x
Hotline News

DARI SETETES DARAH MENJADI WARISAN KEMANUSIAAN

waktu baca 5 menit
Minggu, 7 Jun 2026 07:34 15 Kaperwil Banten

Milad Ke-6 KSSD dan Santunan Anak Yatim, Jejak Pengabdian Almarhum Ais Palet Terus Hidup Melalui Maya Umya dan Generasi Penerus

LEBAK,|Analisasibernews.com— Di tengah canda tawa anak-anak yatim yang menerima santunan dan hangatnya kebersamaan para relawan, Komunitas Salam Setetes Darah (KSSD) memperingati Milad Ke-6 yang dirangkaikan dengan Santunan Anak Yatim Piatu di Cafe Cikuda Lake, Pasir Ona, Rangkasbitung Timur, Sabtu (6/6/2026).

Namun bagi keluarga besar KSSD, peringatan ini bukan sekadar perayaan bertambahnya usia organisasi. Milad Ke-6 menjadi momentum untuk mengenang, melanjutkan, dan merawat warisan kemanusiaan yang telah ditanamkan oleh sosok pendirinya, Almarhum Ais Palet.

Kisah para pegiat sosial selalu menjadi bagian penting dalam perjalanan kemanusiaan. Mereka hadir tanpa banyak sorotan, memberi tanpa meminta balasan, dan mengajarkan bahwa kepedulian adalah bahasa universal yang mampu menyatukan banyak perbedaan.

Almarhum Ais Palet adalah salah satu di antaranya.

Pria asal Kabupaten Lebak itu dikenal sebagai sosok yang tak pernah lelah mengabdikan dirinya untuk membantu sesama. Bagi masyarakat yang pernah mengenalnya, Ais Palet bukan hanya seorang relawan, melainkan sahabat bagi mereka yang sedang menghadapi kesulitan.

Atas nama kemanusiaan, ia bersama para relawan KSSD berjuang mengumpulkan setetes demi setetes darah untuk membantu pasien yang membutuhkan transfusi darah. Tidak sedikit di antara mereka adalah orang-orang yang bahkan belum pernah ia kenal sebelumnya.

Namun perjalanan menuju lahirnya KSSD tidak dimulai dari sebuah rencana besar.

Semua berawal sekitar delapan tahun silam ketika Almarhum bergabung dengan sebuah komunitas motor di Banten yang rutin menggelar kegiatan bakti sosial.

Dari kegiatan sederhana itulah benih kepedulian mulai tumbuh.

«”Waktu itu setiap tahun ada bakti sosial, seperti kepedulian anak yatim, jompo, pondok pesantren, sarana ibadah, dan korban bencana. Nah, di situ komunitas motor belajar dan gabung dengan relawan-relawan yang ada di Banten,” kenangnya semasa hidup.»

Sejak saat itu, berbagai kegiatan sosial mulai ia ikuti. Dari kegiatan kesehatan, santunan sosial, hingga aksi kemanusiaan saat bencana alam melanda berbagai wilayah.

Namun sebuah peristiwa yang terjadi di tengah pandemi Covid-19 kemudian mengubah jalan hidupnya.

Ketika sang istri melahirkan, Almarhum mengalami kesulitan mendapatkan donor darah. Saat itu stok darah sangat terbatas dan keluarga pasien harus mencari pendonor sendiri.

«”Setelah isteri melahirkan, susah mendapatkan darah karena kondisi pandemi Covid-19. Stok darah di PMI waktu itu kosong, ditambah SOP PMI mewajibkan keluarga pasien membawa pendonor,” tuturnya.»

Pengalaman tersebut meninggalkan kesan mendalam dalam hidupnya.

Ia tidak ingin ada keluarga lain yang merasakan kepanikan dan kesulitan yang sama. Dari situlah lahir gagasan membentuk jaringan relawan donor darah yang kemudian berkembang menjadi Komunitas Salam Setetes Darah (KSSD).

Seiring waktu, KSSD tumbuh menjadi gerakan kemanusiaan yang aktif membantu masyarakat melalui donor darah, santunan anak yatim, bantuan kepada kaum lanjut usia, dukungan bagi pondok pesantren, bantuan sarana ibadah, hingga aksi tanggap bencana.

