Bobby Afif Nasution menegaskan bahwa pembangunan BRT Mebidang tidak hanya berkaitan dengan pengadaan bus. Menurutnya, keberadaan BRT merupakan bagian dari upaya membangun sistem transportasi publik yang terintegrasi di kawasan Mebidang.
Kawasan Medan, Binjai, dan Deli Serdang memiliki hubungan aktivitas masyarakat yang sangat tinggi. Mobilitas penduduk di antara ketiga wilayah tersebut berlangsung setiap hari untuk berbagai keperluan, mulai dari bekerja, sekolah, kuliah, berdagang, mengurus administrasi, hingga kegiatan sosial.
Karena itu, sistem transportasi yang terintegrasi menjadi kebutuhan penting agar mobilitas masyarakat dapat berlangsung lebih efisien.
Bobby Nasution juga mendorong agar ke depan masyarakat dapat berpindah dari satu koridor ke koridor lainnya dengan menggunakan satu sistem pembayaran.
“Ke depan, tujuannya pasti terintegrasi sehingga kalau kita mau ke Binjai, mau ke Deli Serdang, mau ke mana pun, bayarnya sekali saja,” ujarnya.
Konsep tersebut apabila dapat diterapkan secara optimal akan memberikan kemudahan bagi masyarakat. Penumpang tidak perlu melakukan proses pembayaran berulang ketika harus berpindah kendaraan atau koridor dalam satu perjalanan.
Pengembangan BRT Mebidang juga memiliki kaitan erat dengan upaya mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap kendaraan pribadi.
Pertumbuhan jumlah kendaraan di kawasan perkotaan dapat memberikan tekanan terhadap jaringan jalan. Semakin banyak kendaraan yang digunakan secara bersamaan, semakin besar pula potensi kemacetan, terutama pada jam sibuk.
Transportasi umum yang nyaman, aman, tepat waktu, dan memiliki jaringan rute yang luas dapat menjadi salah satu solusi untuk mengurangi penggunaan kendaraan pribadi.
BRT dengan armada bus listrik juga memberikan nilai tambah dari sisi teknologi kendaraan. Penggunaan bus listrik menjadi bagian dari perkembangan transportasi yang lebih ramah lingkungan dan mendukung upaya pengurangan emisi dari sektor transportasi.
Namun, keberhasilan program tersebut pada akhirnya sangat bergantung pada kualitas pelayanan dan tingkat kepercayaan masyarakat. Apabila masyarakat merasa nyaman, aman, mudah mendapatkan informasi, serta memperoleh tarif yang terjangkau, peluang penggunaan transportasi publik secara rutin akan semakin besar.
Direktur Angkutan Jalan Ditjen Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan Muiz Thohir mengapresiasi kolaborasi antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah dalam menghadirkan layanan transportasi publik modern di kawasan Mebidang.
Kolaborasi tersebut dinilai penting karena pengelolaan transportasi yang melintasi batas administratif membutuhkan kerja sama antarwilayah.
Medan, Binjai, dan Deli Serdang merupakan kawasan yang memiliki keterkaitan aktivitas masyarakat. Karena itu, transportasi publik tidak dapat hanya dirancang berdasarkan batas wilayah pemerintahan.
Diperlukan koordinasi mengenai rute, titik pemberhentian, pengelolaan armada, sistem pembayaran, integrasi antarmoda, hingga pembiayaan operasional.
Keterlibatan pemerintah pusat juga memberikan dukungan dalam aspek kebijakan dan pengembangan sistem transportasi. Sementara pemerintah daerah memiliki peran penting dalam memastikan layanan tersebut dapat menjawab kebutuhan masyarakat di wilayah masing-masing.
Untuk menjaga keberlanjutan layanan BRT Mebidang, pengelolaan transportasi tersebut selanjutnya diarahkan menuju skema Badan Usaha Milik Daerah atau BUMD bersama.
Skema tersebut melibatkan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara, Pemerintah Kabupaten Deli Serdang, Pemerintah Kota Medan, dan Pemerintah Kota Binjai.
Konsep kerja sama antarpemerintah daerah tersebut diharapkan dapat memberikan fondasi pengelolaan yang lebih berkelanjutan.
Pengelolaan bersama juga menjadi penting karena jaringan BRT tidak hanya melayani satu daerah. Rute yang menghubungkan beberapa wilayah membutuhkan sistem pengelolaan yang mampu mengoordinasikan kepentingan seluruh daerah yang dilalui.
Dengan adanya kelembagaan yang jelas, pemerintah dapat melakukan evaluasi dan pengembangan layanan secara lebih terarah.
Transportasi publik yang semakin baik juga berpotensi memberikan dampak positif terhadap aktivitas ekonomi masyarakat.
