x
Hotline News

NEGARA BOLEH RIBUT, WARGA PANYADAP PILIH NGOPI DAN KETAWA

waktu baca 2 menit
Sabtu, 30 Mei 2026 22:09 27 Aziz Redaksi Jabar

Kang Oni, Ceu Edoh, dan Malam yang Mengalahkan Ribuan Status Medsos

ANALISASIBERNEWS.COM

Solokanjeruk, Kabupaten Bandung | Sabtu, 30 Mei 2026
Di saat linimasa media sosial dipenuhi ahli politik dadakan, pakar ekonomi musiman, dan pejuang komentar yang tak pernah turun ke lapangan, warga Panyadap justru melakukan sesuatu yang lebih sederhana: bertemu, tertawa, dan makan bersama.

Malam itu, Car Free Night yang digelar di Warunk Pohon Panyadap, Solokanjeruk, menjadi bukti bahwa kebersamaan tidak membutuhkan panggung mewah, cukup niat baik dan ruang untuk berkumpul.

Kegiatan tersebut dipandu dan dikoordinasikan oleh Kang Alvi selaku Ketua Panitia, yang berhasil menghadirkan suasana santai, akrab, dan penuh kekeluargaan. Tanpa protokoler yang kaku dan tanpa sekat sosial, acara berjalan cair hingga larut malam.

Hadir dalam suasana penuh keakraban tersebut Kang Oni dan Ceu Edoh, yang langsung menjadi magnet perhatian warga. Namun seperti biasa, Kang Oni tampaknya sulit membiarkan suasana tetap serius terlalu lama.

Belum lama obrolan dimulai, gelak tawa sudah pecah di berbagai sudut Warunk Pohon Panyadap.

Maklum, ada orang yang dikenal karena jabatannya. Ada yang dikenal karena hartanya. Tapi Kang Oni dikenal karena kemampuannya membuat orang tertawa tanpa harus membuat orang lain tersinggung.

Sejumlah insan media juga turut hadir meramaikan acara. Di antaranya Kaperwil Saepulloh yang akrab disapa Moy, serta Sali dari Bandung Timur. Kehadiran para jurnalis tersebut semakin menambah hangat suasana kebersamaan malam itu.

Ironis memang.

Di luar sana banyak orang bicara tentang persatuan sambil sibuk mencari perbedaan.
Di Panyadap, orang-orang yang berbeda justru duduk di meja yang sama.

Di luar sana banyak yang mengaku dekat dengan masyarakat lewat unggahan media sosial.

Di sini, masyarakat benar-benar bertemu, berjabat tangan, bercanda, dan saling mendengarkan.

Acara kemudian ditutup dengan makan bersama. Sebab sejarah sering membuktikan, banyak persoalan muncul karena ego yang terlalu besar, sementara banyak persahabatan lahir dari satu meja makan yang sederhana.

Kegiatan yang mendapat dukungan dari Gudang Garam Merah sebagai sponsor tersebut kemudian dilanjutkan dengan obrolan santai hingga malam semakin larut.

Tak ada perebutan jabatan.
Tak ada saling sindir.
Tak ada drama politik.
Yang ada hanya kopi, tawa, silaturahmi, dan kebersamaan.
Mungkin terdengar biasa.

Namun di zaman ketika banyak orang lebih sibuk mencari perhatian daripada menjalin hubungan, duduk bersama dan tertawa bersama justru menjadi sesuatu yang luar biasa.

Dan malam itu, Panyadap mengajarkan satu hal sederhana:
Kadang, satu malam penuh tawa lebih menyehatkan kehidupan sosial daripada seribu unggahan yang penuh kemarahan.

Redaksi AnalisaSiberNews.com
Bandung Timur

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA
x
x