BANDUNG,| AnalisasiberNews.com – Tidak semua putra daerah mendapatkan kesempatan yang sama untuk mengembangkan gagasan dan pengalaman di tanah kelahirannya sendiri. Dalam perjalanan pengabdian, terkadang seseorang harus menerima kenyataan bahwa pemikiran dan kontribusinya justru lebih banyak mendapatkan ruang di tempat lain.
Namun kondisi tersebut tidak menyurutkan langkah Mpey Ferdy. Sosok pemimpin muda berusia 45 tahun yang dikenal memiliki perhatian besar terhadap pengembangan desa wisata berbasis pemberdayaan masyarakat ini tetap memilih jalan pengabdian melalui karya nyata.
Terbaru, Mpey Ferdy kembali dipercaya oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Bandung sebagai Pendamping Desa Wisata Rintisan. Salah satu wilayah yang kini menjadi fokus pendampingannya adalah Desa Wisata Mandala Mekar, Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung.
Kepercayaan tersebut menjadi bukti bahwa pengalaman, kompetensi, serta rekam jejak yang telah dibangunnya selama bertahun-tahun masih sangat dibutuhkan dalam upaya memperkuat sektor pariwisata berbasis masyarakat.
Sebagai pendamping desa wisata, Mpey tidak hanya berperan memberikan masukan secara konseptual, tetapi juga terlibat dalam proses membangun ekosistem pariwisata yang melibatkan masyarakat sebagai pelaku utama.
Baginya, desa wisata bukan hanya tentang menghadirkan destinasi untuk dikunjungi wisatawan. Lebih jauh dari itu, desa wisata merupakan sebuah gerakan pembangunan yang mampu mengangkat potensi lokal, membuka peluang ekonomi baru, menjaga budaya, sekaligus meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
Membangun Desa Melalui Pemberdayaan Masyarakat
Dalam berbagai wilayah yang pernah didampingi, Mpey dikenal sebagai sosok yang mengedepankan pendekatan kolaboratif. Ia percaya bahwa keberhasilan pembangunan desa tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja, melainkan membutuhkan keterlibatan pemerintah, masyarakat, pelaku usaha, komunitas, hingga generasi muda.
Konsep yang selalu ia dorong adalah bagaimana masyarakat tidak hanya menjadi penonton dalam perkembangan pariwisata, tetapi menjadi pemilik sekaligus penggerak utama.
Potensi alam, budaya, tradisi, produk kreatif, hingga kearifan lokal menurutnya merupakan modal besar yang harus dikelola secara berkelanjutan.
“Desa wisata bukan hanya tentang membuat tempat menjadi ramai dikunjungi. Yang paling penting adalah bagaimana masyarakat memiliki kemampuan untuk mengelola, menjaga, dan mendapatkan manfaat ekonomi dari potensi yang mereka miliki,” ujar Mpey.
Pendekatan tersebut menjadi salah satu alasan mengapa dirinya dipercaya menangani berbagai program pengembangan desa wisata.
Ironi Pengabdian di Tanah Kelahiran
Di tengah berbagai kepercayaan yang datang dari daerah lain, terdapat cerita berbeda ketika Mpey melihat kembali kampung halamannya sendiri di Kecamatan Cisewu, Kabupaten Garut.
Daerah yang membesarkannya tersebut sebenarnya memiliki banyak potensi yang luar biasa. Mulai dari keindahan alam pegunungan, kekayaan budaya masyarakat, sektor pertanian, hingga berbagai produk lokal yang memiliki nilai ekonomi.
Namun, ruang untuk memberikan kontribusi secara resmi di tanah kelahirannya belum sepenuhnya terbuka.
Berbagai gagasan pembangunan yang ia tawarkan, terutama dalam bidang pemberdayaan masyarakat, penguatan ekonomi lokal, dan pengembangan potensi desa, belum selalu mendapatkan kesempatan sebagaimana yang diharapkan.
Meski demikian, kondisi tersebut tidak membuatnya memilih berhenti.
