

DEPOK |AnalisasiberNews.com — Menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang berpotensi meluas di berbagai wilayah Indonesia, Korps Sabhara Baharkam Polri mengambil langkah taktis dan respons cepat dengan memperkuat kesiapsiagaan personel serta sarana prasarana penanganan Karhutla.

Korps Sabhara Baharkam Polri menggelar Apel Gelar Pasukan Penanganan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) Tahun Anggaran 2026 secara serentak di seluruh Polda jajaran se-Indonesia, Selasa (11/8/2026).
Kegiatan terpusat berlangsung di Lapangan Apel Mako Korps Sabhara Baharkam Polri, Depok, Jawa Barat. Apel tersebut dipimpin langsung oleh Kakorsabhara Baharkam Polri Irjen Pol Dr. M. Nazly Harahap, S.I.K., M.H., M.M.

Apel gelar pasukan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat kesiapsiagaan Polri dalam menghadapi potensi Karhutla, sekaligus memastikan personel dan peralatan dapat digerakkan secara cepat apabila terjadi kebakaran di wilayah yang membutuhkan penanganan.
Dengan mengusung semangat “Siap, Solid dan Berhasil”, seluruh personel yang terlibat diarahkan untuk mengedepankan deteksi dini, respons cepat, koordinasi lintas instansi, serta perlindungan terhadap masyarakat dan lingkungan.
Berdasarkan data yang disampaikan dalam kegiatan tersebut, sepanjang Januari hingga Juni 2026, kebakaran telah berdampak terhadap lebih dari 107 ribu hektare lahan di sejumlah wilayah Indonesia, termasuk Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Jawa, dan wilayah lainnya.

