
KAB. BANDUNG,AnalisaSiberNews.com l— Minggu (03/05/2026), langit Ciparay terasa lebih dekat dari biasanya. Bukan karena jarak, melainkan karena doa-doa yang melesat tanpa suara, menembus batas yang tak kasat mata.

Di Baranang Siang Indah, RT 02 RW 11, Desa Gunungleutik, Kecamatan Ciparay, warga berkumpul dalam satu majelis yang sederhana, namun sarat makna. Warga setempat, ibu-ibu Majelis Taklim Al Munarokah beserta para bapak, hingga tokoh masyarakat, hadir membawa satu titipan yang sama: doa.

Acara Walimatussafar untuk Bapak Endang Rukmana dan Ibu Tati Setiawati itu bukan sekadar seremoni. Ia menjadi ruang di mana harapan dipanjatkan bersama, menjelang keberangkatan keduanya ke Tanah Suci pada Sabtu, 10 Mei 2026.
Seorang tokoh agama setempat dalam tausiyahnya mengingatkan bahwa haji bukan perjalanan biasa.
“Haji itu panggilan Allah, bukan sekadar kemampuan. Banyak yang mampu, tapi belum tentu dipanggil. Maka jagalah niat, luruskan hati, karena yang dilihat Allah bukan langkah kaki, tapi keikhlasan,” tuturnya di hadapan jamaah.
Di tengah suasana yang khidmat, Bapak Endang Rukmana menyampaikan permohonan yang sederhana namun penuh makna.
“Kami mohon doa dari semuanya. Semoga diberi kelancaran, kesehatan, dan bisa menjalankan ibadah dengan sempurna, serta pulang menjadi haji dan hajjah yang mabrur,” ujarnya dengan nada lirih.
Sementara itu, perwakilan mustami (jamaah), Sali, menyampaikan harapan yang mewakili perasaan banyak orang yang hadir.
“Kami di sini hanya bisa mengantar dengan doa. Semoga Bapak dan Ibu diberi kemudahan di setiap langkahnya, dilindungi Allah, dan kembali ke kampung ini membawa keberkahan untuk kita semua,” ungkapnya.
Tak ada kemewahan dalam acara itu. Namun justru dalam kesederhanaan itulah, makna terasa utuh—bahwa perjalanan menuju Baitullah selalu dimulai dari hati yang berserah.
Di antara lantunan doa yang terus mengalir, satu hal menjadi jelas: bahwa keberangkatan ini bukan hanya milik dua orang, melainkan milik banyak hati yang ikut mengiringi.
Dan di ujung majelis itu, sebuah pertanyaan seakan menggantung di langit Ciparay:
Siapa yang lebih dahulu sampai—mereka yang berangkat ke Tanah Suci, atau doa-doa yang lebih dulu mengetuk pintu langit?
Sebab bagi mereka yang memahami, perjalanan haji bukan hanya tentang tiba.
Melainkan tentang diterima.
Aziz
Tidak ada komentar