Analisasibernews.com, SINTANG — Menanggapi eskalasi pemberitaan di berbagai media siber terkait aktivitas perjudian sabung ayam, akademisi hukum, FX. Nikolas, S.H., M.H., mengimbau pers untuk mengedepankan prinsip selektivitas dan kebijaksanaan dalam memproduksi informasi bagi publik. Di tengah urgensi situasi saat ini, media massa diharapkan mampu mengonstruksi agenda setting yang berorientasi pada edukasi mitigasi bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla), serta ancaman kabut asap yang secara nyata mengonfrontasi kesehatan masyarakat.
FX. Nikolas menyayangkan tendensi parsial dari segelintir pemberitaan yang justru mendegradasi fokus publik pada isu domestik seperti sabung ayam. Terlebih, narasi yang diproduksi terkesan tendensius dan mendiskreditkan Aparat Penegak Hukum (APH) melalui insinuasi penerimaan gratifikasi atau perlindungan (backing) terhadap aktivitas ilegal tersebut. Menurutnya, peminggiran fakta (framing) negatif tersebut sangat tidak proporsional dan mencederai keadilan publik di tengah manifestasi dedikasi aparat saat ini.
“Saat ini, sinergisitas antara personel Polri, TNI, jajaran birokrasi pemerintah, dan seluruh elemen masyarakat sedang terkonsolidasi penuh di lapangan. Mereka menguras energi fisik dan psikologis, berjibaku mengendalikan amukan api demi meminimalisasi eskalasi karhutla dan memitigasi dampak toksik kabut asap bagi warga. Sungguh sebuah ironi yang tidak etis jika determinasi dan kerja keras kolektif ini didegradasi oleh opini spekulatif yang menyudutkan institusi,” ungkap Nikolas dalam konferensi persnya, Jumat (28/8/2026).
Lebih lanjut, magister hukum ini memaparkan analisis yuridis dan sosiologis terkait karakteristik operasional perjudian yang kerap dijadikan instrumen pembunuhan karakter (character assassination) terhadap institusi kepolisian. Ia menegaskan bahwa ranah operasional perjudian secara alamiah bersifat klandestin, sibertekstual, dan dinamis.

“Publik dan media massa dituntut untuk berpikir rasional dan objektif dalam memetakan anatomi masalah. Secara sosiologi kriminal, para pelaku sabung ayam beroperasi di wilayah periferi yang terisolasi dari jangkauan pusat kota dan menerapkan pola pergerakan yang sangat dinamis (mobile). Menjadi hal yang logis secara metodologis jika aparat tidak serta-merta mendeteksi keberadaan mereka secara seketika, mengingat seluruh manifestasi perjudian adalah perbuatan melawan hukum yang mustahil memiliki legalitas formal atau izin operasional. Oleh karena itu, narasi stigmatisasi yang simplistis terhadap kepolisian harus segera dihentikan,” tegas pria yang akrab disapa Niko tersebut.
Pada bagian konklusi, FX. Nikolas mendesak insan pers untuk merevitalisasi khittah jurnalisme yang bertanggung jawab, yang tidak sekadar berfungsi sebagai penyebar informasi, melainkan sebagai agen edukasi sosial (social education agent). Mengingat penetrasi media siber yang bersifat masif dan instan, modalitas tersebut seharusnya diaktualisasikan untuk mengonstruksi narasi mitigasi bencana, diseminasi proteksi kesehatan publik terhadap dampak asap, serta memberikan apresiasi yang objektif atas soliditas lintas sektoral yang tengah bertaruh nyawa di episentrum karhutla.
“Representasi fungsi jurnalistik di lapangan tentu sangat dihormati, namun akurasi dan keberimbangan (cover both sides) adalah asas mutlak yang tidak boleh dinegosiasikan.
Produk jurnalistik wajib berbasis pada data empiris dan fakta faktual di lapangan, bukan jurnalisme opini yang destruktif dan berpotensi menghakimi secara prematur sebelum melandaskannya pada realitas objektif,” pungkas Niko menutup keterangannya. ( Red )

Tidak ada komentar