x
Hotline News

Bandung Membiru, Jutaan Bobotoh Tumpah ke Jalan: Pawai Juara PERSIB Jadi Ledakan Emosi Jawa Barat

waktu baca 2 menit
Senin, 25 Mei 2026 10:01 32 Aziz Redaksi Jabar

ANALISASIBERNEWS.COM
Bandung, AnalisaSiberNews.com — Kota Bandung pada Minggu (24/5/2026) nyaris lumpuh. Bukan karena bencana, bukan pula gelombang demonstrasi politik, melainkan ledakan euforia jutaan Bobotoh yang turun ke jalan merayakan keberhasilan PERSIB menjuarai kompetisi musim 2025/2026 melalui Pawai Juara Panca Takhta.

Sejak pagi, ruas-ruas utama kota berubah menjadi lautan biru. Massa memadati jalur pawai mulai dari Gedung Sate, Jalan Riau, Merdeka, hingga berakhir di kawasan Asia-Afrika. Kepadatan manusia bahkan melampaui perkiraan aparat maupun panitia.

Di tengah teriakan yel-yel dan nyanyian kemenangan, Bandung seperti kehilangan batas antara sepak bola dan identitas sosial masyarakatnya.

Ironisnya, di saat banyak agenda publik sering gagal menyatukan masyarakat, sepak bola justru mampu menghadirkan solidaritas tanpa instruksi. Tak ada mobilisasi formal. Tak ada pembagian uang saku. Namun jutaan orang datang dengan kesadaran sendiri demi satu nama: PERSIB.

Deputy CEO PT PERSIB Bandung Bermartabat, Adhitia Putra Herawan, menyampaikan apresiasi atas antusiasme luar biasa Bobotoh yang kembali membuktikan loyalitasnya terhadap Maung Bandung.

“Antusiasme, dukungan, serta kecintaan yang ditunjukkan hari ini sekali lagi membuktikan bahwa PERSIB memiliki ikatan yang sangat kuat dengan masyarakat Jawa Barat,” ujarnya.

Namun besarnya antusiasme itu juga membawa konsekuensi. Sejumlah ruas jalan mengalami kemacetan total. Aktivitas warga terganggu. Bahkan beberapa titik nyaris tak bergerak selama berjam-jam.

PERSIB pun menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat atas ketidaknyamanan yang terjadi selama rangkaian pawai berlangsung.

Meski demikian, gelombang manusia tetap tak terbendung.

Warga datang dari berbagai daerah di Jawa Barat. Ada yang rela berangkat dini hari, berdiri berjam-jam di bawah terik matahari hanya demi menyaksikan trofi diangkat para pemain di atas Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) Asia-Afrika.

Momen itu menjadi klimaks emosional. Ribuan kamera ponsel terangkat bersamaan. Asap flare membumbung ke udara. Sorak-sorai pecah ketika trofi juara diangkat di hadapan lautan Bobotoh.

Hari itu, Bandung bukan sekadar kota. Ia berubah menjadi panggung besar tentang loyalitas, identitas, dan kebanggaan kolektif masyarakat Jawa Barat.

Pawai Juara Panca Takhta sekaligus menegaskan satu hal: bagi sebagian besar Bobotoh, PERSIB bukan lagi hanya klub sepak bola. Ia telah menjelma menjadi simbol harga diri, pemersatu emosi, bahkan pelarian dari kerasnya realitas hidup sehari-hari.

Dan mungkin di situlah ironi paling nyata ditemukan: di negeri yang sering gagal membuat rakyat merasa dimiliki, sepak bola justru berhasil membuat jutaan orang merasa punya rumah bernama PERSIB.

Red AnalisaSiberNews

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA
x
x