

ANALISASIBERNEWS.COM I GARUT — Di tangan pelaku usaha kecil, bahan sederhana bisa berubah menjadi produk bernilai ekonomi. Dari sebuah rumah di Kampung Ciela, RT 02/RW 06, Desa Ciela, Kecamatan Bayongbong, Kabupaten Garut, aktivitas produksi layangan dan perlengkapan senar layangan terus menggeliat.

Adalah Bapak Ate Sopiyan, perajin lokal yang memilih menekuni usaha pembuatan layangan serta senar layangan, dengan proses produksi yang masih mengandalkan keterampilan tangan dan ketekunan.
Di ruang kerja sederhana, lembaran bahan, peralatan produksi, cat, hingga tumpukan produk terlihat menjadi bagian dari keseharian usaha. Tidak ada kesan pabrik besar. Namun dari tempat sederhana itu, produk UMKM lokal justru mampu menembus pasar hingga Jawa Timur, termasuk Jember.
Dari Ciela, Produk Lokal Jalan ke Luar Daerah

Perjalanan usaha Ate Sopiyan menjadi gambaran bahwa UMKM tidak selalu harus dimulai dengan modal besar.
Yang dibutuhkan adalah keterampilan, ketekunan, keberanian membaca pasar, dan konsistensi menjaga kualitas.
Produk yang dibuat di Bayongbong tersebut kemudian dipasarkan ke luar daerah. Salah satunya hingga wilayah Jember, Jawa Timur.
> “Dibuat di kampung, dipasarkan ke luar daerah. Inilah wajah UMKM yang sesungguhnya: sederhana tempat produksinya, tetapi luas jangkauan pasarnya.”
Kisah tersebut sekaligus menunjukkan bahwa ekonomi kerakyatan tidak hanya tumbuh di kawasan industri atau pusat perdagangan. Di pelosok desa pun roda ekonomi dapat berputar ketika masyarakat berani mengubah keterampilan menjadi usaha.
UMKM Tak Boleh Hanya Jadi Penonton
Dalam perspektif pengembangan perdagangan dan UMKM, usaha seperti milik Ate Sopiyan memiliki potensi untuk terus dikembangkan melalui peningkatan kualitas produk, kemasan, pemasaran digital, pencatatan usaha, hingga perluasan jaringan pasar.
Sebab tantangan UMKM hari ini bukan semata-mata soal bisa memproduksi, tetapi juga bagaimana produk tersebut memiliki identitas, kualitas konsisten, dan mampu menjangkau konsumen lebih luas.
Dari Bayongbong, pesan ekonominya sederhana namun kuat:
Jangan menunggu industri besar datang untuk menciptakan lapangan ekonomi. Masyarakat desa pun bisa membangun pasar dari keterampilan yang dimilikinya.
Pemerintah Perlu Hadir, Bukan Sekadar Melihat
Kisah Ate Sopiyan menjadi pengingat bahwa pelaku UMKM membutuhkan ekosistem yang nyata: pelatihan, akses permodalan, pendampingan legalitas usaha, pemasaran, branding, hingga akses pasar.
Karena ketika produk lokal sudah mampu keluar daerah, tugas berikutnya adalah bagaimana usaha tersebut naik kelas.
Bukan sekadar “produksi lalu jual”, tetapi berkembang menjadi UMKM yang memiliki merek kuat, administrasi usaha yang tertata, jaringan pemasaran luas, serta mampu membuka peluang kerja bagi masyarakat sekitar.
Dari Ciela untuk Jember. Dari tangan sederhana menuju pasar yang lebih luas.
Itulah wajah ekonomi kerakyatan yang sering luput dari perhatian: UMKM tidak banyak bicara, tetapi diam-diam menggerakkan roda ekonomi.
Ate Sopiyan mungkin hanya satu nama di antara banyak pelaku UMKM Garut. Namun dari usaha kecilnya, ada satu pelajaran besar:
“Jangan remehkan produk kampung. Jika kualitas dijaga dan pasar dibuka, produk lokal bisa berjalan jauh.”


Jurnalistik I Misbah (biro garut)


Tidak ada komentar