DEPOK, jabar,AnalisaSiberNews.com-Malam itu, Depok tidak sekadar merayakan usia—ia seperti sedang mengingat dirinya sendiri. Di antara gemerlap panggung dan riuh suara warga, Ayu Ting Ting pulang, bukan sebagai tamu, tapi sebagai bagian yang tak pernah benar-benar pergi.

HUT ke-27 Kota Depok, Jumat (01/05/26), mencapai puncaknya saat musik dangdut menggema. Bukan sekadar hiburan, tapi semacam bahasa yang semua orang pahami—tentang senang, lelah, dan harapan yang kadang hanya bisa diluapkan lewat joget sederhana.
Ribuan warga memadati lokasi. Mereka tidak datang untuk melihat bintang—mereka datang untuk merasa dekat. Dan Ayu, dengan lagu-lagu seperti Alamat Palsu, Geboy Mujaer, hingga Sambalado, seperti tahu persis cara menyapa mereka: tanpa jarak, tanpa basa-basi.
“Alhamdulillah… saya warga asli Depok,” ucapnya. Kalimat yang terdengar sederhana, tapi di malam itu, terasa seperti pengingat—bahwa sejauh apa pun seseorang pergi, selalu ada kota yang menunggu untuk dipanggil pulang.
Ironisnya, di tengah kota yang terus berbenah dan ingin terlihat modern, justru kesederhanaan panggung dangdutlah yang menyatukan semua lapisan. Tak ada protokoler yang kaku saat Ayu mengajak penonton naik ke panggung. Yang ada hanya tawa, keringat, dan momen yang sulit diatur dalam agenda resmi.
Mungkin, di situlah makna perayaan sebenarnya—bukan pada angka usia, tapi pada rasa memiliki yang masih tersisa.
“Selamat ulang tahun ke-27 untuk Kota Depok,” ujar Ayu.
Sebuah ucapan yang terdengar biasa. Namun malam itu, ia berubah jadi gema: tentang kota yang ingin terus maju, tanpa kehilangan cara paling sederhana untuk bahagia—berkumpul, bernyanyi, dan menari bersama.
Kaperwil jabar
Aziz Bh
Tidak ada komentar