Kelompok penyuluh dan petani melakukan penanaman pencegahan karhutla di desa Wana Bakti.
Analisasibernews.com, SINTANG – Komitmen untuk menekan risiko Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) terus diperkuat melalui edukasi langsung di tingkat tapak. Tim Penyuluh Karhutla dari Markas Besar (Mabes) TNI menyelenggarakan sosialisasi preventif kepada kelompok tani dan peladang di Desa Wana Bakti, Kecamatan Ketungau Tengah, Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat, Sabtu (12/9/2026) pukul 09.00 WIB.
Edukasi tatap muka ini dipimpin langsung oleh Komandan Kelompok (Danpok) 9 Kolonel Tum Firganzah, S.T. (Staf Ahli Koops AU) bersama Kapten Arh Murianto, S.T., M.M. (Danramil Kodim Probolinggo Rem 083 Dam V/Brawijaya). Tim berdialog interaktif secara intensif bersama sembilan perwakilan petani dan peladang setempat. Langkah persuasif ini dirancang sebagai instrumen strategis guna menumbuhkan kesadaran kolektif dalam memitigasi potensi bencana sebelum meluas menjadi ancaman ekologis dan ekonomi.
Dalam arahannya, Kolonel Tum Firganzah, S.T., menekankan urgensi pengolahan lahan tanpa bakar (PLTB). Ia mengingatkan bahwa fluktuasi cuaca ekstrem dan kerentanan vegetasi lokal menjadikan satu percikan api kecil berpotensi eskalatif menjadi kebakaran skala besar yang destruktif.
“Jangan menunggu api membesar baru kita bertindak. Strategi terbaik adalah mitigasi sejak awal. Setiap warga negara, khususnya para peladang, memegang peranan sentral sebagai garda terdepan dalam menjaga stabilitas ekosistem hutan dan lahan di lingkungannya,” ujar Kolonel Tum Firganzah, S.T., M.M. tegas.
Selain aspek teknis pencegahan, masyarakat dibekali pemahaman komprehensif mengenai dampak sistemik Karhutla. Dampak tersebut mencakup degradasi kualitas udara (asap lintas batas), gangguan kesehatan akut pada sistem pernapasan, kelumpuhan aktivitas sosio-ekonomi, hingga kerusakan habitat keanekaragaman hayati yang permanen.
Oleh karena itu, ia mengimbau warga untuk meningkatkan sistem deteksi dini secara swadaya dan segera mengeskalasikan informasi ke aparat komando kewilayahan (Babinsa/Bhabinkamtibmas) atau struktur pemerintahan desa jika mengidentifikasi titik panas (firespot) maupun aktivitas pembakaran ilegal.
Kehadiran jajaran perwira Mabes TNI ini mendapatkan apresiasi tinggi dari komunitas agraris setempat. Ketua Kelompok Tani Desa Wana Bakti, Libu (56), menyatakan kesiapan penuh seluruh anggotanya untuk mengadopsi regulasi tata kelola lahan yang ramah lingkungan demi keberlanjutan wilayah mereka.
“Kami sangat berterima kasih atas asistensi dan edukasi dari Mabes TNI. Selama ini, keterbatasan pengetahuan sering kali menjadi kendala. Dengan penyuluhan ini, kami berkomitmen penuh untuk beralih ke metode pembukaan lahan yang aman, serta siap bersinergi dengan segenap pemangku kepentingan dalam melakukan pengawasan lingkungan agar desa kami bebas dari ancaman Karhutla,” ungkap Libu.
Forum yang berlangsung humanis dan tertib tersebut diakhiri dengan sesi dialog dua arah. Ruang diskusi ini dimanfaatkan secara optimal oleh para petani untuk merumuskan solusi alternatif pengolahan pertanian berkelanjutan yang efektif tanpa merusak alam. ( Wid )