Kemudahan mobilitas dapat membantu pekerja mencapai lokasi pekerjaan, pelajar menuju sekolah, mahasiswa menuju kampus, serta masyarakat mengakses pusat perdagangan dan pelayanan publik.
BRT juga dapat memberikan kemudahan bagi masyarakat yang tidak memiliki kendaraan pribadi.
Dengan tarif yang relatif terjangkau setelah layanan beroperasi penuh, transportasi umum dapat menjadi pilihan perjalanan sehari-hari bagi berbagai kelompok masyarakat.
Konektivitas yang semakin baik juga berpotensi mendukung aktivitas pelaku usaha kecil dan menengah. Pusat-pusat perdagangan yang terhubung dengan jaringan transportasi publik dapat lebih mudah dijangkau masyarakat.
Dalam jangka panjang, pembangunan transportasi publik yang terintegrasi diharapkan mampu mendukung pertumbuhan kawasan Mebidang secara lebih terencana.
Masa uji coba menjadi momentum bagi masyarakat untuk mengenal BRT Mebidang secara langsung.
Masyarakat dapat mencoba layanan tersebut sekaligus memberikan masukan mengenai berbagai hal yang masih perlu diperbaiki. Evaluasi dari pengguna akan menjadi bagian penting dalam proses penyempurnaan sebelum operasional penuh dimulai.
Masyarakat juga diharapkan menjaga fasilitas yang tersedia. Bus listrik dan titik pemberhentian merupakan fasilitas publik yang penggunaannya harus dilakukan secara bersama-sama.
Kebersihan, ketertiban, dan keamanan selama perjalanan menjadi tanggung jawab seluruh pengguna.
Penumpang juga diharapkan mengikuti aturan yang ditetapkan operator, termasuk menaiki dan turun dari bus pada titik yang telah ditentukan.
Dengan dukungan masyarakat, pemerintah, operator, dan seluruh pemangku kepentingan, BRT Mebidang diharapkan dapat berkembang menjadi salah satu tulang punggung transportasi publik di kawasan Sumatera Utara.
Peluncuran BRT Mebidang bukan hanya menghadirkan kendaraan baru di jalan raya. Lebih jauh, program tersebut menjadi bagian dari perubahan pola transportasi masyarakat di kawasan perkotaan dan wilayah penyangga.
Konektivitas Medan, Binjai, dan Deli Serdang yang semakin kuat membutuhkan sistem transportasi yang mampu mengikuti perkembangan jumlah penduduk dan aktivitas ekonomi.
Dengan armada bus listrik, rute yang terencana, ratusan titik pemberhentian, dukungan aplikasi digital, serta rencana integrasi pembayaran, BRT Mebidang memiliki potensi menjadi layanan transportasi publik yang memberikan manfaat besar bagi masyarakat.
Keberhasilan program tersebut tentu membutuhkan proses. Masa uji coba menjadi tahapan untuk memastikan berbagai komponen layanan dapat berjalan dengan baik sebelum seluruh armada dioperasikan.
Target operasional penuh pada 8 Desember 2026 menjadi tonggak berikutnya dalam pengembangan transportasi publik di kawasan Mebidang.
Apabila seluruh rencana dapat berjalan sesuai target, masyarakat nantinya memiliki pilihan perjalanan yang lebih beragam dan terjangkau untuk menghubungkan sejumlah kawasan di Medan, Binjai, dan Deli Serdang.
Pada akhirnya, keberadaan BRT Mebidang diharapkan bukan sekadar menjadi proyek transportasi, melainkan menjadi bagian dari sistem mobilitas masyarakat yang berkelanjutan.
Transportasi publik yang nyaman dan terintegrasi dapat membantu menciptakan perjalanan yang lebih efisien sekaligus mendukung pertumbuhan kawasan perkotaan.
Masyarakat kini dapat memanfaatkan masa uji coba untuk mengenal layanan tersebut secara langsung. Evaluasi dan masukan dari pengguna diharapkan menjadi dasar perbaikan sehingga ketika memasuki operasional penuh, BRT Mebidang benar-benar mampu memberikan pelayanan yang aman, nyaman, terjangkau, dan sesuai kebutuhan masyarakat.
Turut hadir dalam peluncuran tersebut Wakil Wali Kota Medan Zakiyuddin Harahap, Wali Kota Binjai Amir Hamzah, jajaran pemerintah daerah, unsur terkait, serta para tamu undangan lainnya.
Penulis: S. Tarigan
Sumber: Diskominfostan Deli Serdang
Redaksi: AnalisasiberNews.com
Catatan Redaksi: Artikel ini disusun berdasarkan informasi yang diberikan dari Diskominfostan Deli Serdang. Pembaca disarankan mengikuti informasi resmi pemerintah/operator untuk mengetahui perubahan jadwal, rute, tarif, dan ketentuan layanan BRT Mebidang.


Tidak ada komentar