SUMEDANG, JAWA BARAT — AnalisaSiberNews.com – Panjangnya musim kemarau yang melanda wilayah Jawa Barat menyebabkan permukaan air Waduk Jatigede, yang merupakan salah satu waduk terbesar di Indonesia, turun secara signifikan. Penurunan air yang drastis ini membuat sejumlah wilayah yang dulunya terendam kembali terlihat di permukaan, memunculkan kembali sisa-sisa bangunan dari puluhan desa yang resmi tenggelam sejak tahun 2015.
Berdasarkan pantauan, area yang kini kering memperlihatkan puing-puing fondasi rumah, sisa jalan, hingga makam yang tersebar di 28 desa yang berada di Kecamatan Darmaraja, Wado, Jatigede, Cisitu, dan Jatinunggal. Selama lebih dari satu dekade, wilayah tersebut terendam air akibat pembangunan waduk yang menampung ribuan hektar lahan pemukiman warga.
Fenomena ini tidak hanya menampakkan dampak nyata kekeringan yang meluas, tetapi juga membuka kembali kenangan mendalam bagi masyarakat yang dulunya bermukim di sana. Banyak warga yang mengungkapkan perasaan haru sekaligus sedih melihat kembali jejak tempat tinggal mereka yang selama ini hilang tertutup air.
“Selama ini hanya bisa dikenang dalam ingatan, kini terlihat kembali meski hanya puing-puing. Ini mengingatkan kami pada masa lalu,” ujar salah satu warga yang dulunya berdomisili di kawasan tersebut.
Penurunan permukaan air yang ekstrem ini juga memicu kekhawatiran terkait ketersediaan air bersih serta pasokan air untuk irigasi pertanian di wilayah sekitar waduk dan daerah yang bergantung pada pasokan air dari Jatigede. Pihak berwenang diharapkan segera menyusun langkah mitigasi guna mengantisipasi dampak kekeringan yang berpotensi berlanjut hingga awal musim hujan.
Hingga saat ini, belum ada keterangan resmi terkait berapa lama kondisi permukaan air yang rendah ini akan bertahan. Masyarakat berharap curah hujan segera turun guna mengembalikan ketersediaan air di waduk sekaligus menjaga keseimbangan ekosistem di wilayah tersebut.(**) Ajn
