x
Hotline News

Dua Nama, Satu Takdir Sementara: Ketika Demokrasi Desa Gunungleutik Berhenti di Angka 27

waktu baca 2 menit
Minggu, 7 Jun 2026 13:24 57 Aziz Redaksi Jabar

ANALISASIBERNEWS.COM

CIPARAY, BANDUNG – Demokrasi terkadang memiliki cara unik untuk menguji kesabaran. Di Desa Gunungleutik, Kecamatan Ciparay, Minggu (7/6/2026), kotak suara telah dibuka, surat suara telah dihitung, dan harapan para calon telah ditumpahkan dalam bilik pemungutan. Namun ketika semua angka selesai dijumlahkan, demokrasi justru menghadirkan sebuah ironi: dua orang berdiri di puncak yang sama.

Sansan Tarsana memperoleh 27 suara, sementara Iwan Kusmawan juga meraih 27 suara. Di antara keduanya, Yanto Riyanto mengumpulkan 19 suara. Total 73 suara sah tercatat tanpa satu pun suara tidak sah.

Seolah-olah masyarakat berkata dengan suara yang sama kerasnya kepada dua calon sekaligus: “Kami memilih kalian.” Namun aturan mengingatkan bahwa satu kursi tidak dapat ditempati oleh dua nama dalam waktu yang sama.

Proses pleno berlangsung terbuka dan disaksikan oleh Kepala Desa Agus, Sekretaris Desa Hamdani, S.Ip, panitia, serta masyarakat. Dari sisi administrasi, pemilihan berjalan tertib dan kondusif. Tidak adanya suara tidak sah menjadi cerminan bahwa masyarakat memahami tata cara pemungutan suara dan panitia mampu menjalankan tugasnya dengan baik.

Namun, di balik kelancaran itu, angka 27 menjadi simbol yang memunculkan babak baru. Kemenangan belum sepenuhnya menjadi milik siapa pun, karena keduanya berdiri sejajar di garis akhir.

Dalam mekanisme yang berlaku, hasil suara sama kuat memerlukan penyelesaian melalui tahapan lanjutan sesuai ketentuan yang mengatur pemilihan anggota BPD. Proses tersebut dapat berupa musyawarah sesuai aturan yang berlaku, dan apabila tidak menghasilkan kesepakatan maka mekanisme lanjutan akan ditempuh berdasarkan ketentuan yang ditetapkan.

Ironinya, seluruh proses demokrasi yang panjang akhirnya menyisakan satu pertanyaan sederhana: ketika rakyat berbicara dengan dua suara yang sama kuat, siapakah yang sebenarnya dipilih oleh demokrasi?

Yang pasti, Desa Gunungleutik telah menunjukkan bahwa demokrasi bukan sekadar tentang siapa yang menang, tetapi juga tentang bagaimana aturan menjaga keadilan ketika kemenangan datang dengan angka yang sama.

Kaperwil jabar
Saepulloh
Reporter
Redaksi – AnalisaSiberNews.com

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA
x
x