Bagi Mpey Ferdy, pengabdian tidak boleh bergantung pada jabatan, posisi, maupun pengakuan dari pihak tertentu.
“Jika tidak diberi ruang, bukan berarti harus berhenti berkarya. Tanah kelahiran tetaplah rumah yang harus diperjuangkan dengan cara yang baik,” ungkapnya.
Menghidupkan Kembali Semangat Kampung Peueut Cisewu
Semangat tersebut kemudian diwujudkan melalui keterlibatannya dalam menghidupkan kembali Gerakan Kampung Peueut Cisewu.
Gerakan ini lahir dari kepedulian terhadap berbagai potensi yang dimiliki masyarakat Cisewu. Kampung Peueut tidak hanya diarahkan sebagai sebuah lokasi kegiatan, tetapi menjadi ruang pembelajaran dan ruang kolaborasi bagi masyarakat.
Melalui gerakan tersebut, berbagai aspek mulai diperhatikan, mulai dari pelestarian lingkungan, penguatan budaya lokal, pengembangan pertanian, hingga menjaga keberlangsungan profesi para penghasil gula aren atau yang dikenal masyarakat setempat sebagai paneres.
Regenerasi petani menjadi salah satu perhatian penting. Sebab, menurut Mpey, banyak tradisi dan keterampilan masyarakat desa yang berpotensi hilang apabila tidak diwariskan kepada generasi berikutnya.
“Kampung bukan hanya tempat tinggal. Kampung adalah sumber nilai, identitas, dan masa depan. Kalau generasi muda tidak mengenal kekayaan desanya sendiri, maka perlahan potensi itu bisa hilang,” katanya.
Desa Wisata Sebagai Jalan Menuju Kemandirian
Menurut Mpey, pembangunan desa tidak boleh hanya berhenti pada penciptaan objek wisata.
Sebuah desa yang maju harus memiliki masyarakat yang kuat, memiliki kemampuan mengelola potensi, serta mampu menciptakan peluang ekonomi secara mandiri.
Desa wisata hanyalah pintu masuk menuju pembangunan yang lebih besar.
Di dalamnya terdapat upaya menjaga lingkungan, meningkatkan kapasitas masyarakat, memperkuat ekonomi kreatif, serta menciptakan ruang bagi anak muda agar memiliki alasan untuk tetap membangun daerah asalnya.
“Yang ingin dibangun bukan hanya destinasi, tetapi manusia yang ada di dalamnya. Karena desa yang kuat adalah desa yang masyarakatnya memiliki rasa percaya diri dan kemampuan untuk mengelola masa depannya sendiri,” jelas Mpey.
Karya Sebagai Bentuk Pengabdian
Perjalanan Mpey Ferdy menjadi gambaran bahwa pengabdian terkadang tidak selalu berjalan sesuai harapan. Ada kalanya seseorang harus berkarya jauh dari tempat ia dilahirkan.
Namun, baginya, manfaat yang dirasakan masyarakat adalah ukuran paling penting dari sebuah perjuangan.
Ketika kepercayaan datang dari daerah lain, ia memilih memberikan kontribusi terbaik. Dan apabila suatu saat tanah kelahirannya membutuhkan tenaga, pemikiran, serta pengalamannya, ia menyatakan siap hadir tanpa harus menunggu penghargaan atau pengakuan.
Sebab kecintaan terhadap kampung halaman tidak selalu harus dibuktikan melalui jabatan.
Kadang cinta cukup diwujudkan melalui kerja nyata, gagasan yang terus diperjuangkan, serta harapan yang tetap ditanam meskipun hasilnya belum langsung terlihat.
Mpey Ferdy percaya bahwa setiap kebaikan yang ditanam hari ini akan menjadi manfaat bagi generasi mendatang.
Karena membangun daerah bukan hanya tentang siapa yang mendapatkan kesempatan hari ini, tetapi tentang siapa yang tetap memilih berbuat baik ketika kesempatan belum sepenuhnya datang.
Ajunaedi

