

ANALISASIBERNEWS.COM I PANDEGLANG, BANTEN – Musim kemarau yang melanda sejumlah daerah di Indonesia membawa tantangan tersendiri bagi sektor pertanian, terutama bagi petani yang menggantungkan kebutuhan air dari curah hujan. Namun, kondisi berbeda terlihat di Desa Bulagor, Kecamatan Pagelaran, Kabupaten Pandeglang, Banten. Di saat banyak lahan pertanian mulai mengering, hamparan sawah di desa tersebut masih tampak menghijau dan ditanami padi berkat pemanfaatan Program Irigasi Perpompaan (Irpom).
Keberhasilan petani Desa Bulagor mempertahankan aktivitas bercocok tanam di tengah keterbatasan air menjadi gambaran bahwa pembangunan infrastruktur pertanian yang tepat sasaran mampu meningkatkan daya tahan sektor pertanian menghadapi perubahan iklim. Program Irpom dinilai memberikan manfaat nyata bagi petani dalam menjaga ketersediaan air sehingga proses budidaya padi tetap berjalan meskipun musim kemarau masih berlangsung.
Bagi masyarakat Desa Bulagor, sektor pertanian bukan sekadar mata pencaharian, tetapi menjadi penopang utama perekonomian keluarga. Sebagian besar warga menggantungkan kehidupan dari hasil panen padi yang diperoleh setiap musim tanam. Karena itu, keberlangsungan produksi pertanian menjadi harapan besar untuk menjaga stabilitas pendapatan masyarakat sekaligus mendukung ketahanan pangan daerah.
Salah seorang petani, Rafi Udin, mengatakan bahwa bantuan Program Irpom memberikan dampak yang sangat dirasakan oleh para petani. Dengan adanya pompa irigasi, pasokan air ke lahan pertanian tetap tersedia meskipun debit sungai dan sumber air alami mulai berkurang akibat kemarau.

Menurutnya, sebelum adanya fasilitas tersebut, petani sering kali terpaksa menunda masa tanam atau bahkan membiarkan sawah tidak digarap karena kesulitan memperoleh air. Kini, kondisi tersebut mulai berubah sehingga sebagian lahan masih dapat ditanami padi.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada pemerintah, khususnya Bapak Presiden, atas bantuan Program Irpom. Semoga ke depan semakin banyak petani yang mendapatkan manfaat seperti kami sehingga tetap bisa bercocok tanam saat musim kemarau,” ujar Rafi Udin, Kamis (6/8/2026).
Meski demikian, Rafi menjelaskan bahwa keberadaan pompa irigasi belum sepenuhnya menyelesaikan persoalan yang dihadapi petani. Hingga saat ini, ketersediaan bahan bakar minyak (BBM) jenis solar untuk mengoperasikan mesin pompa masih menjadi kendala utama.
Menurutnya, pompa air tidak dapat berfungsi secara maksimal apabila pasokan solar sulit diperoleh. Akibatnya, kemampuan petani untuk mengairi lahan menjadi terbatas sehingga luas area persawahan yang dapat ditanami belum optimal.
“Kendala kami hari ini adalah solar. Kalau pasokan solar mudah didapat, tentu lahan yang bisa digarap akan lebih luas,” katanya.
Rafi mengungkapkan bahwa saat ini dirinya baru mampu mengelola sekitar satu hektare lahan sawah. Ia optimistis produktivitas pertanian akan meningkat apabila kebutuhan solar dapat dipenuhi secara berkelanjutan, sehingga pompa air dapat beroperasi tanpa hambatan selama musim kemarau.
Kondisi di Desa Bulagor menunjukkan bahwa pemanfaatan teknologi irigasi mampu menjadi solusi dalam menghadapi ancaman kekeringan. Di tengah perubahan iklim yang menyebabkan musim kemarau semakin panjang dan tidak menentu, keberadaan infrastruktur pendukung pertanian menjadi faktor penting untuk menjaga stabilitas produksi pangan.
Selain meningkatkan produktivitas, keberhasilan mempertahankan lahan pertanian tetap aktif juga berdampak pada keberlangsungan ekonomi masyarakat pedesaan. Aktivitas pertanian yang terus berjalan memberikan kesempatan kerja bagi para buruh tani serta menjaga perputaran ekonomi di lingkungan sekitar.
Di tempat terpisah, Inisiator Gerakan Rakyat Pandeglang Melawan, Rohmat, menilai bahwa petani yang tetap mampu mempertahankan produktivitas di tengah kemarau layak mendapatkan perhatian lebih dari pemerintah.
Menurutnya, kebijakan pembangunan sektor pertanian hendaknya tidak hanya berfokus pada pembangunan infrastruktur, tetapi juga memastikan seluruh kebutuhan operasional petani dapat terpenuhi sehingga bantuan yang diberikan benar-benar menghasilkan peningkatan produksi.
“Petani seperti ini harus menjadi prioritas penerima bantuan, baik alat dan mesin pertanian (alsintan), irigasi maupun program pendukung lainnya. Mereka adalah petani yang benar-benar bekerja dan berkontribusi terhadap ketahanan pangan. Jangan sampai bantuan pertanian justru diduga tidak tepat sasaran,” tegas Rohmat.
Ia menambahkan bahwa penyaluran bantuan pemerintah harus dilakukan berdasarkan kebutuhan nyata di lapangan serta mempertimbangkan tingkat produktivitas petani. Dengan demikian, setiap program yang digulirkan dapat memberikan manfaat maksimal sekaligus mendorong peningkatan hasil pertanian.
Menurut Rohmat, keberhasilan petani Desa Bulagor membuktikan bahwa dukungan pemerintah yang tepat sasaran mampu memberikan dampak positif terhadap peningkatan produksi pangan nasional. Namun demikian, masih diperlukan penyempurnaan kebijakan agar berbagai kendala teknis, termasuk ketersediaan BBM untuk operasional pompa irigasi, dapat segera diatasi.
Ia berharap pemerintah pusat maupun pemerintah daerah terus memperkuat sinergi dalam mendukung sektor pertanian, mulai dari pembangunan jaringan irigasi, penyediaan alat dan mesin pertanian, pendampingan kepada petani, hingga kemudahan akses terhadap kebutuhan operasional di lapangan.
Penguatan sektor pertanian dinilai menjadi langkah strategis dalam menjaga ketahanan pangan nasional, terutama di tengah tantangan perubahan iklim yang semakin nyata. Dengan dukungan kebijakan yang berpihak kepada petani serta penyaluran bantuan yang tepat sasaran, produktivitas pertanian diharapkan tetap terjaga sepanjang tahun.
Keberhasilan petani Desa Bulagor menjadi bukti bahwa semangat para petani, yang didukung oleh infrastruktur pertanian yang memadai, mampu menghadapi tantangan musim kemarau. Meski masih dihadapkan pada persoalan ketersediaan solar untuk mengoperasikan pompa irigasi, optimisme para petani tetap tinggi untuk terus mengolah lahan dan menghasilkan padi sebagai bagian dari upaya menjaga ketahanan pangan Indonesia.
sumber : Rohmat
penulis : Dedi Supandi wakil pimpinan redaksi


Tidak ada komentar