Nganjuk, AnalisaSiberNews.com – Tanggal 18 Juni 2026 bukan tanggal biasa untuk kru Media INDOTIVI. Di sebuah pendopo sederhana Desa Bukur, Kecamatan Patianrowo, Kabupaten Nganjuk, mereka meniup “lilin pertama”. Bukan lilin ulang tahun biasa, tapi simbol setahun perjuangan media lokal menjaga kewarasan informasi publik.
Tasyakuran Dies Natalis ke-1 INDOTIVI mengusung tema “Berupaya Turut Berperan dalam Mencerdaskan Bangsa”. Tanpa panggung megah, tanpa selebrasi berlebihan. Hanya doa, tumpeng, dan janji yang diperbarui: tetap setia pada fakta.
Satu tahun lalu, INDOTIVI lahir dari keresahan sederhana: banjir informasi tapi miskin kebenaran. Kini, media yang berpusat di Nganjuk ini sudah punya jejak liputan dari desa sampai isu lintas daerah.
Pimpinan Redaksi Chandra tak menutup mata soal beratnya medan. “Kami sadar, melawan hoaks itu kayak melawan arus. Tapi kalau bukan kami yang mulai cek dan ricek, siapa lagi? Setahun ini kami belajar bahwa kecepatan tanpa akurasi itu racun. Jadi kami pilih pelan tapi pasti,” ujarnya di depan tamu undangan.
Hadir dalam acara: Kades Bukur Yayah, Kapolsek Patianrowo, Danramil Patianrowo, serta wartawan dari Nganjuk, Jombang, dan Kediri. Kehadiran mereka bukan cuma seremoni. Ini bentuk pengakuan bahwa media lokal punya tempat di meja demokrasi.
Kades Bukur Yayah dalam sambutannya menyebut INDOTIVI sebagai “jembatan yang jujur”. “Warga desa sekarang lebih melek berita karena ada media yang mau turun ke lapangan. Kami di pemerintah desa butuh kritik yang membangun. INDOTIVI kasih itu. Selamat 1 tahun, teruslah jadi mitra, bukan musuh,” ucapnya.
Sementara Kapolsek dan Danramil Patianrowo menekankan pentingnya kolaborasi. “Isu Kamtibmas, bencana, atau program pemerintah akan lebih cepat sampai kalau medianya kredibel. Kami di garda depan keamanan, INDOTIVI di garda depan informasi. Sinergi ini yang bikin Patianrowo aman,” tegas mereka.
Rekan media dari luar kota juga ikut memberi selamat. Bagi mereka, INDOTIVI adalah bukti media daerah bisa naik kelas: independen, berani investigasi, tapi tetap etis.
Puncak acara pemotongan tumpeng oleh Chandra bersama Kades Yayah. Filosofinya dalam – tumpeng kerucut ke atas artinya cita-cita INDOTIVI harus terus naik: kualitas liputan, jangkauan pembaca, dan kepercayaan publik.
Setelah doa bersama dipimpin tokoh agama, suasana berubah hangat. Hiburan electone dari musisi Nganjuk mengiringi obrolan santai antar wartawan, aparat, dan warga. Di sela musik, banyak cerita dibagikan: liputan tengah malam, dikejar deadline, sampai susahnya meyakinkan narasumber untuk bicara data, bukan asumsi.
Dengan slogan “Kabar Fakta, Akurat, Terinvestigasi”, INDOTIVI menutup tahun pertama dengan rapor hijau. Tapi tim redaksi sadar, tahun kedua justru lebih menantang. Tantangannya: konten AI, berita instan, dan berkurangnya literasi baca.
“PR kami ke depan bikin berita yang bukan cuma dibaca, tapi dipahami. Kami akan lebih banyak turun ke desa, lebih banyak data, lebih banyak konteks. Karena mencerdaskan bangsa itu kerja panjang, bukan sprint 100 meter,” tutup Chandra.
Dari pendopo Desa Bukur, 18 Juni 2026 menandai akhir bab 1 dan awal bab 2. INDOTIVI genap 1 tahun. Masih muda, tapi sudah berani bersumpah setia pada fakta. Dan itu, di zaman sekarang, adalah bentuk perlawanan paling elegan.
Penulis : Ern
Editor : Redaksi
