ANALISASIBERNEWS.COM I BANGLI – Danrem 163/Wira Satya, Brigjen TNI Ida I Dewa Agung Hadi Saputra, S.H., menghadiri Muspayang Bakti Pemlaspasan Cihna Titik Nol Batur Kuno dalam rangkaian Peringatan 100 Tahun Rarud Batur di Desa Adat Batur Kuno, Desa Batur Tengah, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, Rabu (29/7/2026).

Kegiatan tersebut turut dihadiri Gubernur Bali Dr. Ir. I Wayan Koster, M.M., beserta unsur Forkopimda dan tokoh adat, serta diikuti sekitar 250 undangan dan masyarakat.
Rangkaian acara diawali dengan sambutan Jro Penyarikan Jro Gede Batur yang menyampaikan makna 100 Tahun Rarud Batur sebagai momentum mengenang perpindahan masyarakat akibat letusan Gunung Batur tahun 1926, sekaligus mengajak seluruh elemen masyarakat menjaga warisan sejarah, adat, budaya, dan kesucian kawasan Batur Kuno.
Dalam sambutannya, Gubernur Bali mengapresiasi Desa Adat Batur atas upaya melestarikan warisan leluhur. Ia menegaskan pentingnya menjaga kawasan suci, adat, budaya, dan sejarah Batur sebagai identitas Bali, serta mengajak generasi muda terus merawat semangat gotong royong, kearifan lokal, dan kelestarian alam Kaldera Batur.
Usai sambutan, kegiatan dilanjutkan dengan Muspayang Bakti Pemlaspasan, penandatanganan prasasti, penyerahan dana punia, serta penanaman pohon beringin sebagai simbol pelestarian lingkungan dan keberlanjutan warisan budaya.
Danrem 163/Wira Satya menyampaikan bahwa pelestarian nilai-nilai sejarah, budaya, dan spiritual merupakan bagian penting dalam memperkuat jati diri bangsa.
“Kegiatan ini bukan sekadar meresmikan sebuah penanda sejarah, tetapi juga menjadi momentum untuk menghormati perjuangan para leluhur serta menanamkan kecintaan generasi muda terhadap adat, budaya, dan persatuan. TNI akan selalu mendukung upaya pelestarian warisan budaya sebagai bagian dari penguatan ketahanan bangsa,” ujar Brigjen TNI Ida I Dewa Agung Hadi Saputra.
Pemlaspasan Cihna Titik Nol Batur Kuno menjadi simbol penghormatan terhadap lokasi permukiman lama Desa Adat Batur yang tertimbun letusan Gunung Batur tahun 1926. Selain sebagai tempat penghormatan kepada leluhur, keberadaan cihna tersebut.
Sumber : Penrem 163/Wira Satya. ( Wid )


