
EKSKUTIF
ANALISASIBERNEWS.COM
BANDUNG,JAWA BARAT
{Paragraf 1: Pembuka Puitis}
Bandung bukan sekadar kota.Bandung adalah rasa.gotong royong di masyarakat,rasa debat sengit di cafe Dago, rasa ” dilihat asah” di setiap sudutnya . Memimpin Bandung berarti memimpin rasa itu! .Dan rasa paling dasar bernama *respon*”.
Saat seorang pemimpin memilih diam, sejatinya ia sedang meruntuhkan jembatan trust kepercayaan, bata demi bata.
{ Paragraf 2: Tesis Tajam }
Kami, pengamat kebijakan publik, mencatat : kurangnya respon Wali Kota Bandung terhadap suara publik bukan sekadar soal komunikasi.
Ini soal ” adab” .Dalam khasanah Sunda” pemimpin disebut *pamomong* – yang *mengemong*.Mengemong dimulai dengan mendengar lalu menjawab.Diam bukan emas di Bandung.Diam adalah utang.Dan utang itu, jika menumpuk ,akan ditagih oleh sejarah.
{Paragraf 3: Argumentasi+ Evidence Hukum}
Undang – Undang ASN No.20/2023 memerintahkan pejabat publik bersikap profesional dan responsif.
Itu bukan hiasan .Itu perintah *negara*.KDM sebagai Gubernur sudah berulang kali memberi teguran “pelajaran” – bukan untuk mempermalukan, tapi untuk mengingatkan: kekuasaan tanpa komunikasi adalah *rumah tanpa pintu*.Rakyat masuk lewat jendela , yaitu kemarahan dan ” Modi tidak percaya’.
{ Paragraf 4: Warning Elegan}
Lima tahun masa jabatan adalah maraton .Hebat di garis start tanpa stamina komunikasi, maka ” *parapose*” di kilometer 30 sudah menunggu.
Mosi tidak percaya” secara hukum tak bisa menjatuhkan Walikota haribini. Tapi secara politik ,ia bisa melumpuhkan Walikota selama lima tahun .Kursi tetap ada, tapi wibawa telah pergi.
{ Paragraf 5: Penutup Solutif & Mewah}
Wali Kota Bandung tidak menuntut kesempurnaan.Bandung hanya meminta kehadiran.
Hadir lewat kata,hadir lewat aksi, hadir lewat respon.Kembalikan adab itu. Karena kota ini akan mengingat bukan seberapa megah program Anda , tapi seberapa tulus Anda menjawab sapaan rakyatnya.Jangan sampai Bandung harus belajar” berduka” atas kepemimpinanya sendiri.
Dari apa yang kami tulis ini, semata sangat mencintai pemimpin, jika hilaf kami yang megigatkanya .Bandung butuh pimpinan yang peduli masyarakat dan merasakan hati nurani rakyatnya.
Jika kita melihat kebelakang mantan Walikota 2 Periode Dada Rosada, begitu memahami harapan dan keinginan Rakyat Bandung, dan tidak memilah memilih kasta, semua disamaratakan.
Wajar jika beliau sampai saat ini masih di kenang masyarakatnya .
Semoga saja Walikota Bandung, dengan sisa waktu hitungan politik 2 tahun kedepan, apakah akan mendengar keluh kesah suara masyarakat?
Atau Paradoks?
Mati kita lihat ke depan apa yang akan terjadi sesungguhnya.
Pengamat Kebijakan Publik dan Politik
Dewan penasehat media Analisasiber
Konsultan publik hukum & Politik.
R. WEMPY SYAMKARYA,S.H.M.H.





