x
Hotline News

ITB Siap Jadi Fasilitator Percepat Penanganan Sampah di Kawasan Tamansari

waktu baca 3 menit
Kamis, 14 Mei 2026 01:32 21 Aziz Redaksi Jabar

BANDUNG,AnalisaSiberNews.com – Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung bersama Institut Teknologi Bandung (ITB) memperkuat kolaborasi dalam penanganan sampah melalui monitoring dan pengecekan kondisi persampahan di kawasan bawah Jalan Layang Pasopati, Kecamatan Tamansari, Rabu (13/5/2026).

Kegiatan tersebut dihadiri Sekretaris Daerah Kota Bandung, Iskandar Zulkarnain, yang mendampingi Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Barat, Herman Suryatman. Turut hadir jajaran Kecamatan Tamansari, para lurah dan pengurus RW, Dinas Lingkungan Hidup, penyuluh sampah, serta akademisi dan praktisi dari ITB.

Wakil Rektor ITB, Agus Jatnika, menyatakan kesiapan kampusnya untuk menjadi fasilitator agar penanganan sampah di Kota Bandung tidak lagi berhenti pada tataran wacana, melainkan segera diwujudkan melalui langkah-langkah konkret.

“Kalau wacana rasanya sudah puluhan tahun kita bicarakan. Sekarang tinggal bagaimana eksekusi. ITB diberi amanat menjadi fasilitator agar penanganan sampah ini bisa segera berjalan,” ujar Agus.

Menurutnya, berbagai inovasi pengolahan sampah yang dikembangkan ITB telah siap diterapkan di masyarakat, mulai dari pemanfaatan styrofoam menjadi produk baru, pengolahan plastik menjadi brick block, hingga teknologi pengolahan sampah organik dan sistem ekonomi sirkular berbasis komunitas.

Dosen Sekolah Bisnis dan Manajemen (SBM) ITB, Melia Famiola, menilai tantangan utama saat ini bukan lagi pada teknologi, melainkan pada perubahan pola pikir masyarakat agar sampah dipandang sebagai sumber daya yang memiliki nilai ekonomi.

“Selama ini sampah masih dianggap masalah sosial dan kerja voluntarisme. Padahal sampah bisa menjadi raw material dan membuka ekonomi baru,” kata Melia.

Ia menjelaskan, ITB tengah mendorong konsep circular activator, yakni penggerak ekonomi sirkular berbasis komunitas dan startup. Konsep ini terinspirasi dari praktik pengembangan ekonomi sirkular di Melbourne, Australia, yang melibatkan perguruan tinggi dan masyarakat secara langsung.

Menurut Melia, pengelolaan sampah harus dilakukan dalam dua tahap. Pertama, menyelesaikan persoalan jangka pendek berupa penumpukan sampah. Kedua, membangun sistem ekonomi sirkular yang berkelanjutan.

“Sampah jangan lagi dilihat sebagai beban pemerintah semata, tetapi sebagai peluang ekonomi baru yang melibatkan masyarakat,” ujarnya.

Sementara itu, Sekda Kota Bandung, Iskandar Zulkarnain, mengungkapkan bahwa Kota Bandung menghadapi tekanan besar dalam pengelolaan sampah. Produksi sampah harian mencapai sekitar 1.600 hingga 1.700 ton, sedangkan pengiriman ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sarimukti dibatasi hanya sekitar 980 ton per hari.

“Kebayang sisanya mau dikemanakan. Itu menjadi tantangan besar bagi kami,” ujar Iskandar.

Menurutnya, Pemkot Bandung telah melakukan berbagai upaya, seperti penyediaan insinerator, RDF (Refuse Derived Fuel), program Gaslah, komposter, hingga penguatan rekayasa sosial di tingkat kewilayahan. Namun, tantangan terbesar tetap terletak pada pengolahan akhir sampah setelah proses pemilahan.

Ia juga mengapresiasi peran aktif masyarakat di tingkat kecamatan, kelurahan, dan RW yang mulai menjalankan program pengolahan sampah mandiri, termasuk pembuatan compost pit dan urban farming melalui konsep “Karasa” dan “Buruan SAE”.

“Masalahnya sampah tidak bisa menunggu. Sampah terus datang setiap hari. Jadi kita harus bergerak lebih cepat,” tegasnya.

Dalam forum tersebut, para akademisi ITB menekankan pentingnya penguatan social engineering dan perubahan perilaku masyarakat. Salah satu usulan yang mencuat adalah pembangunan platform komunikasi atau aplikasi bersama antar-pengelola sampah se-Kota Bandung, sehingga praktik-praktik baik dari suatu wilayah dapat direplikasi di wilayah lain.

Selain itu, kawasan bawah Pasopati didorong untuk ditata menjadi etalase pengelolaan sampah modern berbasis komunitas, bukan lagi sekadar “ruang belakang” kota.

Salah satu inovasi menarik dipaparkan Adlinus dari FMIPA ITB yang mengembangkan konsep peternakan ayam dan budidaya maggot berbasis sampah organik di kawasan Pasirlayung.

Melalui sistem “apartemen ayam dan maggot”, sampah organik diolah menjadi pakan maggot, maggot dimanfaatkan sebagai pakan ayam, sementara hasil telur dibagikan kepada warga. Sistem ini dinilai mampu mengurangi volume sampah organik secara signifikan sekaligus memberikan manfaat ekonomi.

“Dari sampah menjadi gizi. Jadi ada ekonomi yang berputar di masyarakat,” ujar Adlinus.

Model tersebut mendapat perhatian dari Pemkot Bandung dan dinilai berpotensi direplikasi di wilayah lain, termasuk Tamansari yang memiliki keterbatasan lahan.

Sumber
Diskominfo kota bandung

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Hotline News

LAINNYA
x