SURABAYA | AnalisasiberNews.com — Sebanyak 23 siswa Pendidikan Komando Pasukan Katak (Dikkopaska) Angkatan ke-49 mengikuti Upacara Tradisi Pembaretan yang menandai keberhasilan mereka melewati rangkaian pendidikan dan latihan sebagai calon prajurit Pasukan Katak TNI Angkatan Laut.

Kegiatan tersebut berlangsung di Lapangan Apel Sekolah Komando Pasukan Katak, Surabaya, Selasa (11/8/2026). Upacara dipimpin oleh Komandan Pusat Pasukan Katak (Danpuskopaska) Koarmada RI Laksma TNI Sadarianto dan turut dihadiri Komandan Kodikopsla Kodiklatal Laksma TNI Avianto Rooswirawan.
Pembaretan Jadi Simbol Kehormatan dan Tanggung Jawab
Upacara pembaretan menjadi momentum penting sekaligus simbol diterimanya para siswa sebagai bagian dari keluarga besar prajurit Komando Pasukan Katak.
Baret yang disematkan bukan sekadar identitas satuan, tetapi juga mengandung makna kehormatan, tanggung jawab, jiwa korsa, dan pengabdian kepada bangsa dan negara.
Penyematan baret menjadi penanda bahwa para siswa telah melewati berbagai tahapan pendidikan dan latihan yang menuntut ketahanan fisik dan mental, kedisiplinan, keberanian, serta kemampuan khusus sebagai bagian dari proses pembentukan prajurit Pasukan Katak.
Bukan Akhir Pendidikan, tetapi Awal Pengabdian
Dalam amanatnya, Danpuskopaska Koarmada RI menekankan bahwa tradisi pembaretan bukanlah akhir dari perjuangan, melainkan awal dari tanggung jawab yang lebih besar dalam melaksanakan pengabdian kepada bangsa dan negara.
Para prajurit diharapkan senantiasa memegang teguh disiplin, loyalitas, keberanian, dan kehormatan korps. Selain itu, mereka juga dituntut untuk terus meningkatkan profesionalisme serta kemampuan dalam menghadapi berbagai tuntutan penugasan.
Semangat pantang menyerah dan penuh tanggung jawab menjadi bagian penting dalam menjalankan setiap tugas yang diberikan.
Diharapkan Menjadi Prajurit Profesional
Dengan disematkannya baret, para siswa Dikkopaska Angkatan ke-49 diharapkan mampu menjaga kehormatan dan nama baik korps.
Seluruh pengetahuan, keterampilan, serta nilai-nilai keprajuritan yang diperoleh selama menjalani pendidikan diharapkan dapat diterapkan dalam pelaksanaan tugas.
Bekal tersebut menjadi bagian dari proses pembentukan prajurit Pasukan Katak yang tangguh, profesional, berkarakter, serta siap melaksanakan tugas sesuai tuntutan organisasi dan kepentingan bangsa dan negara.
Tradisi pembaretan sekaligus menjadi pengingat bagi para prajurit bahwa setiap simbol yang melekat pada seragam membawa konsekuensi berupa tanggung jawab untuk menjaga kehormatan korps dan menjalankan tugas secara profesional.
Sumber: Dispen Kodiklatal
Pewarta: Wid
Editor: Redaksi AnalisasiberNews.com
Tidak ada komentar