x
Hotline News

Jalan Provinsi di STM Hilir Hancur, Warga Jadi “Dinas PU Dadakan” Karena Negara Terlalu Lama Diam

waktu baca 2 menit
Senin, 25 Mei 2026 14:19 90 Aziz Redaksi Jabar

ANALISASIBERNEWS.COM
Deli Serdang — Aspal di ruas jalan provinsi yang melintasi Desa Talun Kenas hingga Desa Sumbul, Kecamatan STM Hilir, kini bukan lagi sekadar rusak. Ia berubah menjadi rangkaian lubang yang menganga seperti jebakan bagi pengendara. Setiap hari kendaraan dipaksa menari menghindari kubangan, sementara warga mempertaruhkan keselamatan di jalan yang semestinya menjadi tanggung jawab negara.

Ironisnya, jalan berstatus provinsi itu justru diperbaiki rakyat dengan tenaga dan uang sendiri. Warga Dusun 4 Tanjung Sari, Desa Sumbul, turun tangan menimbun lubang secara swadaya setelah terlalu lama menunggu perhatian yang tak kunjung datang dari pihak berwenang.

Di tengah pidato pembangunan dan janji infrastruktur yang terus digaungkan, masyarakat STM Hilir malah dipaksa menjadi “kontraktor darurat” demi menyelamatkan nyawa pengguna jalan. Negara hadir dalam papan proyek dan seremoni, tetapi menghilang saat jalan berubah menjadi ancaman.

Kerusakan jalan tersebut disebut telah berkali-kali memicu kecelakaan. Pengendara roda dua paling sering menjadi korban, terutama saat malam hari atau ketika hujan menutupi lubang dengan genangan air. Jalan yang seharusnya menjadi penghubung aktivitas ekonomi dan sosial kini justru menyerupai arena uji keberanian.

Media AnalisaSiberNews.com sendiri telah tiga kali memberitakan kondisi ini dan menyampaikan persoalan tersebut mulai dari tingkat desa, kecamatan, hingga Pemerintah Kabupaten Deli Serdang agar diteruskan kepada Pemerintah Provinsi Sumatera Utara dan Dinas Pekerjaan Umum. Namun hingga kini, yang datang bukan alat berat, melainkan kesabaran warga yang makin terkikis.

Pertanyaannya sederhana: berapa banyak warga harus jatuh lebih dulu agar jalan ini dianggap penting?

Jika masyarakat terus dipaksa memperbaiki jalan provinsi secara mandiri, lalu untuk apa anggaran infrastruktur digelontorkan setiap tahun? Jangan sampai rakyat hanya dijadikan penonton baliho pembangunan, sementara mereka sendiri yang harus menambal kegagalan pelayanan publik dengan cangkul dan semen seadanya.

Warga berharap pemerintah tidak sekadar datang mencatat atau meninjau lokasi demi dokumentasi formalitas. Yang dibutuhkan masyarakat adalah perbaikan permanen, bukan janji musiman yang selalu muncul saat sorotan publik mulai meninggi.

Sebab bagi warga STM Hilir, lubang di jalan itu bukan hanya kerusakan aspal — melainkan simbol lambannya kehadiran negara di tengah kebutuhan rakyatnya.

(Rilen)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA
x
x