ANALISASIBERNEWS.COM I BOJONGSOANG,kab bandung,jabar— Menghadapi musim hujan yang diperkirakan dapat meningkatkan debit aliran air, Kordes TMI bersama para petani penggarap melaksanakan kegiatan gotong royong membersihkan Kali Cipeso di Desa Buahbatu, Kecamatan Bojongsoang, Kabupaten Bandung.


Kegiatan tersebut merupakan langkah antisipatif masyarakat, khususnya para petani, untuk menjaga kelancaran aliran air sekaligus mengurangi potensi terjadinya genangan maupun banjir yang dapat berdampak terhadap lahan pertanian dan permukiman warga.
Pembersihan dilakukan sejak dini karena masyarakat khawatir meningkatnya debit air, termasuk kemungkinan adanya air kiriman dari wilayah Kota Bandung, dapat menyebabkan Kali Cipeso tidak mampu menampung aliran air apabila kondisi saluran mengalami pendangkalan atau terdapat berbagai material yang menghambat aliran.
Bagi para petani, kondisi Kali Cipeso memiliki kaitan erat dengan keberlangsungan aktivitas pertanian. Apabila terjadi luapan air pada saat musim tanam maupun menjelang masa panen, dampaknya dapat mengganggu tanaman dan berpotensi menimbulkan kerugian bagi petani penggarap.
Namun, persoalan tersebut tidak hanya menyangkut sektor pertanian. Apabila debit air meningkat dan terjadi luapan, masyarakat yang tinggal di sekitar wilayah aliran Kali Cipeso juga berpotensi terdampak genangan, termasuk kawasan Komplek Griya Bandung Indah (GBI).
Gapoktan Laksana Tani Berharap Ada Perhatian Pemerintah
Ketua atau perwakilan Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Laksana Tani Desa Buahbatu, Kecamatan Bojongsoang, Kabupaten Bandung, berharap pemerintah daerah dan dinas terkait dapat memberikan perhatian terhadap kondisi Kali Cipeso.
Menurut Gapoktan, pemeliharaan dan pembersihan Kali Cipeso selama ini dilakukan secara swadaya oleh para petani bersama masyarakat, termasuk warga di kawasan Komplek Griya Bandung Indah.
“Selama ini pemeliharaan Kali Cipeso dilakukan secara swadaya oleh para petani dan masyarakat. Setiap menghadapi musim hujan, kami kembali melakukan pembersihan karena khawatir terjadi luapan air. Harapan kami, pemerintah dan dinas terkait dapat memberikan perhatian terhadap kondisi Kali Cipeso ini,” ujar perwakilan Gapoktan Laksana Tani.
Gapoktan menilai perhatian terhadap Kali Cipeso penting dilakukan secara berkelanjutan. Sebab, apabila terjadi banjir, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh petani yang menggarap lahan persawahan, tetapi juga dapat dirasakan masyarakat yang bermukim di sekitar kawasan tersebut.
“Kami bukan hanya memikirkan sawah. Kalau Kali Cipeso meluap, masyarakat juga bisa terkena dampaknya. Karena itu kami berharap ada penanganan dan pemeliharaan yang lebih terarah dari pemerintah dan dinas terkait,” lanjutnya.
Masyarakat berharap adanya sinergi antara pemerintah desa, pemerintah kecamatan, dinas teknis, kelompok tani, pengelola lingkungan, dan masyarakat dalam menjaga fungsi Kali Cipeso.
Penanganan secara preventif dinilai penting agar persoalan tidak baru ditangani setelah terjadi banjir. Normalisasi atau pemeliharaan saluran, pengendalian sedimentasi, pembersihan material penghambat aliran, serta pemantauan kondisi sungai secara berkala dapat menjadi bagian dari upaya mitigasi sesuai kewenangan masing-masing pihak.
Para petani juga berharap perhatian terhadap Kali Cipeso tidak hanya dilakukan ketika musim hujan telah tiba, tetapi dapat menjadi program pemeliharaan yang dilakukan secara berkala.
Dengan adanya kepedulian dan sinergi seluruh pihak, diharapkan Kali Cipeso tetap berfungsi dengan baik sehingga dapat mendukung keberlangsungan pertanian sekaligus memberikan perlindungan bagi masyarakat sekitar dari potensi dampak genangan dan banjir.
Petani menjaga sawah, masyarakat menjaga lingkungan, dan pemerintah diharapkan hadir memberikan dukungan serta penanganan sesuai kewenangannya.
Sumber I Budiman (TMI)
