BANDUNG JAWA BARAT, – AnalisaSiberNews.com – 9 Oktober 2026 — Angka produksi jagung di Provinsi Jawa Barat mengalami peningkatan yang sangat signifikan pada tahun 2025, yakni mencapai pertumbuhan 40,85%. Data ini seharusnya menjadi kabar baik bagi seluruh pihak, terutama bagi para peternak yang sangat bergantung pada jagung sebagai bahan utama pakan ternak. Namun kenyataan di lapangan berbicara lain: jagung justru terasa semakin sulit didapat dan harganya tetap tinggi di pasaran.
Fenomena ini memicu pertanyaan besar: mengapa saat produksi meningkat tajam, harga justru tidak turun dan ketersediaan tidak terjamin?
H. Saeful Bachri, S.H., M.A.P., yang akrab disapa Kak Eful, Anggota Komisi II DPRD Provinsi Jawa Barat, menyoroti kesenjangan ini secara mendalam. Menurut analisisnya, tingginya harga jagung dan pakan ternak bukan disebabkan oleh kurangnya hasil panen, melainkan adanya kelemahan mendasar pada sistem penanganan pasokan di lapangan.
“Kita belum memiliki data yang akurat dan terpadu mengenai berapa banyak jagung yang dipanen, berapa yang dibutuhkan, dan berapa yang tersimpan. Akibatnya, pergerakan barang tidak terpantau, dan celah inilah yang membuat harga tidak stabil,” jelas Kak Eful.
Selain masalah data, ada sejumlah tantangan lain yang dihadapi petani maupun peternak:
– Fasilitas pengeringan dan penyimpanan yang terbatas membuat kualitas dan daya tahan jagung menurun
– Saluran distribusi yang panjang membuat harga jual di tingkat peternak menjadi lebih mahal
– Biaya angkut antar wilayah yang masih tinggi menambah beban biaya produksi
– Program intervensi harga belum sepenuhnya menjangkau pihak yang membutuhkan
Oleh karena itu, Kak Eful mendorong Pemerintah Provinsi Jawa Barat untuk segera melaksanakan empat langkah strategis berikut:
– Pertama, menyusun neraca jagung bulanan yang akurat berbasis data produksi, kebutuhan, dan stok di seluruh daerah di Jawa Barat, sehingga kebijakan yang diambil tepat sasaran.
– Kedua, memperbaiki rantai pasok dan distribusi jagung dari petani langsung ke peternak, memangkas perantara yang tidak perlu agar harga lebih terjangkau.
– Ketiga, memastikan program bantuan dan intervensi jagung benar-benar diterima oleh peternak yang membutuhkan, dengan pengawasan yang ketat di lapangan.
– Keempat, menjaga keseimbangan harga yang adil — petani mendapatkan keuntungan yang layak, peternak mendapatkan pakan dengan harga wajar.
Kak Eful mengingatkan bahwa ketahanan pangan adalah kepentingan bersama. Jika peternak terbebani terus-menerus, mereka terpaksa mengurangi jumlah ternak. Akibatnya pasokan telur dan daging ayam di pasaran menipis, dan konsumenlah yang akhirnya menanggung kenaikan harga.
“Jangan sampai mahalnya pakan membuat peternak menyerah, dan masyarakat yang harus menanggung akibatnya. Petani sejahtera, peternak terlindungi, pangan masyarakat terjaga. Itu tujuan utama kita semua,” — pungkas Kak Eful.(**) Ajn