Namun di antara berbagai kisah yang pernah ia alami, ada satu peristiwa yang selalu membekas di hatinya.

Peristiwa itu adalah ketika ia menerima kabar meninggalnya dua balita kembar penderita talasemia yang belum sempat mendapatkan transfusi darah.

«”Jangan sampai terulang seperti tahun kemarin. Ada anak bayi kembar Dana dan Dani yang mengidap talasemia tidak tertolong. Kami mendapat informasi setelah keduanya meninggal dunia,” tuturnya penuh haru.»

Peristiwa tersebut menjadi pengingat bahwa setiap detik sangat berharga bagi mereka yang sedang berjuang mempertahankan hidup.

Bukan hanya persoalan ketersediaan darah, tetapi juga keterbatasan ekonomi yang sering menjadi hambatan bagi masyarakat untuk memperoleh layanan kesehatan yang dibutuhkan.

Kisah itu pula yang semakin menguatkan tekad Almarhum untuk terus bergerak membantu sesama.

Yang membuat perjuangan tersebut semakin istimewa adalah karena selama ini KSSD tidak pernah bergantung pada sumber pendanaan besar.

Banyak kegiatan kemanusiaan dilakukan melalui semangat gotong royong, donasi sukarela, dan kolaborasi para relawan yang memiliki kepedulian yang sama.

Ketika terjadi bencana, para relawan turun ke jalan membuka donasi. Ketika ada anak yatim yang membutuhkan bantuan, mereka bergandengan tangan mengumpulkan dukungan dari masyarakat.

Bagi Almarhum Ais Palet, membantu sesama bukan soal seberapa banyak yang dimiliki, melainkan seberapa besar kepedulian yang diberikan.

Kini, meskipun sang pendiri telah berpulang, semangat pengabdian itu tetap hidup.

Tongkat estafet perjuangan diteruskan oleh sang istri, Maya Umya, yang kini memimpin KSSD sebagai Ketua Umum KSSD Banten, bersama putranya Aditya dan seluruh keluarga besar KSSD.

Di bawah kepemimpinan Maya Umya, KSSD terus berkembang menjadi rumah bagi para relawan kemanusiaan yang memiliki semangat yang sama seperti yang pernah dicita-citakan Almarhum.

«”KSSD lahir dari sebuah perjuangan dan pengalaman yang tidak akan pernah kami lupakan. Almarhum mendirikan komunitas ini karena ingin membantu masyarakat yang mengalami kesulitan mendapatkan donor darah seperti yang pernah kami alami. Insya Allah amanah ini akan terus kami jaga dan kami lanjutkan bersama seluruh keluarga besar KSSD,” ujar Maya Umya.»

Menurutnya, KSSD bukan hanya sebuah komunitas donor darah, melainkan sebuah amanah kemanusiaan yang harus terus dirawat dan dijaga.

«”Bagi kami, KSSD adalah warisan kemanusiaan. Selama masih ada masyarakat yang membutuhkan bantuan, selama masih ada relawan yang peduli, KSSD akan terus hadir dan terus bergerak,” tegasnya.»

Memasuki usia yang ke-6 tahun, KSSD tidak hanya merayakan perjalanan organisasi. KSSD merayakan ribuan kisah kemanusiaan yang telah lahir dari semangat gotong royong para relawan, para pendonor, dan seluruh pihak yang selama ini menjadi bagian dari keluarga besar KSSD.

Milad Ke-6 dan Santunan Anak Yatim Piatu tahun ini menjadi bukti bahwa nilai-nilai kemanusiaan yang ditanamkan Almarhum Ais Palet tetap hidup dan terus berkembang.

Enam tahun lalu, KSSD lahir dari kegelisahan seorang suami yang berjuang mencari donor darah untuk keluarganya. Hari ini, kegelisahan itu telah menjelma menjadi harapan bagi banyak orang.

Sebuah bukti bahwa kebaikan yang dilakukan dengan tulus tidak pernah benar-benar berakhir. Ia akan terus hidup, tumbuh, dan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

“Raganya telah berpulang, namun semangatnya tetap mengalir dalam setiap tetes darah yang didonorkan, setiap bantuan yang disalurkan, dan setiap senyum yang berhasil dihadirkan untuk mereka yang membutuhkan.”

 

(Red/Tim)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA
x
x