x
Hotline News

Bandung Siapkan Ekosistem Inklusif, RBM Jadi Wadah Kolaborasi Masyarakat

waktu baca 3 menit
Kamis, 14 Mei 2026 22:16 15 Aziz Redaksi Jabar

JAWA BARAT,AnalisaSiberNews.com – Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung berkomitmen membangun kota yang inklusif, aman dan ramah bagi penyandang disabilitas melalui penguatan Rehabilitasi Bersumberdaya Masyarakat (RBM).

Komitmen tersebut disampaikan Ketua RBM Kota Bandung periode 2026-2030, Aryatri Benarto Farhan saat pelantikan pengurus RBM Kota Bandung, Rabu 13 Mei 2026.

Aryatri mengatakan, pentingnya membangun lingkungan yang mendukung bagi penyandang disabilitas dan individu berkebutuhan khusus. Ia mengaku pemahamannya mengenai inklusi semakin mendalam setelah menjadi orang tua dari anak berkebutuhan khusus.

“Adaptasi bagi penyandang disabilitas di lingkungan masyarakat bukan hal mudah, mereka membutuhkan lingkungan yang suportif, aman, nyaman dan memiliki aksesibilitas yang baik,” kata Aryatri.

Aryatri menilai, ketakutan terbesar para orang tua penyandang disabilitas adalah masa depan anak-anak mereka ketika orang tua sudah tidak lagi mendampingi. Oleh karena itu, ia bermimpi Kota Bandung menjadi wilayah yang bebas stigma dan diskriminasi.

“Saya ingin suatu hari nanti tempat kita tinggal benar-benar aman dan nyaman bagi anak-anak disabilitas dan individu berkebutuhan khusus. Tidak ada lagi stigma dan diskriminasi,” ujarnya.

Menurutnya, mewujudkan kota inklusif tidak bisa dilakukan oleh satu pihak saja. Ia mengajak seluruh unsur masyarakat, komunitas dan perangkat pemerintah untuk bersama-sama membangun ekosistem yang ramah disabilitas.

“Ini bukan perjuangan satu sektor atau satu dinas tapi perjuangan bersama seluruh masyarakat,” ungkapnya.

Sementara itu, Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan mengatakan, RBM harus menjadi wadah kolaborasi lintas sektor untuk memberdayakan kelompok disabilitas di Kota Bandung.

Keterlibatan akademisi, komunitas olahraga, seniman, budayawan, pengusaha hingga masyarakat sipil menjadi kekuatan besar dalam memperjuangkan hak-hak penyandang disabilitas.

“RBM harus menjadi melting pot berbagai ide dan kolaborasi demi pemberdayaan kelompok disabilitas,” ujar Farhan.

Farhan juga menyoroti pentingnya aksesibilitas di ruang publik, layanan publik, fasilitas olahraga hingga tempat ibadah. Ia mengaku, tantangan membangun kota yang sepenuhnya inklusif masih besar terutama dalam penataan infrastruktur publik.

“Setiap pembangunan fisik harus memperhatikan kepentingan extreme user termasuk penyandang disabilitas,” tuturnya.

Tak hanya itu, Pemkot Bandung juga mendorong keterlibatan dunia usaha untuk membuka ruang kerja bagi penyandang disabilitas. Pemerintah perlu menyiapkan skema insentif bagi perusahaan yang memberikan kesempatan kerja dan ruang berkarya bagi kelompok disabilitas.

Di bidang olahraga, Farhan memastikan Kota Bandung siap menjadi tuan rumah Pekan Paralimpik Daerah (Peparda) 2026. Ia menilai olahraga menjadi salah satu sarana penting untuk membangun prestasi sekaligus kepercayaan diri penyandang disabilitas.

“Olahraga bukan hanya soal ekonomi dan event tapi juga membangun mindset untuk berprestasi,” ujarnya.

Ia berharap, RBM mampu menjadi advokat yang aktif menjawab dinamika persoalan disabilitas di tengah perkembangan masyarakat.

“Bekerja di RBM bukan untuk mencari keuntungan atau popularitas tetapi bentuk nyata kerelawanan untuk memberdayakan sesama,” tutur Farhan

Sumber skominfo
Tim/red

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Hotline News

LAINNYA
x