KARAWANG,jabar,AnalisaSiberNews.com — Di sebuah sudut Cilamaya Kulon, di atas lahan 426 meter persegi yang diwakafkan, delapan rumah akan berdiri. Bukan sekadar bangunan, melainkan jawaban yang datang—mungkin—terlambat bagi mereka yang sejak lama hidup tanpa alamat yang benar-benar bisa disebut rumah.
Program rumah lansia itu terdengar sederhana: tanah dibeli, dihibahkan, lalu sertifikat diserahkan atas nama penerima. Sebuah skema yang justru membalik logika lama—ketika bantuan mensyaratkan kepemilikan, sementara yang paling membutuhkan justru tak punya apa-apa. Di sini, negara seperti mencoba menebus celahnya sendiri.
Namun ironi tak benar-benar pergi. Di tengah gemuruh program pembangunan dan jargon kesejahteraan, masih ada lansia—terutama perempuan—yang menua dalam ketidakpastian, tanpa tanah, tanpa rumah, tanpa jaminan. Lalu sebuah inisiatif lahir, bukan dari sistem yang mapan, melainkan dari wakaf dan gotong royong.
Delapan rumah akan dibangun pekan depan. Lengkap dengan jalan lingkungan, drainase, ruang terbuka, bahkan kolam ikan—sebuah kehidupan kecil yang ditata dengan harapan besar. Tapi pertanyaan diam-diam menggantung: berapa banyak lagi yang masih menunggu giliran, yang belum tersentuh oleh niat baik serupa?
Bupati Aep membuka pintu bagi siapa pun yang ingin mewakafkan tanah. Pemerintah siap membangun. Kolaborasi sosial digaungkan. Sebuah solusi, ya—namun juga cermin bahwa kebutuhan paling dasar, tempat tinggal, masih harus diperjuangkan lewat kemurahan hati, bukan sepenuhnya jaminan sistem.
Di Bayur Kidul, delapan rumah itu akan berdiri. Dan di balik dinding-dindingnya kelak, mungkin ada rasa aman yang akhirnya singgah. Meski di luar sana, sunyi panjang para lansia lain masih menunggu untuk benar-benar didengar.

Sumber I enay
— Aziz, Kaperwil Jabar
Tidak ada komentar