Kondisi cuaca panas, kekeringan, angin kencang, serta aktivitas manusia menjadi sejumlah faktor yang dapat meningkatkan risiko terjadinya kebakaran hutan dan lahan.
Salah satu persoalan yang menjadi perhatian adalah praktik pembukaan lahan dengan cara membakar. Jika tidak dikendalikan, aktivitas tersebut dapat memicu kebakaran yang sulit dipadamkan dan berpotensi menimbulkan dampak luas terhadap lingkungan maupun kehidupan masyarakat.
Menghadapi kondisi tersebut, Polri menekankan pentingnya kesiapsiagaan seluruh jajaran agar potensi kebakaran dapat diketahui sedini mungkin dan segera ditangani sebelum berkembang menjadi bencana yang lebih besar.
Dalam arahannya, Irjen Pol M. Nazly Harahap menegaskan bahwa penanganan Karhutla tidak dapat dilakukan oleh satu institusi saja.
“Penanganan Karhutla tidak bisa dilakukan secara parsial. Ini adalah perang bersama melawan perusak lingkungan. Kita butuh sinergi yang kokoh antara Polri, TNI, Pemerintah Daerah, dinas pemadam kebakaran, BPBD, Manggala Agni, dunia usaha, serta partisipasi aktif masyarakat. Deteksi dini harus tajam, dan respons harus secepat kilat di lapangan,” tegas Irjen Nazly Harahap dalam arahannya.
Menurutnya, sinergi antarinstansi menjadi salah satu faktor penting dalam menghadapi Karhutla, khususnya ketika kebakaran terjadi di wilayah yang sulit dijangkau atau memiliki kondisi geografis dan cuaca yang menyulitkan proses pemadaman.
Koordinasi antara aparat keamanan, pemerintah daerah, petugas pemadam kebakaran, BPBD, Basarnas, Manggala Agni, dunia usaha, serta masyarakat dinilai perlu terus diperkuat.
Dalam apel terpusat di Mako Korsabhara Baharkam Polri, Depok, kekuatan lintas instansi turut dikerahkan.
Sebanyak 360 personel Polri mengikuti apel bersama 20 personel Basarnas, 20 petugas Damkar Kota Depok, dan 20 personel BPBD.
Kekuatan tersebut menjadi bagian dari kesiapsiagaan penanganan Karhutla yang secara bersamaan dilakukan jajaran kepolisian di berbagai daerah.
Kehadiran personel gabungan menunjukkan bahwa penanganan kebakaran hutan dan lahan membutuhkan kerja bersama dengan pembagian tugas yang jelas, mulai dari pemantauan wilayah, deteksi titik api, evakuasi masyarakat apabila diperlukan, pemadaman, hingga penanganan pascakebakaran.
Kesiapan personel juga harus didukung kemampuan menggunakan peralatan operasional secara tepat dan aman. Karena itu, apel gelar pasukan tidak hanya menjadi kegiatan seremonial, tetapi juga menjadi momentum untuk memastikan seluruh unsur yang terlibat memahami tugas dan tanggung jawab masing-masing.
Apel gelar pasukan serentak tersebut juga dimaksudkan untuk menyatukan persepsi dan meningkatkan kesiapan operasional dalam menghadapi potensi Karhutla.
Kesiapan tersebut mencakup personel, sarana dan prasarana, pola koordinasi, hingga mekanisme respons ketika terjadi kebakaran.
Dengan kesiapan yang terukur, personel diharapkan mampu bergerak cepat ketika menerima informasi mengenai adanya titik api atau kebakaran di wilayah tugas masing-masing.
Langkah tersebut menjadi penting mengingat kondisi kebakaran dapat berubah dengan cepat akibat faktor angin, temperatur, kondisi vegetasi, serta tingkat kekeringan lahan.
Polri bersama instansi terkait juga perlu memastikan bahwa setiap informasi mengenai potensi Karhutla dapat segera ditindaklanjuti sehingga kebakaran tidak berkembang menjadi lebih luas.
Selain kesiapan aparat, pencegahan Karhutla juga membutuhkan keterlibatan masyarakat dan dunia usaha.
Korps Sabhara Baharkam Polri bersama jajaran terkait mengingatkan agar masyarakat tidak melakukan pembukaan lahan dengan cara membakar.
Masyarakat juga diharapkan segera melaporkan apabila menemukan titik api atau indikasi kebakaran di wilayahnya.
Partisipasi masyarakat menjadi bagian penting dalam sistem deteksi dini. Semakin cepat informasi diterima petugas, semakin besar peluang kebakaran dapat ditangani sebelum meluas.
Hal yang sama berlaku bagi perusahaan atau korporasi yang memiliki aktivitas di wilayah rawan Karhutla. Pengawasan terhadap area kerja dan lingkungan sekitar perlu dilakukan secara berkelanjutan, terutama ketika kondisi cuaca memasuki periode yang meningkatkan risiko kebakaran.
Pelaksanaan apel secara serentak di seluruh Polda jajaran menunjukkan bahwa kesiapsiagaan Karhutla menjadi perhatian bersama di tingkat nasional.
Polri memastikan jajaran di daerah memiliki kesiapan untuk melakukan langkah pencegahan maupun penanganan apabila terjadi kebakaran hutan dan lahan.
Pendekatan yang dikedepankan tidak hanya bersifat responsif setelah kebakaran terjadi, tetapi juga menitikberatkan pada pencegahan dan deteksi dini.
Dengan demikian, potensi kebakaran diharapkan dapat diketahui lebih cepat, ditangani secara terkoordinasi, serta tidak menimbulkan dampak yang lebih besar terhadap masyarakat dan lingkungan.
Apel gelar pasukan di Mako Korsabhara Baharkam Polri, Depok, menjadi simbol kesiapan personel untuk berada di garis depan ketika masyarakat membutuhkan perlindungan dari ancaman Karhutla.
Melalui semangat “Siap, Solid dan Berhasil”, seluruh unsur yang terlibat diharapkan mampu menjalankan tugas secara profesional, terukur, dan mengutamakan keselamatan masyarakat serta personel di lapangan.
Penanganan Karhutla pada akhirnya bukan hanya menjadi tanggung jawab aparat pemerintah. Pencegahan membutuhkan kepedulian seluruh lapisan masyarakat, dunia usaha, dan pemangku kepentingan lainnya.
Dengan sinergi yang kuat, deteksi dini yang optimal, serta respons yang cepat dan terukur, ancaman Karhutla diharapkan dapat ditekan sehingga masyarakat tetap dapat menjalankan aktivitas dengan aman dan lingkungan tetap terlindungi.
Catatan Redaksi:
Informasi dalam pemberitaan ini disusun berdasarkan materi/rilis yang diterima redaksi. Setiap perkembangan lebih lanjut terkait data luasan Karhutla, lokasi kejadian, maupun penanganannya dapat diperbarui sesuai keterangan resmi dari instansi berwenang.
Sumber: Rilis/Humas Korps Sabhara Baharkam Polri
Pewarta: Times Liputan
Editor: Redaksi AnalisasiberNews.com
Foto: Dokumentasi/Humas Polri


Tidak ada komentar