
AnalisasiberNews.Com
TANGGAMUS, LAMPUNG – Masyarakat di Kabupaten Tanggamus mengeluhkan tingginya harga bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertalite yang dijual di sejumlah kios eceran. Berdasarkan keterangan sejumlah warga, harga Pertalite eceran diduga telah mencapai Rp15.000 per liter, sehingga semakin membebani ekonomi masyarakat, khususnya petani dan nelayan.
Sejumlah warga mengaku terpaksa membeli Pertalite di kios eceran karena ketersediaan BBM di SPBU diduga kerap terbatas atau harus mengantre dalam waktu lama. Kondisi tersebut membuat masyarakat tidak memiliki banyak pilihan selain membeli BBM dengan harga yang jauh di atas Harga Eceran Tertinggi (HET).
Menurut warga, situasi ini diduga dimanfaatkan oleh sebagian pedagang eceran untuk mengambil keuntungan lebih besar dari penjualan BBM.
“Kalau di SPBU sering kosong atau antreannya panjang, kami terpaksa beli di kios. Harganya sudah sampai Rp15 ribu per liter. Kami sebagai petani sangat keberatan karena biaya operasional semakin tinggi,” ujar salah seorang warga yang meminta identitasnya dirahasiakan.
Selain mengeluhkan mahalnya harga BBM eceran, sumber tersebut juga menyampaikan adanya dugaan praktik penyalahgunaan distribusi BBM bersubsidi di salah satu SPBU di Kecamatan Talang Padang.
Menurut sumber, diduga terdapat aktivitas pengisian BBM menggunakan jeriken maupun tangki kendaraan yang telah dimodifikasi secara berulang di SPBU 24.353.98 yang berada di Jalan Raya Talang Padang, Tanjung Heran. Aktivitas tersebut, menurut sumber, telah berlangsung cukup lama.
Sumber juga menduga praktik tersebut dilakukan oleh oknum tertentu dan diduga berlangsung tanpa penindakan yang tegas. Namun demikian, informasi tersebut masih berupa keterangan dari narasumber dan belum dapat dipastikan kebenarannya.
“Di tengah kelangkaan BBM subsidi maupun non-subsidi, kami berharap aparat dan instansi terkait segera turun tangan. Jangan sampai masyarakat terus dirugikan,” kata sumber.
Tingginya harga Pertalite eceran dinilai berdampak langsung terhadap meningkatnya biaya produksi pertanian dan aktivitas nelayan. Kenaikan harga BBM berimbas pada biaya transportasi hasil panen, operasional alat pertanian, hingga aktivitas ekonomi masyarakat sehari-hari.
Masyarakat pun mendesak Pemerintah Kabupaten Tanggamus, dinas terkait, serta aparat pengawas agar segera melakukan inspeksi mendadak (sidak) guna mengetahui penyebab tingginya harga BBM eceran sekaligus memastikan distribusi BBM subsidi berjalan sesuai ketentuan.
Warga juga mempertanyakan efektivitas pengawasan terhadap distribusi BBM, mengingat persoalan tersebut disebut telah berlangsung cukup lama tanpa adanya penyelesaian yang dirasakan masyarakat.
“Kami berharap pemerintah tidak hanya menerima laporan di atas meja. Turun langsung ke lapangan dan lihat kondisi masyarakat. Jangan sampai petani dan nelayan terus menjadi korban akibat lemahnya pengawasan,” ujar warga lainnya.
Hingga berita ini diterbitkan, pihak media masih berupaya melakukan konfirmasi kepada pengelola SPBU 24.353.98, PT Pertamina Patra Niaga, Pemerintah Kabupaten Tanggamus, instansi terkait, serta aparat penegak hukum guna memperoleh penjelasan dan tanggapan atas berbagai informasi yang disampaikan masyarakat.
(TOMI)
Catatan Redaksi
Berita ini disusun berdasarkan keterangan narasumber dan informasi yang diperoleh di lapangan. Seluruh dugaan yang disampaikan dalam pemberitaan ini belum merupakan fakta hukum yang berkekuatan tetap dan masih memerlukan pembuktian serta klarifikasi dari pihak-pihak terkait.
Redaksi memberikan ruang Hak Jawab dan Hak Koreksi kepada seluruh pihak yang disebut atau merasa dirugikan sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers, khususnya Pasal 1 angka 11, Pasal 5 ayat (2) dan ayat (3), serta berpedoman pada Kode Etik Jurnalistik.







