JAKARTA, AnalisaSiberNews.com – 25 September 2026 — Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menyampaikan apresiasi mendalam atas peluncuran buku bertajuk namanya, yang ditulis secara bersama-sama oleh 27 penulis dari kalangan akademisi, praktisi, hingga aktivis. Buku ini disunting oleh Herzaky Mahendra dan Brodjonegoro, menjadi kado ulang tahun yang tak terduga sekaligus menyentuh hati bagi AHY.
Melalui unggahan di akun media sosial resminya, AHY mengaku sama sekali tidak mengetahui sejak awal bahwa penyusunan buku tersebut tengah berlangsung.
“Bagi saya, buku ini benar-benar menjadi sebuah kejutan sekaligus kado ulang tahun yang istimewa, karena sejak awal saya sama sekali tidak mengetahui bahwa penulisan buku ini tengah dipersiapkan,” ucap AHY.
Ia menyampaikan rasa syukur dan terima kasih kepada seluruh penulis serta pihak yang menggagas hingga mewujudkan karya tersebut. Di tengah banjirnya informasi di era kekinian, semangat untuk terus mencatat dan menulis dinilainya menjadi hal yang sangat berharga.
AHY juga menegaskan makna sejati kepemimpinan. Menurutnya, kepemimpinan bukan sekadar jabatan, melainkan kemampuan melahirkan perubahan nyata serta seni menerapkan nilai dan prinsip di setiap situasi yang berbeda.
“Kepemimpinan yang bermakna adalah kepemimpinan yang mampu membawa perubahan. Pada akhirnya, kepemimpinan juga merupakan sebuah seni — bagaimana nilai dan prinsip diterapkan di lapangan. Setiap konteks, ruang, dan waktu menuntut pendekatan yang berbeda,” paparnya.
Lebih lanjut, AHY menegaskan bahwa pemimpin tidak lahir begitu saja, melainkan dibentuk dan ditempa. Ia meyakini pepatah “leaders are made” — pemimpin dibentuk melalui proses, pengalaman, dan kemauan terus belajar.
“Jika ingin menjadi pemimpin yang tangguh, kompeten, dan mampu menghadirkan solusi, maka kita harus terus bergerak dan menempa diri,” tambahnya.
Pernyataan yang menyentuh terungkap ketika AHY menekankan bahwa kepemimpinan sejati bukan tentang memenangkan pemilu berikutnya, melainkan tentang memikirkan dan menyiapkan generasi penerus agar cita-cita bangsa tetap terjaga dan diteruskan.
“True leadership is not about the next election, it is about the next generation. Seorang pemimpin harus memikirkan sekaligus menyiapkan siapa yang akan melanjutkan hal-hal yang belum sempat dicapai atau dituntaskan ketika masa pengabdiannya berakhir,” tegasnya.
Di akhir pesannya, AHY menyadari bahwa dirinya masih terus berproses dan berbenah. Ia berharap apa yang tertulis dalam buku tersebut tidak berlebihan, dan berjanji akan terus berupaya mempertahankan serta memperbaiki hal-hal baik yang telah ada demi kebaikan bersama.(**) Ajn
